This blog contains materials for Sunday School Sermon. The sermon materials are written in Indonesian, but I hope the activities and visual images contained in it can be used by anyone with any language, please feel free to use it

Saturday, May 12, 2018

Tuhan Memperhatikan (Matius 15:29-39)

Bahan Ajar Sekolah Minggu 13 Mei 2018
Tema : “Tuhan Memperhatikan” (Matius 15:29-39)
Tujuan :
- Anak-anak tahu bahwa Tuhan memperhatikan setiap orang yang setia kepadaNya
- Anak-anak tahu bahwa ada banyak berkat Tuhan dalam hidup ini yang tidak kita sadari
 - Anak-anak mau bersyukur atas semua berkat Tuhan termasuk berkat yang tidak mereka sadari / minta

Pokok Renungan

Cerita Tuhan Yesus memberi makan 5000 orang yang sudah diceritakan sebelumnya adalah peristiwa yang berbeda dari cerita Tuhan Yesus memberi makan 4000 orang. Cerita kali ini terjadi setelah Tuhan Yesus kembali dari daerah Tirus dan Sidon.
Saat itu, Tuhan Yesus sedang melayani orang banyak yang datang berbondong-bondong membawa orang-orang yang sakit untuk disembuhkan oleh Tuhan Yesus, mereka dengan penuh iman dan pengharapan menantikan jamahan Tuhan Yesus atas diri mereka sakit agar menjadi sembuh.
Setelah tiga hari mereka berbondong-bondong datang kepada Tuhan Yesus dan setia menunggu pertolongan darinya, mungkin apa yang menjadi bekal makanan yang mereka sediakan dari rumah mereka masing-masing sudah habis, dan mereka mungkin tidak tahu lagi harus makan apa tetapi mereka memilih untuk menunggu jamahan Tuhan.  Melihat hal itu, dari bacaan kita bahwa Tuhan Yesus begitu peduli kepada orang banyak ini, hatiNya tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak itu, walaupun mereka tidak meminta makan kepada Tuhan Yesus tapi Ia tahu yang dibutuhkan oleh orang banyak saat itu adalah makanan, karena itu Ia memanggil murid-murid untuk menyampaikan maksud hatiNya memberi makan orang banyak itu.
Walaupun belum terlalalu lama berselang dari kejadian Tuhan Yesus memberi makan 5000 orang, namun murid-murid masih belum percaya dan mengandalkan Tuhan Yesus, ini terlihat dari jawaban / pertanyaan mereka kepada Tuhan Yesus, bahwa tidak mungkin mendapatkan makanan untuk orang sebanyak itu di tempat itu. Padahal jika kita melihat kejadian sebelumnya, yaitu saat Tuhan Yesus berada di daerah Tirus dan Sidon, ada seorang perempuan Kanaan yang begitu beriman kepada Tuhan Yesus sehingga anaknya disembuhkan, dan hal itu disaksikan juga oleh murid-murid, tetapi itu belum membuat mereka cukup beriman untuk menyerahkan segala persoalan mereka kepada Tuhan Yesus.
Dan sekali lagi Tuhan Yesus menunjukkan kepada mereka apa yang bisa dilakukanNya. Persis seperti mujizat 5 roti dan 2 ikan, kali ini juga Tuhan Yesus menyuruh orang banyak untuk duduk di tanah agar dapat dibagikan makanan secara teratur.
Dengan 7 potong roti dan beberapa ikan kecil, Tuhan Yesus memberi makan 4000 orang laki-laki ditambah beberapa ribu orang perempuan dan anak-anak, yang kemudian menyisakan 7 bakul sisa potongan roti.
Dari cerita ini kita dapat belajar dan juga ajarkan kepada anak-anak tentang perhatian Tuhan Yesus yang begitu besar kepada manusia. Tuhan Yesus tahu bahwa orang-orang itu datang kepadaNya untuk mendapatkan kesembuhan, tapi Ia tahu juga bahwa tubuh mereka butuh hal yang lain. Orang banyak itu sangat setia menantikan pertolongan dari Tuhan tetapi mereka mungkin lupa atau tidak memperhitungkan kalau mereka juga butuh makan untuk kekuatan tubuh mereka. Tuhan memperhatikan bukan hanya apa yang diminta oleh mereka tetapi lebih dari itu apa yang dibutuhkan mereka walaupun tidak mereka minta.
Demikian juga setiap orang percaya yang mau setia dan berharap hanya kepada Tuhan, Ia punya berbagai cara untuk memenuhi apa yang kita inginkan tetapi lebih dari itu, Tuhan juga memenuhi apa yang menjadi kebutuhan kita, bahkan yang tidak kita pikirkan.
Ada banyak harapan dan keinginan yang kita juga anak-anak ucapkan dalam doa-doa kita, untuk itu tetaplah setia menantikan jawaban dari Tuhan, tetapi cobalah kita perhatikan juga ada banyak hal yang tidak pernah kita minta tetapi Tuhan penuhi melalui berkat-berkat baik secara langsung maupun tidak langsung melalui orang tua, saudara maupun teman, dan sepatutnya kita mengucap syukur untuk hal-hal tersebut karena kita percaya Tuhan memang setia memperhatikan kita dalam segala keadaan.


Alat Peraga

Gambar Peraga

Aktivitas

Mewarnai

Menempel


Teka-teki Silang

Ayat Hafalan

Matius 10:29-31
Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu.Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung semuanya.Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.

Saturday, April 7, 2018

Berbahagia orang yang mengandalkan Tuhan (Lukas 6:20-26)

Bahan Ajar Sekolah Minggu 08 April 2018
Tema : “Berbahagia orang yang mengandalkan Tuhan” (Lukas 6:20-26)
Tujuan :
- Anak-anak mengerti bahwa Tuhan mau menolong orang-orang yang bersandar padaNya
- Anak-anak mau selalu bersandar dan mengandalkan kekuatan dari Tuhan

Pokok Renungan

Cerita hari ini tentang khotbah Tuhan Yesus di bukit yang sangat terkenal, sebenarnya apa yang dituliskan dalam bacaan ini sama dengan yang dituliskan dalam Matius 5-7 tetapi penulis Injil Lukas tidak menuliskan pokok-pokok ajaran selengkap yang ditulis dalam Matius, Lukas lebih menekanakan kepada ucapan bahagia yang tidak berciri Yahudi.
Ucapan bahagia ini disampaikan bukan kepada 12 orang murid (rasul) saja tetapi kepada banyak orang yang mengikuti Tuhan Yesus pada saat itu (bd Luk. 6:17), murid adalah mereka semua yang memandang Tuhan Yesus sebagai guru, dan dimaksudkan kepada mereka yang memilih untuk mengikut Dia.
Ada 4 pokok penting dalam ucapan bahagia dan peringatan dalam bacaan ini:
Yang pertama tentang mereka yang miskin (ay. 20), yaitu bagi mereka yang mau melepaskan segala sesuatu bahkan harta bendanya untuk mengikuti Tuhan Yesus, murid-muridnya melakukannya, mereka meninggalkan pekerjaan dan kenyamanan hidup mereka untuk mengikuti Tuhan Yesus. Kekayaan dunia tidak menjadi milik mereka tetapi Tuhan Yesus menjanjikan kekayaan surga yang melebihi kekayaan duniawi, mereka yang empunya kerajaan surga. Berlawanan dengan itu Tuhan Yesus memnyampaikan peringatan bahwa celakalah mereka yang kaya, yang dimaksudkan ialah mereka yang memuasakan dirinya dengan kekayaannya, dan tidak memperhatikan sesama juga tidak memuliakan Tuhan dengan kekayaannya. Sebab mereka telah mendapatkan kepuasan dalam dunia ini. Karena mereka juga hanya mengandalkan kekayaan sehingga mengabaikan pertolongan dari Tuhan, kekayaan membuat mereka tidak beriman kepada Tuhan.
Yang kedua kepada mereka yang lapar (ay. 21), yaitu kepada mereka yang berkekurangan dan membutuhkan pertolongan dari Tuhan, dalam kekurangannya mereka hanya bersandar kepada Tuhan, karena itu mereka akan dipuaskan oleh Tuhan, demikian juga kepada mereka yang selalu lapar dan haus akan kebenaran Firman Tuhan, mereka akan dipuaskan oleh Tuhan. Sebaliknya kepada mereka yang kenyang (ay. 25) dan terpuaskan keinginannya, karena mereka tidak lagi membutuhkan pertologan dari Tuhan, mereka tidak merasa perlu meminta kepada Tuhan, karenanya mereka tidak akan mendapatkan apapun dari Tuhan.
Yang ketiga kepada mereka yang menangis dan berduka (ay. 21), yaitu mereka yang bersedih karena ketidakadilan, karena penindasan, karena kedukaan dan tidak mengandalkan kekuatan sendiri untuk melawan semua itu melainkan berseru dan berserah hanya kepada Tuhan. Juga mereka yang menangis dan menyesal karena sadar akan kesalahan dan dosa mereka. Mereka akan dihiburkan sehingga pada saatnya mereka akan bersukacita karena penghiburan dari Tuhan. Sebaliknya peringatan ditujukan kepada mereka yang tertawa (ay. 25) dan bersukacita karena tercapainya ambisi dan keinginan mereka, mereka yang tertawa karena terpuaskan keinginan mereka untuk menguasai orang lain, mereka yang puas karena kekuatan mereka sendiri dan tetap bersukacita atas kejahatan yang mereka lakukan. Apa yang mereka inginkan telah tercapai dan membuat mereka bersukacita di bumi karena itu mereka tidak mendapatkan lagi sukacita yang berasal dari Tuhan.
Dan yang terakhir kepada mereka yang karena mengikuti Tuhan Yesus, dicela, dihina dan direndahkan oleh orang (ay. 22), yaitu mereka yang tetap setia kepada Tuhan walaupun banyak tekanan yang mereka terima, mereka tidak mendapatkan kehormatan di bumi tetapi Tuhan menjanjikan kehormatan dan upah di sorga. Sebaliknya kepada mereka yang selalu mencari dan mendapatkan kehormatan dan pujian, bahkan dengan mengingkari Tuhan, mereka akan mendapatkannya dibumi namun semua itu tidak abadi karena Tuhan akan menolak mereka.
Pokok terpenting dari cerita ini yang dapat diajarkan kepada anak-anak adalah bagaimana mereka selalu bersandar dan mengandalkan kekuatan dari Tuhan, sekalipun banyak hal yang mampu anak-anak lakukan dan capai sendiri dalam hidupnya dengan kemampuan dan kekuatan yang mereka miliki, itu bukan berarti tidak perlu pertolongan dari Tuhan, karena banyak hal dalam kehidupan kita ini yang tidak kita kuasai atau kendalikan. Berikan contoh kehidupan anak-anak setiap hari, misalnya ketika menghadapi ujian, walaupun anak-anak sangat siap mengerjakan setiap soal ujian tetapi tetaplah bersandar pada Tuhan sehingga ketika berhasilpun anak-anak sadar bahwa itu semua bukan kekuatannya semata tetapi juga karena pertolongan Tuhan.

Alat Peraga

Gambar peraga

Aktivitas

Mewarnai

Menghubungkan gambar yang berlawanan

Menuliskan Ucapan Bahagia / Teguran

Ayat Hafalan:

Yeremia 17:7
Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!

Sunday, March 18, 2018

Anugerah yang tak terhingga (Lukas 5:27-32)

Bahan Ajar Sekolah Minggu 18 Maret 2018
Tema : “Anugerah yang tak terhingga” (Lukas 5:27-32)
Tujuan :
- Anak-anak mengerti bahwa panggilan Tuhan merupakan anugerah bagi kita
- Anak-anak mau mendengar panggilan Tuhan untuk beribadah maupun melayani


Pokok Renungan

Dalam karya pelayanan Tuhan Yesus sangat banyak mujizat yang dilakukanNya, baik itu kesembuhan, kelepasan dari roh jahat bahkan kebangkitan dari kematian. Itu semua dapat dipandang sebagai anugerah yang sangat besar bagi orang-orang yang menerimanya, karena mereka yang menerimanya tidak perlu membayar apapun kepada Tuhan Yesus untuk semua itu. Demikianlah apa yang disebut anugerah yaitu sesuatu yang diterima dengan gratis sebagai pemberian dari Tuhan.
Namun pemahaman tentang anugerah tidak terbatas pada apa yang diterima secara fisik saja, tetapi harus dipahami lebih dari itu, ketika Tuhan Yesus, dari kekudusanNya, mau turun melawat manusia berdosa itu adalah anugerah yang tak terhingga dan terhitung harganya yang pernah diberikan Allah kepada manusia berdosa. Demikian juga ketika Tuhan mau memanggil orang berdosa untuk datang kepadaNya untuk beribadah maupun melayani pekerjaan Tuhan. Seperti bacaan kita hari ini tentang bagaimana Lewi (Matius) dipanggil untuk mengikuti Tuhan Yesus.
Dalam pandangan orang-orang zaman Tuhan Yesus, bagi orang-orang Yahudi pekerjaan pemungut cukai adalah pekerjaan yang kotor dan disamakan dengan orang berdosa, karena mereka bekerja untuk menguntungkan bangsa penjajah, bangsa Romawi, dan biasanya para pemungut cukai juga melakukan pemerasan, penipuan dan berbagai cara yang kotor untuk memperoleh keuntungan lebih untuk memperkaya diri sendiri. Walaupun di lain pihak, di mata pemerintah Romawi saat itu, pekerjaan itu membawa status yang lebih terhormat dari sekedar orang-orang jajahan yang lain. Pekerjaan sebagai pemungut cukai membuat Lewi punya kedudukan juga keadaan ekonomi yang lebih baik, mungkin ia merupakan salah satu dari sedikit orang Yahudi yang kaya saat itu.
Ketika TUhan Yesus lewat di depannya dan memanggilnya, tentu membuat Lewi terkejut dan heran, dan mendengar ajakan Tuhan Yesus bisa jadi merupakan sebuah hal yang mengganggu Lewi saat itu. Siapa Tuhan Yesus? Mungkin Lewi pernah mendengar desas-desus tentang Tuhan Yesus yang bisa melakukan mujizat, tetapi apa yang Lewi lihat saat itu bukankah teman-temanNya juga murid-murid yang mengikutinya adalah orang-orang kelas bawah, para nelayan, Tuhan Yesus juga bukan orang kaya, Ia hanya anak seorang tukang kayu. Dan yang lebih menganggu perasaan lewi saat itu mungkin jika ia bersedia mengikuti Tuhan Yesus, ada begitu banyak konsekuensi yang harus dihadapi. Ia harus kehilangan pekerjaan yang membuat ia kaya dan menopang kehidupan dan gaya hidupnya, mungkin juga ia akan dimusuhi oleh orang Romawi karena meninggalkan tugas/tanggung jawabnya yang akan mendatangkan kerugian bagi bangsa Romawi.
Namun seperti yang tertulis dalam Alkitab, tanpa bertanya, Lewi meninggalkan apa yang sedang dikerjakannya dan pergi mengikuti Tuhan Yesus (ay. 28). Kemudian Lewi  juga mengadakan perjamuan / pesta di rumahnya untuk Tuhan Yesus yang dihadiri juga oleh para pemungut cukai seperti dia dan banyak orang berdosa (ay. 29 bd. Mat. 9:10)
Apa yang dapat kita pelajari dari sikap Lewi ini adalah bagaimana ia bersedia menyambut anugerah Tuhan tanpa walaupun itu berati mengorbankan kenyamanannya. Bagi Lewi kehilangan kekayaan, kedudukan dan kenikmatan hidup tidak sebanding dengan kehilangan anugerah dari Tuhan, karena itu pilihan yang tepat adalah menyambut panggilan Tuhan yang adalah anugerah.
Menjadi renungan bagi kita sebagai pengajar juga anak-anak, panggilan dari Tuhan seringkali menghampiri kita tanpa kita cari, mungkin lewat ajakan untuk beribadah atau ajakan untuk melayani, tetapi seberapa besar kita sadar bahwa itu adalah anugerah dari Tuhan? Kalau kesibukan kita masih lebih penting, mungkin kita akan dengan mudah mengabaikannya tanpa kita sadari kita telah menolak anugerah Tuhan.
Ajarkan kepada anak-anak bahwa setiap panggilan / ajakan untuk datang dan dekat dengan Tuhan adalah sebuah anugerah, sambutlah setiap panggilan yang disampaikan kepada kita karena sungguh sebuah kehormatan bagi kita jika Tuhan berkenan memanggil kita yang berdosa dan tidak layak untuk datang mendekat padaNya.


Ayat Hafalan

Lukas 5:32
Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.

Alat Peraga

Gambar Peraga


Aktivitas

Mewarnai

Sunday, March 4, 2018

Beriman kepada Tuhan Yesus (Yohanes 4:46-54)

Bahan Ajar Sekolah Minggu 04 Maret 2018
Tema : “Beriman kepada Tuhan Yesus” (Yohanes 4:46-54)
Tujuan :
- Anak-anak tahu bahwa Tuhan Yesus adalah teladan hidup orang percaya
- Anak-anak mau percaya dan beriman hanya kepada Tuhan Yesus 

Pokok Renungan

Hari ini kita membaca sebuah cerita tentang Tuhan Yesus yang melakukan mujizat menyembuhkan anak seorang pegawai istana. Seperti kebanyakan cerita mujizat yang Tuhan lakukan, kita disuguhkan kisah tentang besarnya kuasa yang dimiliki Tuhan Yesus mengatasi masalah yang tidak mampu dihadapi manusia. Tetapi dari kisah ini ada satu hal menarik juga yang kita lihat, yaitu bagaimana sikap Tuhan Yesus yang mungkin sedikit kasar ketika menegur pegawai istana yang datang minta tolong itu. Bukannya menghibur pegawai istana yang sedih karena anaknya sekarat, sebaliknya Tuhan Yesus mengatakan "Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya." (ayat 48). Teguran itu disampaikan kepada pegawai istana itu dan mungkin juga kepada orang-orang yang ada disitu bahkan murid-murid yang mengikutiNya, karena sejauh itu kepercayaan mereka kepada Tuhan Yesus didasarkan kepada mujizat yang telah dilakukannya (ayat 45).
Nampaknya cukup beralasan bagi Tuhan Yesus menegur mereka, karena jika kita membaca rangkaian pasal-pasal sebelumnya, kita akan menemukan sikap-sikap yang berbeda yang ditunjukkan oleh orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus. Ketika Tuhan Yesus melakukan mujizat pertama di Kana, karena melihat mujizat itu "murid-muridnya percaya kepada-Nya” (Yoh. 2:11). Ketika di Yerusalem untuk merayakan Paskah, "banyak orang melihat tanda-tanda dan percaya kepada-Nya” (Yoh. 2:23). Saat dalam perjalanan kembali ke Galilea, sebuah kota Samaria menaruh iman mereka kepadanya, bukan karena tanda-tanda, tapi "karena firman-Nya." (Yoh. 4:41-42). Namun ketika Tuhan Yesus kembali ke Galilea orang banyak datang menyambutNya dan mereka menyambutNya karena telah melihat mujizat air menjadi anggur yang telah dilakukanNya (ayat 45).
Apa yang dituliskan oleh penginjil ini juga menjadi pertanyaan bagi kita tentang bagaimana dasar iman percaya kita. Apakah iman kita berdasarkan pada mujizat yang ajaib dan menarik perhatian? Atau kepada pribadi Tuhan Yesus sendiri. 
Kepercayaan yang berdasarkan mujizat dan keajaiban yang Tuhan Yesus buat akan mendorong kita untuk bersikap menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan yang ajaib dan akan melakukan segala sesuatu yang dahsyat seperti super hero dalam film sebaliknya iman yang berdasarkan pada pribadi Tuhan Yesus adalah iman yang menerima Tuhan Yesus sebagai teladan hidup dan menyadari bahwa sekalipun dalam kelemahan kita sebagai manusia kita punya kekuatan untuk memilih dan tetap menjadi baik.
Tuhan Yesus dalam karya penyelamatanNya bukan hanya melakukan mujizat/keajaiban tetapi lebih dari itu menunjukkan sikap taat, rela menderita dan dihina bahkan disalibkan. Bertolak belakang dari keajaiban mujizat yang dibuatNya. Mujizat yang ajaib merupakan pekerjaan Allah namun demikian, iman orang percaya tidak boleh terpusat pada mujizat itu tetapi kepada Yesus Kristus yang mengajarkan sifat-sifat ilahi.
Kita harus percaya pada Tuhan Yesus karena Dia itu Anak Allah, yaitu Tuhan dan Juruselamat kita. Ia harus disembah dan diimani karena kasih, kemurahan, dan sifat-Nya yang benar dan bukan karena mujizat-mujizat ajaib yang pernah dibuatNya. Bukankah sejak zaman dahulu bahkan lebih lagi di saat ini ada begitu banyak hal-hal ajaib yang dilakukan oleh manusia? Misalnya para pesulap, pemain akrobat atau ilusionis yang bisa berjalan di atas air, merubah air menjadi anggur dan aksi-aski lainnya yang seringkali membuat kita terpukau.
Kita percaya dan beriman kepada Tuhan Yesus bukan karena keajaiban dan mujizat yang dilakukannya, yang juga bisa dipalsukan oleh Iblis, tetapi karena kasih yang ditunjukkannya untuk menolong, menyembuhkan dan mengampuni orang berdosa. Tuhan Yesus tidak mengajarkan bagaimana caranya menggunakan kuasa untuk melakukan mujizat atau keajaiban, yang Tuhan Yesus ajarkan adalah bagaimana menjadi orang yang mengasihi Tuhan dan sesama manusia, dan untuk itu Tuhan Yesus sendiri telah memberikan teladan untuk dapat kita ikuti.
Membaca sampai akhir cerita ini kita dapat simpulkan bahwa iman percaya pegawai istana itu tumbuh karena ia mendengar langsung dari mulut Tuhan Yesus dan mengalami sendiri apa yang terjadi, tetapi keluarganya hanya mendengar darinya tentang Tuhan Yesus dan mereka percaya bahwa kesembuhan itu karena Tuhan Yesus.
Apakah kita mau percaya bahwa kehidupan yang kita jalani sehari-hari juga atas kemurahan Tuhan? Bukankah kita sudah mengalaminya juga tanpa mendengar langsung dari mulut Tuhan sendiri.

Alat Peraga

Gambar Peraga

Aktivitas

Mewarnai

Maze

Menyusun Cerita Bergambar

Ayat Hafalan:

Ibrani 11:1
Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.

Saturday, February 24, 2018

Berani Menentang Kesalahan (Yohanes 2:13-25)

Bahan Ajar Sekolah Minggu 25 Februari 2018
Tema : “Berani Menentang Kesalahan” (Yohanes 2:13-25)
Tujuan :
- Anak-anak tahu bahwa Tuhan Yesus mengasihi semua manusia tetapi menentang semua perbuatan yang salah
- Anak-anak berani menentang perbuatan yang salah yang dilihat/diketahuinya

Pokok Renungan

Dalam banyak cerita yang kita baca atau dengar, Tuhan Yesus digambarkan sebagai sosok yang lemah lembut dan sopan dan memang benar Tuhan Yesus datang bukan sebagai Tuhan yang menghukum orang-orang berdosa melainkan sebagai Tuhan yang baik, murah hati dan mau berkorban untuk keselamatan semua orang, bahkan orang yang berdosa (Matius 12:18-21 bd. Yesaya 42:1-9). Tetapi dalam beberapa kesempatan sebenarnya kita dapati Tuhan Yesus juga tampil sebagai penentang yang mengkritik dengan tegas kemunafikan, hal yang sama juga terjadi dalam cerita hari ini, kita melihat Tuhan Yesus yang marah bahkan merusak barang-barang jualan para pedagang di Bait Suci (ay. 15).
Dari apa yang kita baca dalam cerita ini, dapat kita membayangkan kedaan Bait Suci yang waktu itu penuh dengan orang-orang yang berjualan, kedaannya pasti sudah seperti di pasar, dimana hiruk-pikuk suara penjual dan pembeli diantara keributan yang timbul dari suara binatang, dan walaupun tidak digambarkan dalam cerita namun bisa dipastikan bahwa ada bau yang timbul dari kotoran binatang yang tentunya juga tercium dalam lingkungan itu.
Walaupun apa yang diperjualbelikan tersebut adalah kebutuhan untuk ibadah, namun seharusnya tidak diperjualbelikan dalam Bait Suci karena bukan tempatnya untuk berjualan, keadaan seperti itu seharusnya tidak dizinkan oleh para pemuka agama / mereka yang mengelola Bait Suci, karena tentu akan sangat menganggu orang-orang yang hendak beribadah maupun yang sedang beribadah. Lalu apa alasan para pemuka agama / pengelola Bait Suci mengizinkannya? Sepertinya para pemuka agama/pengelola Bait Suci memang sengaja memberi ruang untuk berjualan karena mereka turut serta mengambil keuntungan dari kegiatan bisnis tersebut.
Kedaan yang terlihat saat itu mungkin tidak bisa sekedar ditegur dengan kata-kata sehingga Tuhan Yesus langsung bertindak untuk membersihkan Bait Suci dari berbagai kegiatan dan barang-barang yang tidak seharusnnya serta para pedagang yang sedang berjualan itu. Tukar menukar uang dan penjualan binatang kurban yang dilakukan saat itu mungkin bukannya membantu mempermudah sebaliknya mengeruk keuntungan yang sangat besar karena uang dan binatang itu sangat dibutuhkan oleh orang-orang yang pergi untuk merayakan paskah, sehingga terjadi monopoli dan korupsi yang menguntungkan para pemuka agama yang berkuasa atas Bait Suci waktu itu.
Tindakan Tuhan Yesus sebenarnya tidak secara khusus menyerang/menentang para pedagang melainkan menentang sistem yang korup dalam Bait Suci dan dengan tindakan itu, Tuhan Yesus secara tegas memproklamirkan diri sebagai Mesias, Anak Allah yang berhak bertindak membersihkan Bait Suci dari segala hal yang buruk (ay. 16, 18)
Hal penting yang dapat dipelajari dan diajarkan kepada anak-anak dari kisah ini adalah bagaimana seharusnya sikap orang Kristen terhadap hal-hal buruk di sekitar kita.
Belajar dari sikap Tuhan Yesus yang lemah lembut dan baik terhadap orang-orang berdosa. Kita juga seharusnya bersikap baik dan lemah lebut terhadap siapa saja. Tetapi di sisi lain, Tuhan Yesus menentang keras perbuatan/perilaku yang salah, bahkan Tuhan Yesus dengan tanganNya sendiri melawan perbuatan yang salah. Hal ini menjadi teladan yang penting bagi setiap pengikut Tuhan, bahwa untuk setiap kedaan yang tidak berkenan kepada Tuhan, yang tidak sejalan dengan firman Tuhan, haruslah ditentang.
Ajarkan anak-anak untuk bersikap lemah lebut dan baik kepada siapa saja, bahkan kepada mereka yang jahat dan tidak perlu membenci atau memusuhi teman-teman yang berbuat kesalahan tetapi mereka harus tetap berani menetang kesalahan. Perbuatan seperti itu munkgin akan mengakibatkan mereka dijauhi oleh teman-teman yang berbuat salah tersebut tetapi jangan takut. Hal yang penting juga adalah kalau memang tidak mampu tidak perlu harus melawan secara fisik terhadap kesalahan yang dibuat oleh orang lain, tetapi anak-anak harus berani melaporkan perbuatan teman yang salah kepada guru atau orang yang lebih dewasa, itu juga merupakan sebuah tindakan berani seperti apa yang Tuhan Yesus contohkan dalam cerita kita hari ini.


Alat Peraga

Gambar Peraga



Aktivitas

Menuliskan Sikap

Teka-teki SIlang

Ayat Hafalan:

1Petrus 3:12
Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong, tetapi wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat."



Saturday, February 10, 2018

Godaan dari Si Jahat (Matius 4:1-11)

Bahan Ajar Sekolah Minggu 11 Februari 2018
Tema : “Godaan dari Si Jahat” (Matius 4:1-11)
Tujuan :
- Anak-anak tahu bahwa kita akan selalu digoda untuk berbuat jahat dan jauh dari Tuhan
- Anak-anak mau setia belajar Firman Tuhan sebagai kekuatan dalam menghadapi godaan

Pokok Renungan

Kitab Matius menceritakan setelah Tuhan Yesus dibaptis oleh Yohanes, Ia dibawa ke padang gurun. Yesus dengan sengaja dibawa oleh Roh untuk dicobai oleh Iblis. Banyak tafsiran menerangkan bahwa disini kemanusiaan Yesus yang dicobai, hanya sebagai manusia Yesus bisa dicobai, karena Tuhan tidak bisa dicobai oleh Iblis (iblis = penghujat). Dalam kesempatan ini juga Yesus menghadapi pencobaan itu secara manusia, tidak ada kekuatan khusus diluar kemampuan manusia yang dipakai untuk melawan pencobaan Iblis.
Secara ringkas kita membaca, Yesus diperhadapkan dengan tiga cobaan/godaan dari Iblis.

  • Yang pertama Iblis berkata: "Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti." Sebagai Tuhan (Anak Allah), Yesus bisa melakukannya tetapi karena sebagai Anak Allah juga Ia tidak perlu roti untuk hidup, tapi Yesus menunjukkan bahwa memang manusia perlu makan dan tidak mampu merubah batu menjadi roti tetapi tidak juga perlu melakukannya apalagi sampai meminta bantuan dari Iblis untuk melakukannya. Manusia hidup dari Tuhan, dari makanan jasmani berupa makanan dan minuman sehari-hari diberikan Tuhan juga dari makanan rohani berupa Firman dari Tuhan (bd Ulangan 8:3).
  • Godaan yang kedua Iblis berkata: "Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu." (bnd. Mazmur 91:11-12). Disini juga sekali lagi Yesus menunjukkan bahwa sebagai Tuhan Ia bisa melakukannya tetapi sebagai manusia tidak bisa dan tidak perlu melakukan itu, kalaupun Allah menjanjikan perlindungan, tidak berarti kita harus coba-coba apakan janji perlindungan itu benar adanya. Sebagai manusia jangan mencobai Tuhan.
  • Pencobaan yang ketiga Iblis  berkata: "Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku." Semua kekayaan, kekuasaan dan kejayaan di bumi akan diberikan jika menyembah Iblis. Tuhan tidak mungkin menyembah Iblis tetapi manusia mungkin saja melakukannya, apalagi kalau janji imbalannya setimpal, yaitu kekayaan dan kejayaan, sepertinya sangat menarik. Tapi Yesus memberikan jawaban yang tepat sebagai manusia, bahwa apapun alasannya tidak perlu dan tidak harus manusia menyembah Iblis, karena hanya Allah yang boleh disembah oleh segenap alam, Dialah pencipta dan penguasa segala sesuatu termasuk semua yang dijanjikan oleh Iblis itu.

Dari pencobaan yang dilakukan Iblis dan dijawab secara manusiawi oleh Yesus ini dengan jelas mengajarkan kepada bahwa sebenarnya sebagai manusia kita bisa melawan setiap godaan dan cobaan yang dilakukan Iblis. Tiga pencobaan itu sebenarnya gambaran dari berbagai macam pencobaan yang selalu dihadapi oleh manusia sepanjang masa.
Pencobaan pertama menggugah keinginan manusia akan makanan, akan apa yang memang dibutuhkannya. Pencobaan seperti itu selalu ada dalam kehidupan manusia sampai saat ini, kebutuhan dan keinginan akan makanan dan kebutuhan pokok lainnya membuat orang menjauh dari Allah (bd. Ulangan 8:3; Keluaran 16).
Pencobaan kedua menggugah keraguan manusia akan kuasa dan keberadaan Allah. Seringkali manusia yang sudah mengenal Allah masih ragu dengan pemeliharaan dari Allah sehingga suka menuntut bahkan mencobai Allah untuk memuaskan keinginannya sendiri. Bahkan seringkali kita tergoda untuk berpikir bahwa segala sesuatu tentang hidupmu akan dipenuhi oleh Allah jadi tidak perlu melakukan apa-apa tinggal minta saja kepada Allah. (bd. Ulangan 6:16; Keluaran 17:1-7). Padahal Allah memberikan kemampuan fisik maupun pikiran untuk manusia melakukan dan memutuskan suatu hal. Tidak perlu menguji kemampuan Allah apakah Ia mampu atau tidak menolong kita, perbuatlah apa yang menjadi bagian dan usaha kita dan biarkan Allah bekerja dengan caraNya menolong kita.
Pencobaan yang ketiga menggugah keinginan manusia untuk berpaling dari Allah dengan janji akan kekuasaan dan kemakmuran duniawi (bd. Ulangan 6:10-15; Kel 23:23-33).
Hal yang dapat dipelajari dan diajarkan kepada anak-anak adalah sebagai manusia kita harus percaya bahwa kita bisa melawan setiap godaan Iblis yang ingin menjerat dan menjatuhkan kita dan untuk itu hal yang penting yang harus kita miliki adalah firman Tuhan, sebagaimana Tuhan Yesus menunjukkan bahwa setiap godaan Iblis itu dapat dikalahkan dengan pemahaman yang benar akan apa yang tertulis dalam Firman Tuhan. Untuk itu, hal penting supaya jangan terjerat oleh godaan adalah belajarlah firman Tuhan setiap saat sehingga ketika Iblis menggoda kita dengan berbagai cara kita tahu apa jawaban yang tepat sesuai firman Tuhan.


Ayat Hafalan:

Yakobus 1:14
Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.

Alat peraga

Gambar Peraga

Aktivitas

Mewarnai

Menulis deskripsi singkat
Tulislah godaan yang menyebabkan anak-anak yang melakukan perbuatan yang buruk pada gambar  ini:

Mengarang cerita bergambar