Blog ini berisi Bahan Ajar / Cerita Sekolah Minggu dalam Bahasa Indonesia, silakan dipakai / dikutip secara bebas dan gratis karena Firman Tuhan bebas untuk diberitakan dan diketahui oleh semua orang

This blog contains materials for Sunday School Sermon. The sermon materials are written in Indonesian, but I hope the activities and images contained can be used by anyone with any language, please feel free to use it
Showing posts with label Yakub. Show all posts
Showing posts with label Yakub. Show all posts

Friday, April 26, 2024

Integritas Diri (Kejadian 37:1-36)

Bahan Ajar, Peraga dan Aktivitas dari cerita Alkitab tentang 'Yusuf dan saudara-saudaranya' (Kejadian 37:1-11) dan 'Yusuf dijual ke tanah Mesir' (Kejadian 37:12-36

Pokok Renungan

Bacaan Alkitab hari ini berdasarkan Alkitab TB LAI terbagi atas 2 perikop namun merupakan sebuah cerita utuh, yaitu bagaimana kehidupan anak-anak Israel (Yakub) terutama tentang Yusuf.

Yusuf adalah putra kesayangan Yakub, karena ia anak dari istri yang sangat dikasihi Yakub dan lahir di masa tuanya. Perhatian Yakub yang besar ini membuat saudara-saudaranya cemburu pada Yusuf,  mereka bahkan membenci Yusuf karena ia mengadukan kejahatan mereka (ay. 2) dan karena ia menceritakan mimpinya yang dianggap merendahkan mereka (ay. 5-11).

Kebencian mereka berkembang menjadi rencana untuk membunuh Yusuf ketika ada kesempatan saat ia jauh dari rumah (ay. 18). Saat itu Yusuf pergi sejauh kurang lebih 100 km dari kediaman mereka di lembah Hebron, untuk melihat saudara-saudaranya yang sedang menggembalakan kambing domba di Dotan (lihat referensi). Namun, Reuben, salah satu saudara mereka, berusaha menyelamatkannya dengan menyarankan untuk membuangnya ke dalam sumur. Pada akhirnya, Yusuf dijual kepada para pedagang Midian yang membawa Yusuf ke Mesir untuk dijadikan budak. (ay. 19-28)

Untuk menutupi perbuatan mereka, saudara-saudaranya menyembelih seekor kambing domba dan mencelupkan jubah Yusuf ke dalam darahnya, kemudian membohongi Yakub bahwa Yusuf telah dibunuh binatang buas. (ay. 29-35)

Dari cerita ini ada beberapa hal yang menarik yang bisa direnungkan dan diajarkan kepada anak-anak.

Yang pertama tentang integritas Yusuf. Dalam kehidupannya yang cukup baik di dalam rumahnya, ia diperlakukan buruk oleh saudara-saudaranya. Ia bukan anak yang malas ataupun  manja, ia punya tanggung jawab pekerjaan seperti saudara-saudaranya, yang membedakannya dari mereka adalah ia jujur sehingga ia melaporkan kejahatan yang dilakukan oleh saudara-saudaranya itu. Ia teguh pada prinsip untuk tetap menyatakan kebenaran walaupun karena hal itu ia dibenci atau dimusuhi. Ia juga jujur menceritakan mimpinya yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri. Kejujurannya itu juga sejalan dengan sikapnya yang lain, yaitu taat, sabar dan setia serta memaafkan, semuanya akan teruji dan terlihat dalam perjalanan hidupnya. Ini menunjukkan sebuah integritas diri.

Hal yang kedua, dari kisah ini adalah sikap iri hati yang kemudian menimbulkan kebencian bahkan dendam yang berujung pada rencana pembunuhan yang dilakukan oleh saudara-saudara Yusuf. Jika pikiran negatif dipelihara dalam diri, pikiran itu akan semakin berkembang menjadi lebih besar bahkan menjadi sebuah tindakan negatif juga. Jika saudara-saudaranya tidak iri hati kepada Yusuf dan mau mengoreksi kesalahan mereka yang dilaporkan oleh Yusuf, mereka tidak akan membenci Yusuf, karena bagaimanapun Yusuf adalah saudara mereka sendiri yang mengasihi mereka. Tetapi ketika kebencian itu ada dan dipupuk, maka mereka melakukan kejahatan dengan rencana membunuhnya namun karena tidak jadi, mereka menjual saudara mereka dan untuk menutupi kejahatan itu mereka membohongi Yakub.

Hal penting yang juga perlu direnungkan dari kisah ini adalah bagaimana Tuhan berkerja dalam segala keadaan dan peristiwa untuk kebaikan orang percaya, bahkan bukan untuk kebaikan sesaat tapi untuk kebaikan di masa yang akan datang.

Alat Peraga dan Aktivitas

Gambar Peraga

Mewarnai
Benda tersembunyi
Teka-teki Silang



Saturday, April 20, 2024

Yakub dan Esau Bertemu Kembali (Kejadian 33:1-20)

Bahan Ajar dan Gambar Peraga untuk cerita Alkitab 'Yakub Berbaik Kembali Dengan Esau' (Kejadian 33:1-20)

Pokok Renungan

Bacaan hari ini menceritakan kisah pertemuan kembali antara Yakub dan Esau, kedua saudara kembar ini terpisah karena perselisihan, ada kemarahan dan permusuhan yang mengiringi jalan mereka. Perjumpaan kembali ini menjadi momen penting dalam hidup Yakub, momen ini akan mengarahkan dia kepada jalan pemulihan hubungannya dengan Esau atau sebaliknya permusuhan yang abadi.

Yakub telah melarikan diri dari Esau selama kurang lebih 20 tahun, selama itu juga sebenarnya Yakub diliputi rasa takut dan cemas apalagi ketika ia mengetahui bahwa Esau mencarinya. Ia mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk (bd. Kej 32:1-21).

Saat pertemuan yang dinantikan itu terjadi ternyata Esau tidak menunjukkan rasa marah atau dendam. Ia justru berlari menyambut Yakub dengan penuh kasih sayang, memeluk dan menciumnya. Mereka berdua menangis karena bahagia bisa bertemu kembali (ay. 4).

Esau mengambil sikap untuk mengampuni Yakub atas kesalahannya di masa lalu. Meskipun dahulu Esau sangat benci bahkan ingin membunuh Yakub, namun nampaknya ikatan persaudaraan mereka telah memulihkan semua rasa kecewa dan permusuhan itu, Esau bahkan menolak pemberian Yakub yang diberikan sebagai bentuk permohonan maaf (ay. 9).

Kisah pertemuan kembali Yakub dan Esau memberikan beberapa pelajaran penting yang dapat direnungkan dan diajarkan kepada anak-anak.

Yang pertama tentang kasih persaudaraan yang tidak boleh terputus. Perselisihan dan pertikaian adalah hal yang biasa terjadi dalam kehidupan bersama. Tetapi hubungan persaudaraan merupakan ikatan yang kuat yang Tuhan anugerahkan, tidak ada yang bisa memilih untuk bersaudara dengan siapa, karena kita dilahirkan demikian, jadi siapapun saudara kita itu adalah anugerah Tuhan bagi kita. Esau tidak memilih untuk bersaudara dengan Yakub tetapi Tuhan sudah menentukan demikian, sehingga sekalipun Yakub mengecewakan dan membuat marah dirinya tetapi kasih sebagai saudara membuat ia menerima Yakub dengan segala kekurangannya.

Yang kedua tentang pengampunan, Esau memilih untuk mengampuni karena itu baik untuk dirinya sendiri dan baik juga untuk saudaranya. Mengampuni berarti melepaskan rasa dendam dan kebencian, sehingga yang tinggal adalah kedamaian baik bagi yang mengampuni maupun yang diampuni.

Yang ketiga tentang apa yang disebut rekonsiliasi. Istilah ini cukup sering kita dengar, maknanya adalah upaya untuk memperbaiki yang telah rusak supaya kembali seperti semula. Pertikaian seringkali dan hampir pasti akan merusak sebuah hubungan, karena itu perlu upaya dari kedua belah pihak untuk memperbaikinya dengan satu tujuan agar semuanya kembali baik. Demikian yang dilakukan Yakub juga Esau, keduanya punya upaya untuk memperbaiki hubungan yang rusak dengan satu tujuan yang sama agar sama-sama merasakan kedamaian hidup sebagai saudara.

Ajak anak-anak untuk mau saling memaafkan dan memperbaiki kembali hubungan yang rusak jika di antara mereka terjadi perselisihan.

Alat Peraga dan Aktivitas

Gambar Peraga

Mewarnai

Menyusun Cerita

Potong gambar sesuai garis kemudian minta anak-anak menyusun sesuai urutan cerita, jika bisa minta anak-anak menceritakan dengan bahasanya sendiri






Saturday, April 6, 2024

Esau dan Yakub (Kejadian 25:29-34; 27:1-40)

Bahan Ajar Sekolah Minggu dari Kejadian 25:29-34 dan Kejadian 27:1-40 tentang Yakub mendapat Hak Kesulungan

Pokok Renungan

Bagian bacaan ini menceritakan kisah tipu daya Yakub terhadap Esau. Bacaan pertama yang terpisah dari bacaan kedua menceritakan bagaimana sampai kisah yang diceritakan dalam Kejadian 27 itu terjadi, yaitu ketika Ribka dan Yakub menipu Ishak untuk mendapatkan berkat. Kisah ini penuh dengan ironi karena dalam kisah ini ditampilkan bagaimana rencana Tuhan itu tercapai oleh campur tangan manusia dengan cara yang tidak benar.

Beberapa hal dalam cerita ini yang perlu menjadi renungan bagi kita dan diajarkan kepada anak-anak adalah:

Yang pertama tentang apa rencana yang Tuhan sudah buat dalam kehidupan Esau dan Yakub sebagaimana yang Tuhan nyatakan kepada Ribka ketika ia mengeluh kesakitan saat mengadung kedua anaknya itu (bd.Kej. 25:22-26), jika Ribka mengingat hal itu, ia tahu bahwa hak kesulungan akan jatuh kepada Yakub, karena Tuhan yang menentukan demikian. Tapi Ribka mencari jalan sendiri mendapat hak kesulungan untuk Yakub, karena ia lebih menyayangi Yakub dari pada Esau, bukan karena itu rencana Tuhan. Seringkali kita bersikap seperti Ribka yang lupa atau tidak percaya kepada janji Tuhan yang baik bagi kehidupan kita, sehingga kita mencari jalan kita sendiri untuk meraih yang kita inginkan.

Yang kedua tentang sikap Esau yang gampang mengikuti hawa nafsu, rasa lapar dan nafsu untuk makan membuat ia rela melepaskan apa yang menjadi haknya untuk kepuasan sesaat. Bahkan setelah itu ia lupa bahwa ia telah melakukan kesalahan itu. Tentu sikap Esau sangat buruk, bukan saja mengikuti hawa nafsu tapi tidak sadar akan kesalahannya bahkan menyalahkan Yakub atas kebodohannya. Jika Esau sadar akan kesalahan yang pernah dibuatnya ia mungkin boleh marah akan penipuan yang Yakub lakukan tetapi ia tidak sampai berniat untuk membunuh Yakub (bd. Kej. 27:41). Sikap seperti Esau ini sering juga ada pada diri kita, kita tidak introspeksi diri ketika ada sesuatu yang buruk dilakukan orang lain kepada kita, kita lupa bahwa mungkin saja penyebab dari perlakuan itu adalah diri kita sendiri.

Cerita untuk Anak

Cerita hari ini menceritakan tentang dua anak kembar, Esau dan Yakub. Mereka adalah anak dari Bapak Ishak dan Mama Ribka, Esau adalah anak sulung, yang berarti dia memiliki hak istimewa dalam keluarga. Salah satu hak istimewa itu adalah "hak kesulungan." Hak kesulungan berarti Esau akan menerima bagian warisan yang lebih besar daripada Yakub dan dia juga akan menjadi pemimpin keluarga setelah ayahnya meninggal.

Suatu hari, Esau pulang dari berburu. Dia sangat lelah dan lapar. Dia melihat Yakub sedang memasak sup kacang merah yang lezat. Esau sangat menginginkan sup itu. Dia berkata kepada Yakub, "Berikan aku sedikit sup merah itu, aku sangat lapar!"

Yakub melihat bahwa Esau sangat lapar. Dia ingin membantu saudaranya, tetapi dia juga menginginkan hak kesulungan Esau. Yakub berkata kepada Esau, "Baiklah, aku akan memberikan sup ini kepadamu, tetapi kamu harus menjual hak kesulunganmu kepadaku."

Esau sangat lapar dan dia tidak memikirkan masa depan. Dia setuju untuk menjual hak kesulungannya kepada Yakub hanya dengan semangkuk sup kacang merah! Setelah kenyang Esau lupa kalau ia telah menjual hak kesulungannya.

Beberapa waktu kemudian, Ishak ingin memberikan berkat kepada Esau. Ribka, ibu Esau dan Yakub, ingin Yakub yang menerima berkat itu. Dia menyuruh Yakub berpura-pura menjadi Esau dan menipu bapaknya, Ishak. Yakub pun menuruti rencana ibunya dan berhasil mendapatkan berkat.

Esau sangat marah ketika dia mengetahui apa yang telah dilakukan Yakub. Dia ingin membunuhnya. Yakub pun harus melarikan diri dari rumah dan hidup dalam pengasingan selama bertahun-tahun.

Cerita ini mengajarkan kita bahwa kita harus berhati-hati dengan apa yang kita pilih dalam hidup. Kita tidak boleh membuat keputusan yang terburu-buru hanya karena kita menginginkan sesuatu saat itu juga. Kita harus memikirkan tentang konsekuensi dari tindakan kita di masa depan. Esau telah mengambil keputusan yang salah karena ia lebih memikirkan keinginannya untuk makan. Yakub juga telah melakukan penipuan karena mengejar berkat kesulungan sehingga ia harus lari karena ingin dibunuh oleh Esau.

Sebenarnya Tuhan sudah punya rencana yang baik atas diri Esau dan Yakub, tetapi mereka tidak menunggu apa yang Tuhan lakukan melainkan mencari jalan sendiri yang tidak benar untuk mencapai apa yang mereka inginkan.

Demikian juga dengan kehidupan kita, Tuhan sudah punya rencana untuk kehidupan kita, termasuk keberhasilan kita dalam belajar dan memperoleh apa yang kita inginkan, itu semua keinginan yang baik, tetapi jangan menggunakan cara yang salah untuk memperoleh apa yang baik itu. 

Alat Peraga

Aktivitas

Mewarnai
Cari Perbedaan
Cari Kata

Saturday, March 16, 2019

Tuhan Allah Hadir (Kejadian 28:10-22)

Bahan Ajar Sekolah Minggu 17 Maret 2019
Tema: “Tuhan Allah Hadir” (Kejadian 28:10-22)
Tujuan:
- Anak-anak tahu bahwa kita perlu merasakan kehadiran Tuhan dalam hidup kita
- Anak-anak mau memanfaatkan momen-momen dalam hidupnya untuk secara khusus mengingat penyertaan Tuhan dalam hidupnya

Pokok Renungan

Setelah Yakub memperdaya ayahnya Ishak untuk memberikan berkat kesulungan kepadanya, kakanya Esau menjadi marah dan berencana membunuhnya, hal itu membuat Yakub, atas saran Ribka, ibunya, melarikan diri ke Mesopotamia, ke rumah saudara ibunya, Laban (bd. Kej. 27:41-28:9).
Jarak dari Bersyeba, tempat kediaman Ishak dan keluarga ke Haran, rumah Laban sekitar 450 mil atau 720 km. Tentunya tidak dapat ditempuh dalam satu hari perjalanan, karena itu dalam perjalanannya Yakub harus beristirahat pada malam hari.
Pada suatu waktu menjelang malam, Yakub memutuskan untuk bermalam di suatu tempat. Disitu ia tidur dan bermimpi bertemu dengan Tuhan. dalam mimpinya itu Tuhan memberikan janji yang sama seperti janji yang telah diikat oleh Tuhan dengan kakek Yakub, Abraham. Tuhan menegaskan kepadanya tentang penyertaan Tuhan dan janji keturunannya yang akan menjadi berkat. Janji itu sendiri tentunya sudah diceritakan oleh Ishak kepada Yakub dan Esau, demikian pula dalam berkat yang diberikan Ishak kepada Yakub juga janji itu telah ditegaskan (bd. Kej. 28:3-4).
Penegasan dari Tuhan melalui mimpinya itu adalah sebuah penguatan kepada Yakub bahwa dalam keadaan apapun, bahkan ketika nyawanya terancam, Tuhan tidak akan meninggalkannya. Karena itu Yakub juga menanggapi itu dengan bernazar kepada Tuhan sebagai janjinya untuk tetap setia kepada Tuhan sebagai Allahnya dan Allah keturunannya, lebih lanjut lagi ia mendirikan tugu peringatan sebagai pengingat kepadanya bahkan kepada keturunannya tentang Tuhan. Nama tempat itu juga digantinya menjadi Betel yang berarti Rumah Allah.
Membaca kisah Abraham sampai Yakub ini, kita dapati bahwa janji Tuhan yang sama dari Abraham sampai ke Yakub dan tentunya terus kepada keturunannya, selalu diingatkan Tuhan kepada mereka. Mungkin saja Yakub juga sudah menghafal janji itu, tetapi penegasan kembali dari Tuhan menjadi penting bagi Yakub, karena ia merasakan sendiri kehadiran Tuhan.
Demikian halnya dalam kehidupan kita sebagai orang percaya, kita sudah sering mendengar janji Tuhan dalam hidup kita, paling tidak satu kali setiap minggu kita diingatkan tentang janji Tuhan bagi kita melalui kebaktian/peribadatan yang kita ikuti. Tetapi merasakan sendiri kehadiran Tuhan dalam hidup kita itu adalah hal yang penting. Janji Tuhan tentang keselamatan tidak akan ada gunanya bagi kita jika kita sendiri belum merasakan bahwa Tuhan yang menjanjikan itu benar-benar ada dan hadir dalam kehidupan kita.
Untuk itu ada beberapa hal yang dapat kita renungkan dan ajarkan kepada anak-anak dari cerita tentang mimpi Yakub di Betel ini.
Yang pertama untuk dapat merasakan kehadiran Tuhan dalam hidup kita, kita harus menyadari bahwa diri kita lemah dan terbatas. Yakub sendiri tentu sudah mengetahui tentang Tuhan Allah dari orang tuanya sejak dia masih kecil, tapi nampaknya sepanjang hidup Yakub sampai dengan peristiwa di Betel itu ia tidak pernah merasakan langsung kehadiran Tuhan. Dalam bagian Alkitab diceritakan bagaimana Yakub bersama ibunya dengan caranya sendiri telah memperdaya Ishak untuk mendapat berkat, mereka tidak menyerahkan urusan berkat itu kepada cara Tuhan. Saat di Betel ini Yakub mengaku kalau ia lemah karena tidak tahu bahwa Tuhan menyertainya (ay. 16). Perlu kesadaran bahwa kita terbatas baru kita bisa merasakan Tuhan itu ada.
Yang kedua, tugu yang Yakub dirikan merupakan cara Yakub untuk mengingatkan dirinya sendiri bahkan kepada keturunannya tentang Tuhan. Adalah baik bagi kita juga untuk punya waktu, tempat atau momen tertentu untuk mengingatkan kita kembali tentang penyertaan Tuhan dalam hidup kita. Beberapa orang mungkin punya tempat khusus di kamar atau di rumahnya untuk berdoa kepada Tuhan, atau juga jam-jam, hari-hari atau tanggal khusus yang disediakan untuk merenungkan penyertaan Tuhan dalam hidupnya, temasuk diantaranya saat ulang tahun. Ajak anak-anak untuk menyediakan waktu khusus setiap hari untuk dekat dengan Tuhan.


Alat Peraga


Gambar Peraga

Aktivitas


Mewarnai

Teka-teki SIlang
Jawaban TTS di atas, jawaban TTS yang lain disesuaikan dengan pertanyaan

MENDATAR:
3. ESAU
5. LABAN
8. RUMAH ALLAH
10. TUGU

MENURUN
1. BETEL
2. TANGGA
4. NAZAR
6. MALAIKAT
7. HARAN
9. LUS




Ayat Hafalan

Mazmur 77:12
Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN, ya, aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala.

Friday, March 3, 2017

Kehendak Tuhan yang Jadi (Kejadian 27:1-17)

Bahan Ajar PAR 05 Maret 2017
Tema : “Kehendak Tuhan yang Jadi” (Kejadian 27:1-17)
Tujuan :
- Anak-anak tahu bahwa Tuhan punya kehendak baik bagi kehidupan setiap orang
- Anak-anak mau berserah kepada Tuhan dalam doa untuk setiap harapan dan keinginannya


Pokok Renungan

Kisah hari ini berkaitan dengan cerita minggu lalu. Karena nafsu yang rendah, Esau telah menjual hak kesulungannya kepada Yakub. (bnd. Ibr. 12:16-17)
Pada ayat 1-5 nampak bahwa Ishak berencana meneruskan berkat kepada Esau. Hal ini secara umum dipandang wajar karena Esau adalah anak sulung, dan budaya/adat saat itu, bahkan sampai sekarang, menempatkan anak sulung sebagai kepala/yang utama. Tapi untuk kasus Esau dan Yakub sebenarnya agak berbeda, Tuhan sendiri sudah pernah berfirman tentang keduanya (Kej. 25:23), entah karena sudah tua dan tidak tahu, atau tidak mengerti, atau tidak mempertimbangkan sebagaimana mestinya, Ishak lupa firman Tuhan, bahwa anak yang tua harus menjadi hamba kepada anak yang muda.
Kalaupun ia masih ingat namun tetap bersikeras meneruskan berkat kepada Esaus, bisa jadi, ia lebih dikuasai oleh perasaan sayang yang alami, Ishak lebih sayang kepada Esau. Ishak hendak mengatur semuanya sesuai yang diinginkan dan lupa atau mengabaikan kehendak Tuhan, Ishak juga mengabaikan kenyataan bahwa Esau sudah menikah dengan dua wanita kafir (Kej 26:34-35). Dalam hal ini nampaknya Ishak terlalu terbawa perasaannya.
Selanjutnya dalam ayat 6-17, Ribka berusaha untuk memperoleh bagi Yakub berkat yang sudah direncanakan akan diberikan Ishak kepada Esau. 
Jika memang Ribka mengingat firman Tuhan tentang Esau yang akan menjadi hamba Yakub, tentunya usahanya untuk mendapatkan berkat bagi Yakub bertujuan baik, namun cara yang dipakai yaitu dengan menipu Ishak pastinya tidak benar. Demikian juga Yakub yang kemudian mengikuti siasat ibunya itu. Seharusnya ada jalan untuk itu, disini Ribka juga mengabaikan jalan Tuhan, ia menggunakan jalannya sendiri. Akibat yang harus diterima oleh Yakub kemudian adalah ia harus lari menyelamatkan diri dari Esau. Tapi tidak dijelaskan dalam Alkitab tentang alasan Ribka, bisa saja ia bermaksud agar Yakub diberkati karena Yakub adalah anak kesayangannya (bnd. Kej. 25:28), tentu sikap seperti itu tidak ada bedanya dengan Yakub yang terbawa perasaan saja, dan hal itu juga tidak benar.
Dari cerita ini terdapat 2 hal menarik yang dapat dipelajari dan diajarkan kepada anak-anak:

  • Bagaimanapun keadaannya, kehendak Tuhan tidak mungkin dibatalkan/digantikan dengan keinginan manusia, ajar anak-anak untuk percaya bahwa apapun yang terjadi dalam kehidupan mereka, sekalipun yang buruk, dibalik itu ada hal baik yang ingin ditunjukan/diberikan Tuhan bagi mereka, karena itu berserah hanya kepada Tuhan.
  • Apapun yang kita inginkan bagi diri kita maupun bagi orang lain seharusnya tetap memohon perkenan Tuhan, jangan berdasarkan kehendak diri kita sendiri. Ajarkan kepada anak-anak untuk selalu menyerahkan semua rencananya di dalam doa kepada Tuhan.



Cerita



Alat Peraga

Gambar Peraga

Aktivitas

Mewarnai

menempel tangan dan leher pada gambar Yakub dengan kapas / benang wol

cari perbedaan

Ayat Hafalan

Amsal 19:21
Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana.

Friday, February 24, 2017

Jangan mengikuti hawa nafsu (Kejadian 25:29-34)

Bahan Ajar PAR 26 Februari 2017
Tema : “Jangan mengikuti hawa nafsu” (Kejadian 25:29-34)
Tujuan :
- Anak-anak tahu hawa nafsu menggiring kepada perbuatan yang salah
- Anak-anak dapat mengendalikan diri


Pokok Renungan

Hak kesulungan (yaitu, hak yang dimiliki oleh anak sulung) terdiri atas:
• kepemimpinan dalam ibadah dan keluarga;
• bagian ganda dalam harta warisan (bnd. Ul 21:17); dan
• hak memperoleh berkat perjanjian yang dijanjikan Allah kepada Abraham.
Hal itu tentunya dipahami oleh Esau dan Yakub. Sayang sekali Esau memandang hak itu biasa saja, bisa berarti juga ia memandang rendah berkat-berkat Allah dan janji-janji dari Allah. Ia gampang sekali mengikuti hawa nafsunya memilih kesenangan sesaat sebagai pengganti berkat-berkat jangka panjang. Jadi, ia "memandang ringan hak kesulungan" (ayat 34; bd. Ibr 12:16). Yakub, sebaliknya sangat menghargai hak itu, ia menginginkan berkat-berkat rohani masa depan dan ia begitu memperhatikan perjanjian Allah.
Hal yang dapat dipelajari dari cerita ini terutama dari apa yang dilakukan Esau diantaranya:
- Nafsu makannya sangat besar (ayat 29-30). Esau begitu bernafsu dan untuk itu apapun dilakukan untuk memuaskan nafsunya itu. Godaan terbesar bukan berasal dari makanan yang dibuat Yakub tetapi dari keinginan Esau untuk memakannya.
- Alasan yang dibuat (atau dibuat-buatnya) untuk meyakinkan bukan saja orang lain (Yakub) tetapi juga dirinya sendiri untuk meminta makanan dari Yakub. Esau berkata, “Sebentar lagi aku akan mati” (ayat 32). Apakah memang begitu, apakah tidak ada hal lain yang bisa membantu mempertahankan hidupnya selain masakan ini? Nampak bahwa keinginannya mendorong dirinya untuk membesar-besarkan rasa laparnya seolah-olah ia akan mati kalau tidak segera makan. 
- Bagaimanapun seharusnya Esau dan Yakub paham bahwa hak kesulungan yang adalah bagiannya Esau sesungguhnya bukan hanya soal warisan harta benda yang lebih banyak tetapi sesuatu yang bersifat rohani, warisan perjanjian Allah. Sikap Yakub yang meremehkan hak itu merupakan sebuah kecemaran, adalah suatu kebodohan yang menjijikkan apabila kita melepaskan bagian kita di dalam Allah, Kristus, dan sorga, demi kekayaan, kehormatan, dan kesenangan dunia ini. Itu merupakan suatu tawaran yang buruk seperti orang yang menjual hak kesulungannya demi semangkuk sup.
- Setelah dengan mudahnya melepaskan hak kesulungannya, tidak sedikitpun terpikir oleh Esau untuk kembali memohon kepada Yakub untuk membatalkan sumpahnya, sebaliknya ia pergi begitu saja (ayat 34). Tidak terpikir baginya sebuah rasa menyesal dan bertobat atas kesalahan yang dilakukannya. Seharusnya ia masih punya kesempatan untuk memperbaikinya, misalnya dengan melaporkan kepada ayahnya (yang sangat mengasihinya) agar masalah itu diselesaikan, namun ia tidak melakukannya. Sumpahnya dan tidak adanya upaya untuk memperbaiki kesalahannya membuat dia benar-benar kehilangan hak kesulungannya. Banyak kali terjadi, orang menjadi hancur bukan karena berbuat salah, melainkan terlebih karena mereka tidak mau bertobat darinya. Mereka melakukan kesalahan dan bersikukuh dengan kesalahan itu..
Hal yang dapat diajarkan kepada anak-anak adalah bagaimana anak-anak mengenali keinginan-keinginan diri mereka sendiri dan mulai belajar mengendalikan keinginan yang menjurumuskan kedalam kesalahan.
Makan bukanlah sebuah kesalahan, tetapi keinginan makan yang begitu besar sehingga mempertaruhkan hak kesulungannya adalah sebuah kesalahan besar yang dilakukan Esau. Demikian juga bermain bukan sesuatu yang salah bagi anak-anak tetapi ketika mereka mengabaikan hal-hal lain karena keinginan bermain yang sangat besar tentunya salah.


Cerita



Alat Peraga

Gambar Peraga

Aktivitas

Mewarnai, teka-teki

Ayat Hafalan

1 Petrus 1:14
Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu,