This blog contains materials for Sunday School Sermon. The sermon materials are written in Indonesian, but I hope the activities and visual images contained in it can be used by anyone with any language, please feel free to use it

Sunday, October 2, 2016

Kepercayaan yang Benar (Kisah Para Rasul 8:4-25)

Bahan Ajar PAR 02 Oktober 2016
Tema : “Kepercayaan yang Benar” (Kisah Para Rasul 8:4-25)
Tujuan :
- Anak-anak tahu bahwa karunia keselamatan adalah anugerah Tuhan
- Anak-anak tahu bahwa anugerah bukan sesuatu yang bisa dibeli atau harus dibayar
- Anak-anak mau mengikut Tuhan karena mereka mengasihi Tuhan

Pokok Renungan
Bacaan hari ini terbagi dalam 2 perikop, yang pertama menceritakan tentang pertobatan yang dialami oleh seorang penyihir bernama Simon dan pada perikop kedua berisi teguran Petrus kepada Simon si Penyihir.
Kisah ini sendiri tidak semata-mata bercerita tentang Simon si Penyihir, lebih luas diceritakan tentang pertobatan dan baptisan yang diterima oleh orang-orang Samaria setelah diinjili oleh Filipus. Orang-orang Samaria sendiri memilih untuk bertobat setelah mendengar pemberitaan tentang Mesias yang disertai dengan tanda-tanda kuasa yang ditunjukkan oleh Filipus (ayat 4-8).
Adapun Simon si Penyihir sendiri kemudian memilih untuk menerima baptisan dan mengikuti Filipus karena ia merasa Filipus lebih hebat dari dirinya yang selama ini dianggap hebat dan puja oleh orang-orang Samaria (ayat 9-11). Nampak bahwa ia merasa kalah dibanding Filipus karenanya ia bermaksud mengikuti Filipus sehingga ia bisa mempelajari kuasa/kehebatan yang ditunjukkan oleh Filipus.
Pertobatan dan baptisan yang diterima Simon si Penyihir ini hanyalah sebuah cara untuk mendapatkan sesuatu yang lebih menarik dari pada apa yang sudah didapatkannya selama ini, sementara kesadaran untuk mengikut Tuhan Yesus sebagai Mesias belum ada dalam dirinya. Bahkan nampaknya orang Samaria yang bertobat saat itu juga belum menerima Tuhan Yesus dalam diri mereka secara utuh, sebab belum ada Roh Kudus yang berdiam dan bekerja dalam diri mereka sebagai orang percaya.
Karena itu Petrus dan Yohanes kemudian memutuskan untuk mendatangi orang-orang Samaria itu dan memohon kepada Tuhan agar atas diri orang-orang yang telah bertobat itu dicurahkan Roh Kudus (ayat 14-15).
Pencurahan Roh Kudus yang dilakukan oleh Petrus dan Yohanes itu mendapat perhatian dari Simon si Penyihir. Baginya mungkin ini kunci dari ilmu yang ingin ia pelajari ketika memutuskan mengikuti Filipus. Dan karena dalam dirinya juga belum ada Roh Kudus yang bekerja untuk menyadarkan atas dosa dan kesalahannya, nampaknya ia bahkan berpikir bahwa pertobatan dan baptisan yang diterimanya hanyalah sebuah cara atau persayaratan yang sama seperti cara-cara duniawi lainnya untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkannya. Mungkin sebelumnya ia pernah mengikuti berbagai ritual untuk mendapatkan atau mempelajari ilmu sihir yang ia miliki dan saat ini ia menganggap baptisan yang diterima sama seperti itu. Dan dengan cara duniawi pula ia mencoba untuk memperoleh kuasa yang sama seperti yang dimiliki oleh para rasul, yaitu dengan cara membeli.
Namun teguran Petrus yang keras (ayat 20-23) memberikan penegasan yang penting bagi Simon si Penyihir, orang-orang Samaria bahkan kita saat ini bahwa kuasa Allah tidak dapat dibeli, baik dengan uang maupun kemampuan yang kita miliki, dan juga kuasa dari Allah bukan untuk kepentingan atau kebangggan pribadi, apa yang Allah berikan semata-mata untuk kemuliaan namaNya, bukan untuk keuntungan pribadi.
Kepada anak-anak dapat kita ajarkan 2 hal tentang sikap yang benar sebagai pengikut Tuhan Yesus.
Yang pertama, kepercayaan kepada Tuhan Yesus bukanlah suatu jimat atau mantra yang bisa menghasilkan segala seuatu yang kita inginkan, jangan bersikap seperti Simon si Penyihir yang berharap dengan percaya dan dibaptis akan mendapat kuasa yang besar untuk melakukan sihirnya demi kebanggan dan keuntungan pribadinya. Anak-anak jangan berharap menjadi pintar dengan menjadi pengikut Tuhan Yesus tanpa mau belajar.
Yang kedua, bahwa apapun yang kita lakukan atau berikan untuk pekerjaan Tuhan, semata-mata untuk memuliakan nama Tuhan dan jangan lakukan untuk kemuliaan atau keuntungan diri kita sendiri. Berkat dan karunia dari Tuhan adalah pemberian Tuhan semata dan bukan hasil dari upaya kita karena itu jangan berpikir untuk membayar atau membeli berkat atau karunia Tuhan. Kita memberikan persembahan baik materi maupun diri kita sebagai respon atas kasih dan kemurahan yang Tuhan sudah anugerahkan kepada kita bukan untuk membayar atau membeli kasih dan karunia Tuhan.


Cerita Kelas Kecil



Cerita Kelas Besar



Alat Peraga

Gambar Peraga

Aktivitas

Maze

Cari Kata

Ayat Hafalan

Efesus 2:8-9
Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.


1 comment: