Blog ini berisi Bahan Ajar / Cerita Sekolah Minggu dalam Bahasa Indonesia, silakan dipakai / dikutip secara bebas dan gratis karena Firman Tuhan bebas untuk diberitakan dan diketahui oleh semua orang

This blog contains materials for Sunday School Sermon. The sermon materials are written in Indonesian, but I hope the activities and images contained can be used by anyone with any language, please feel free to use it

Friday, February 24, 2017

Jangan mengikuti hawa nafsu (Kejadian 25:29-34)

Bahan Ajar PAR 26 Februari 2017
Tema : “Jangan mengikuti hawa nafsu” (Kejadian 25:29-34)
Tujuan :
- Anak-anak tahu hawa nafsu menggiring kepada perbuatan yang salah
- Anak-anak dapat mengendalikan diri


Pokok Renungan

Hak kesulungan (yaitu, hak yang dimiliki oleh anak sulung) terdiri atas:
• kepemimpinan dalam ibadah dan keluarga;
• bagian ganda dalam harta warisan (bnd. Ul 21:17); dan
• hak memperoleh berkat perjanjian yang dijanjikan Allah kepada Abraham.
Hal itu tentunya dipahami oleh Esau dan Yakub. Sayang sekali Esau memandang hak itu biasa saja, bisa berarti juga ia memandang rendah berkat-berkat Allah dan janji-janji dari Allah. Ia gampang sekali mengikuti hawa nafsunya memilih kesenangan sesaat sebagai pengganti berkat-berkat jangka panjang. Jadi, ia "memandang ringan hak kesulungan" (ayat 34; bd. Ibr 12:16). Yakub, sebaliknya sangat menghargai hak itu, ia menginginkan berkat-berkat rohani masa depan dan ia begitu memperhatikan perjanjian Allah.
Hal yang dapat dipelajari dari cerita ini terutama dari apa yang dilakukan Esau diantaranya:
- Nafsu makannya sangat besar (ayat 29-30). Esau begitu bernafsu dan untuk itu apapun dilakukan untuk memuaskan nafsunya itu. Godaan terbesar bukan berasal dari makanan yang dibuat Yakub tetapi dari keinginan Esau untuk memakannya.
- Alasan yang dibuat (atau dibuat-buatnya) untuk meyakinkan bukan saja orang lain (Yakub) tetapi juga dirinya sendiri untuk meminta makanan dari Yakub. Esau berkata, “Sebentar lagi aku akan mati” (ayat 32). Apakah memang begitu, apakah tidak ada hal lain yang bisa membantu mempertahankan hidupnya selain masakan ini? Nampak bahwa keinginannya mendorong dirinya untuk membesar-besarkan rasa laparnya seolah-olah ia akan mati kalau tidak segera makan. 
- Bagaimanapun seharusnya Esau dan Yakub paham bahwa hak kesulungan yang adalah bagiannya Esau sesungguhnya bukan hanya soal warisan harta benda yang lebih banyak tetapi sesuatu yang bersifat rohani, warisan perjanjian Allah. Sikap Yakub yang meremehkan hak itu merupakan sebuah kecemaran, adalah suatu kebodohan yang menjijikkan apabila kita melepaskan bagian kita di dalam Allah, Kristus, dan sorga, demi kekayaan, kehormatan, dan kesenangan dunia ini. Itu merupakan suatu tawaran yang buruk seperti orang yang menjual hak kesulungannya demi semangkuk sup.
- Setelah dengan mudahnya melepaskan hak kesulungannya, tidak sedikitpun terpikir oleh Esau untuk kembali memohon kepada Yakub untuk membatalkan sumpahnya, sebaliknya ia pergi begitu saja (ayat 34). Tidak terpikir baginya sebuah rasa menyesal dan bertobat atas kesalahan yang dilakukannya. Seharusnya ia masih punya kesempatan untuk memperbaikinya, misalnya dengan melaporkan kepada ayahnya (yang sangat mengasihinya) agar masalah itu diselesaikan, namun ia tidak melakukannya. Sumpahnya dan tidak adanya upaya untuk memperbaiki kesalahannya membuat dia benar-benar kehilangan hak kesulungannya. Banyak kali terjadi, orang menjadi hancur bukan karena berbuat salah, melainkan terlebih karena mereka tidak mau bertobat darinya. Mereka melakukan kesalahan dan bersikukuh dengan kesalahan itu..
Hal yang dapat diajarkan kepada anak-anak adalah bagaimana anak-anak mengenali keinginan-keinginan diri mereka sendiri dan mulai belajar mengendalikan keinginan yang menjurumuskan kedalam kesalahan.
Makan bukanlah sebuah kesalahan, tetapi keinginan makan yang begitu besar sehingga mempertaruhkan hak kesulungannya adalah sebuah kesalahan besar yang dilakukan Esau. Demikian juga bermain bukan sesuatu yang salah bagi anak-anak tetapi ketika mereka mengabaikan hal-hal lain karena keinginan bermain yang sangat besar tentunya salah.


Cerita



Alat Peraga

Gambar Peraga

Aktivitas

Mewarnai, teka-teki

Ayat Hafalan

1 Petrus 1:14
Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu,

Friday, January 27, 2017

Kesalahan Pertama Di Dunia (Kejadian 3:1-6)

Bahan Ajar PAR 29 Januari 2017
Tema : “Kesalahan Pertama Di Dunia” (Kejadian 3:1-6)
Tujuan :
- Anak-anak tahu bahwa dosa pertama dimulai dari ketidaktaatan manusia
- Anak-anak tidak melanggar aturan/perintah


Pokok Renungan

Bacaan ini selengkapnya termuat dalam Kejadian 3:1-24, dibawah perikop ‘Manusia Jatuh Kedalam Dosa’.
Dalam bagian bacaan ini diceritakan bagaimana iblis yang mengambil rupa ular berusaha melawan Allah. Tetapi nampaknya iblis tahu ia tidak mungkin bisa berhadapan langsung dengan Allah maka, manusia, ciptaan Allah yang dijadikan alat untuk melawan Allah. Iblis memutarbalikan apa yang dikatakan Allah kepada Adam (ayat 3-4), yang menyebabkan Allah mengutuk ciptaan-Nya termasuk umat manusia yang diciptakan menurut gambar-Nya itu (ayat 16-19).
Godaan yang dipakai Iblis dimulai dengan memberikan manusia keraguan atas apa yang telah difirmankan oleh Allah, padahal seharusnya manusia terikat kepada Allah oleh iman pada firman-Nya sebagai kebenaran mutlak.
Yang kedua, Iblis, menggoda manusia agar percaya bahwa mereka bisa menjadi seperti Allah dan menentukan sendiri apa yang baik dan apa pula yang jahat.
Sekalipun manusia diberi akal untuk berpikir dan menentukan sesuatu namun seharusnya menusia tetap sadar bahwa Allah berhak untuk menentukan mana yang baik dan mana yang jahat, yang mana telah disampaikan melalui firmanNya. Firman Allah harus tetap menjadi pedoman utama, bukannya akal dan pikiran manusia.
Alkitab menyatakan bahwa semua yang berusaha menjadi Allah "akan lenyap dari bumi dan dari kolong langit ini" (bnd. Yer 10:10-11).
Yang tidak disadari oleh manusia, juga tidak dipahami oleh Iblis tentang maksud firman Allah yaitu ketika Adam dan Hawa berdosa, melanggar perintah Allah, seketika itu juga kematian moral dan rohani langsung terjadi (bd. Kej 2:17), sedangkan kematian jasmani baru dialami kemudian (Kej 5:5).
Allah telah berfirman, "pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati" (Kej 2:17). Jadi, ketika berbuat dosa, mereka langsung mati secara rohani dan moral (bd. Yoh 17:3).
Kematian moral merupakan kematian hidup Allah di dalam diri mereka dan tabiat mereka menjadi penuh dosa; kematian rohani berarti bahwa hubungan mereka dengan Allah sebelumnya sudah hancur. Sejak dosa Adam dan Hawa, semua orang yang lahir memasuki dunia dengan tabiat yang berdosa (Rom 8:5-8). Pencemaran tabiat manusia meliputi keinginan bawaan untuk mengikuti kemauannya sendiri tanpa memperhatikan Allah atau sesama, dan pencemaran ini diteruskan kepada semua orang (Kej 5:3; 6:5; 8:21; Ef 2:3)

Hal yang perlu ditekankan kepada anak-anak adalah tentang Firman Allah sebagai pedoman utama dalam menentukan yang baik dan jahat. Karena itu anak-anak seharusnya mengenal tentang yang baik dan yang jahat dari Firman Allah, sebagaimana yang diajarkan oleh orang tua juga di sekolah minggu.

Kesalahan pertama yang dilakukan manusia adalah ketika manusia menjadi ragu dan tidak taat pada perintah Allah. Karena itu ajarkan anak-anak untuk belajar menjadi taat dan jangan meragukan Firman Allah, dengan demikian mereka terhindar dari perbuatan salah.


Cerita



Alat Peraga

Gambar Peraga

Aktivitas

cari perbedaan 1

cari perbedaan 2

teka teki silang

menulis cerita

Ayat Hafalan

..

Friday, December 2, 2016

Bersiap menyambut Tuhan (Lukas 3:1-14)

Bahan Ajar PAR 04 Desember 2016
Tema : “Bersiap menyambut Tuhan” (Lukas 3:1-14)
Tujuan :
- Anak-anak tahu bahwa harus ada pertobatan dan hati yang baik untuk menyambut Tuhan
- Anak-anak mau menunjukkan pertobatan dan menjaga sikap yang baik yang berkenan kepada Tuhan

Pokok Renungan

Kisah tentang Yohanes Pembaptis menyampaikan pesan untuk bertobat ini dapat dibaca dalam keempat Injil, namun dalam Lukas yang paling mendetail tentang waktu, tempat dan apa yang terjadi.
Walaupun Yohanes Pembaptis bukan Mesias, namun dapat kita baca juga dalam Lukas 1, sebelum lahirpun ia sudah dipersiapkan menjadi pembuka jalan, mendahului Tuhan Yesus (bnd. Luk. 1:14-17).
Setelah cerita kelahirannya, hanya ada catatan bahwa ia bertambah besar dan kuat dan tinggal di padang gurun (Luk. 1:80)
Sebagaimana nabi-nabi zaman Perjanjian Lama, Yohanes juga apa yang disampaikan oleh Yohanes adalah apa yang diperintahkan oleh Tuhan (ayat 2 bnd. Yer. 1:2). Selayaknya Yohanes juga disebut sebagai seorang nabi. Dan sebagaimana nabi-nabi pada masa PL, Yohanes juga diutus untuk menyampaikan pesannya kepada suatu bangsa/masyarakat (ayat 3) untuk bertobat dan kembali kepada Tuhan. Sebagai tanda dan materai bagi mereka yang bertobat dan kembali kepada Tuhan, setiap orang yang bertobat dibaptis dengan air di sungai Yordan.
Dalam ayat 4-6, Yohanes menegaskan kembali dan menggenapi nubuat yang disampaikan oleh nabi Yesaya tentang perlunya persiapan untuk menyambut kedatangan Tuhan (bnd Yes. 40:3-5).
Lebih lanjut, Yohanes menjelaskan maksud nubuat yang telah disampaikan itu (ayat 11-14) bahwa yang dimaksudkan adalah bagaimana mempersiapkan hati/diri untuk  menyambut kedatangan Tuhan. 
Persiapan diri/hati dalam pengajaran Yohanes ini ditekankan pada pentingnya perubahan sikap dan kebiasaan yang lama, yang tidak berkenan kepada Allah, dengan sikap yang baru yang berkenan kepada Allah, dan itulah yang disebut ‘bertobat’. Hanya dengan cara itu pula ada pengampunan dosa dari Allah.
Pertobatan harus ditindaklanjuti dengan suatu keinginan untuk menjauhkan diri dari dosa, sebagaimana Yohanes menyerukan semua orang yang bertobat kemudian memberikan diri untuk dibaptis sebagai tanda dan materai.
Karena itu, setiap orang yang telah bertobat seharusnya tidak lagi kembali kepada jalan yang salah.
Dengan keinginan yang kuat serta keteguhan hati untuk tetap hidup berkenan kepada Tuhan saja yang membuat seseorang layak menyambut kedatangan Tuhan.
Kepada anak-anak dapat diajak untuk memperhatikan sikap dan tingkah lakunya setiap hari yang harus berkenan kepada Tuhan. Jika ada hal buruk yang biasa dilakukannya, ajak anak-anak untuk mulai merubahnya dan mau berjanji untuk tidak melakukannya lagi.


Cerita



Alat Peraga

Aktivitas

Teka-teki Silang 1

Teka-teki Silang 2

Mewarnai

Menghubungkan gambar

Ayat Hafalan

..

Sunday, October 23, 2016

Kuasa Doa (Kisah Para Rasul 12:1-19)

Bahan Ajar PAR 23 Oktober 2016
Tema : “Kuasa Doa” (Kisah Para Rasul 12:1-19)
Tujuan :
- Anak-anak tahu bahwa doa yang benar sangat besar kuasanya
- Anak-anak mau berdoa dan berserah kepada Tuhan dan menyerahkan hidupnya dalam rancangan Tuhan

Pokok Renungan

Bacaan hari ini memuat kisah tentang 2 orang murid Tuhan Yesus, Yakobus dan Petrus. Bagian awal (ayat 1-2) menyinggung secara ringkas tentang bagaimana Yakobus mati, sedangkan sisanya, mulai ayat 3 menceritakan tentang Petrus.
Dalam cerita ini, apa yang dialami oleh kedua murid Tuhan Yesus ini bertolak belakang, yang satu mati sementara yang satu lolos dari kematian.
Walapun secara singkat diceritakan tentang mengapa dan bagaimana Yakobus dibunuh, kita dapat melihat bahwa kematiannya adalah sebagai martir dimana ia mati karena nama Yesus. Nampak bahwa Herodes memang menyuruh membunuh Yakobus karena ia memberitakan Firman Tuhan.
Mungkin yang akan menjadi pertanyaan, mengapa Yakobus mati sedangkan Petrus lolos dari kematian, apakah karena Petrus didoakan sedangkan Yakobus tidak?
Tentu saja semua rasul selalu berdoa dan didoakan oleh para jemaat waktu itu bahkan jemaat mula-mula senantiasa berdoa bersama (bnd. Kis 1:14; 2:42; 4:24-31).
Apakah ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak adil?
Tentu saja tidak. Dari semua rasul, selain Yudas Iskariot, hanya Yakobus yang kematiannya tercatat dalam Alkitab, dan ini dapat dipahami sebagai sebuah kehormatan baginya sebagai martir pertama dari antara para murid Tuhan Yesus. Ini tentu adalah bagian dari rencana dan kehendak Tuhan bagi dirinya (bnd. Mrk. 10:35-41). Sementara Petrus, Tuhan punya rencana lain untuknya. 
Cerita tentang lolosnya Petrus dari penjara juga menampilkan sebuah kisah supranatural, diluar pemikiran para jemaat yang setia mendoakan Petrus. Tentunya mereka berdoa mengharapkan agar Petrus dibebaskan namun mereka tentu tidak pernah memikirkan cara Petrus lolos dengan diselamatkan oleh malaikat.
Bahkan dalam pikiran mereka, mungkin Petrus akan mati (bnd. ayat 15), tapi mereka tetap setia mendoakannya. 
Cara Tuhan meloloskan Petrus dari penjara juga mengajarkan kepada jemaat bahwa Tuhan punya berbagai cara, bahkan yang ajaib sekalipun, untuk menolong umatNya sehingga tidak ada satupun rencana Tuhan yang bisa digagalkan oleh manusia bahkan oleh orang paling berkuasa sekalipun.
Hal penting dan menarik yang dapat dipelajari dan diajarkan dari kisah ini adalah:

  • Berdoa merupakan bagian dari kehidupan umat Allah. Jemaat mula-mula menunjukkan betapa pentingnya berdoa dalam segala keadaan, baik dalam penganiayaan dan penderitaan maupun dalam sukacita.
  • Tuhan berhak menentukan apa yang terjadi pada diri kita, karena itu berserahlah kepada rancangan Tuhan dalam setiap doa dan pengharapan. Tuhan akan menjawab sesuai rencanaNya dalam hidup kita. Sebagaimana jemaat mula-mula menyerahkan sepenuhnya kepada rancangan Tuhan apapun yang akan dialami oleh Petrus.
  • Tuhan punya kuasa jauh diatas apa yang bisa kita pikirkan, karena itu berdoa dan mintalah kepadaNya serta yakinlah bahwa Tuhan mampu melakukan apapun dalam hidup kita tapi tentu Ia akan menjawab sesuai dengan rencanaNya dalam hidup kita.



Cerita Kelas kecil



Cerita Kelas Besar



Alat peraga

Gambar peraga

Aktivitas

Mewarnai

Menulis Doa

Teka-teki silang

Ayat Hafalan

Yakobus 5 : 16b
Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.

Saturday, October 15, 2016

Bertekun dalam Doa (Lukas 18:1-8)

Bahan Ajar PAR 16 Oktober 2016
Tema : “Bertekun dalam Doa” (Lukas 18:1-8)
Tujuan :
  • Anak-anak tahu bahwa Tuhan Yesus menginginkan setiap orang untuk bertekun dalam doa
  • Anak-anak mau berdoa dan selalu melakukan kehendak Tuhan dalam kehidupannya setiap hari 

Pokok Renungan

Maksud dan tujuan perumpamaan dalam bacaan hari ini sudah dipaparkan di ayat 1, kita diajarkan untuk selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu. Ini menggambarkan bahwa umat Allah adalah umat harus selalu berdoa dan berkomunikasi dengan Allah. 
Dua tokoh sentral dalam perumpamaan ini adalah seorang hakim yang lalim dan seorang janda.
Hakim ini punya tabiat yang tidak terpuji. Ia tidak takut akan Allah dan tidak menghormati siapapun. Hal ini cukup menggambarkan bahwa ia adalah seorang yang tidak berperikemanusiaan / kejam / lalim.
Sementara janda ini nampaknya adalah seorang yang tidak punya apa-apa, ia tidak mampu membayar seorang pembela untuk membela haknya, dan walaupun ia tahu hakim itu adalah seorang yang lalim namun ia hanya bisa berharap kepada hakim itu. Selain itu, hal ini menggambarkan bahwa janda itu benar, karenanya ia berusaha mencari keadilan walaupun resikonya ia sendiri bisa dihukum karena mengganggu si hakim.
Permintaan si janda yang tidak jemu-jemu menyusahkan sang hakim (ayat 5), karena itu sang hakim yang terkenal lalim ini akhirnya membenarkan janda yang gigih ini. Dari perumpamaan ini Tuhan Yesus menunjukkan betapa besarnya kuasa yang bisa ditimbulkan dari kegigihan dan ketekunan pada diri manusia. Tanpa hal lain, hakim yang lalim itu bertindak bukan karena keadilan atau rasa kasihan, namun murni karena kegigihan janda itu.
Perumpamaan ini tidak menggambarkan Allah sebagai hakim yang lalim namun memberi perbandingan bahwa seorang yang kejam dan tidak mengenal kasih pun bisa luluh karena kegigihan, apalagi Allah yang penuh kasih.
Perumpamaan ini dipakai oleh Tuhan Yesus untuk mendorong umat Allah supaya berdoa dengan iman dan kegigihan, dan bertekun di dalamnya. Tuhan Yesus menjamin bahwa Allah akan bermurah hati kepada umat-Nya (ayat 7).
Walaupun ada jaminan itu, Tuhan Yesus juga mengingatkan bahwa yang dibenarkan adalah mereka yang beriman kepada-Nya, yaitu mereka yang melakukan kehendak-Nya (ayat 8; bnd. Mat. 7:21-23).
Sebagaimana janda dalam perumpamaan ini hanya bisa memohon kepada hakim yang lalim itu, memberikan gambaran tentang ketidakberdayaan janda itu, walaupun ia dalam posisi yang benar namun ia percayakan nasibnya kepada keputusan hakim itu, ia hanya bisa memohon kepada hakim itu, penyerahan diri sepenuhnya juga harusnya ditunjukkan oleh setiap umat Allah yang berseru dan memohon kepada Allah. Apapun yang menjadi jawaban Allah atas doa kita, yang akan terjadi dalam hidup kita, biarlah itu menjadi kehendak Allah.
Dari perumpamaan ini, ada beberapa hal yang bisa ditanamkan dalam diri anak-anak, diantaranya:

  • Anak-anak harus belajar berdoa dan mau berdoa, karena beroda adalah hal yang penting, Tuhan Yesus sendiri mengajarkan pengikut-Nya untuk selalu berdoa.
  • Ada jaminan bahwa Tuhan akan mendengar setiap doa yang disampaikan oleh anak-anakNya.
  • Berdoa yang benar adalah yang berserah kepada keputusan Tuhan, biarkan Tuhan bekerja dan berkarya dalam hidup anak-anak.
  • Tuhan mendengarkan doa orang-orang yang beriman dan melakukan kehendakNya, karena anak-anak juga harus selalu melakukan kehendak Tuhan dalam kehidupannya.



Alat Peraga

Gambar Peraga


Aktifitas

Mewarnai

Maze
Hiasan dinding doa ‘Bapa Kami’ 


Ayat Hafalan

Matius 7 : 11b
“Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya."

Friday, October 7, 2016

Saya Bisa Melayani (Kisah Para Rasul 9:32-43)

Bahan Ajar PAR 09 Oktober 2016
Tema : “Saya Bisa Melayani” (Kisah Para Rasul 9:32-43)
Tujuan :
- Anak-anak tahu bahwa Tuhan memberikan semua orang kemampuan untuk melayani
- Anak-anak mau melayani Tuhan dengan kemampuan yang Tuhan berikan.


Pokok Renungan

Bacaan Alkitab hari ini berkisah seputar masa awal perkembangan Kristen, dimana melalui pelayanan yang dijalankan oleh para rasul dalam tuntunan Roh Kudus, menghasilkan banyak orang menjadi percaya dan menjadi pengikut Kristus.
Dalam tanggung jawabnya, sebagaimana yang diperintahkan oleh Tuhan Yesus (bnd. Mat. 28:16-20), Petrus mengunjungi jemaat-jemaat yang sudah ada dan memberitakan injil kepada mereka yang belum percaya, termasuk mengujungi Lida, dimana di tempat itu sudah ada pengikut Kristus, walaupun mungkin belum banyak. Di tempat itu Petrus menunjukkan kuasa Allah melalui kesembuhan Eneas yang sudah tidak bisa bangun karena sakit selama 8 tahun, dan karena mujizat itu, semua penduduk di Lida juga Saron menjadi percaya dan mengikut Tuhan.
Kemampuan yang Tuhan berikan kepada Petrus, dipakainya untuk memberitakan injil dan mengenalkan Kristus kepada orang banyak. Disini kita perhatikan bahwa petrus tetap berpusat pada Kristus sebagai sumber segala kemampuan itu (ayat 34).
Hal yang sama juga dilakukan Petrus di  Yope.  Yope adalah sebuah kota di tepi laut, sekitar sepuluh mil (16 Km) sebelah barat laut Lida.
Yang menarik adalah, di kota ini ada seorang perempuan bernama Tabita yang digambarkan sebagai seorang yang baik hati, ia juga seorang murid Tuhan, sangat disayangi oleh orang-orang Kristen.
Karena sangat baik dan disayangi oleh banyak orang, ketika ia mati, banyak orang merasa sedih dan merasa kehilangan bahkan nampak bahwa mereka berharap ia dapat hidup kembali. Ini ditunjukkan dengan upaya mereka memanggil Petrus yang saat itu ada di Lida.
Apa yang dilakukan oleh Tabita ini dengan kemampuannya sebagai seorang pembuatan pakaian (ayat 39) terutama perhatiannya yang besar kepada para janda, yang merupakan orang-orang susah, merupakan sebuah bentuk pelayanan sebagaimana yang harus dilakukan oleh setiap orang percaya.
Kebaikan Tabita yang diceritakan dalam bacaan ini menunjukkan kepada kita bahwa ada banyak cara untuk melayani dan menyampaikan kasih Tuhan kepada sesama, tidak hanya dengan berkhotbah seperti yang dilakukan Petrus dan rasul-rasul saja tetapi ketika kita mau memanfaatkan kemampuan kita untuk kebaikan bagi orang lain, itu merupakan bentuk pelayanan juga sebagai wujud pemberitaan firman Tuhan melalui perbuatan kita sebagai pengikut Kristus.
Tapi satu hal yang patut diwaspadai juga bahwa pelayanan yang kita lakukan dengan kemampuan kita dapat membuat kita lupa diri bahkan sombong dan merasa mampu melakukan sendiri tanpa Tuhan. Untuk itu sebagaimana yang Petrus lakukan, semua yang kita lakukan juga harus atas dasar kepercayaan dan iman kepada Yesus Kristus, serahkan semua pelayanan kita hanya kepada Tuhan Yesus.
Kepada anak-anak dapat diajarkan bahwa yang Tuhan harapkan dari anak-anak adalah sebagaimana Tabita dengan kemampuannya melayani orang-orang yang membutuhkan, anak-anak juga diminta untuk melakukan kebaikan kepada orang lain dan melayani Tuhan dengan kemampuan yang mereka miliki.
Dan ajar juga anak-anak untuk selalu melakukannya dengan tetap bersandar dan berpusat pada Tuhan Yesus. Karena sebagaimana Allah bekerja melalui Petrus untuk mengadakan kesembuhan dan membangkitkan orang mati, Dia juga bekerja melalui Dorkas dengan perbuatan-perbuatan kebaikan hati dan kasih, dan Dia juga akan berkerja melalui anak-anak dengan segala kemampuan yang mereka miliki. 


Cerita Kelas Kecil


Cerita Kelas Besar



Alat Peraga

Gambar Peraga

Aktivitas

Mewarnai

Sunday, October 2, 2016

Kepercayaan yang Benar (Kisah Para Rasul 8:4-25)

Bahan Ajar PAR 02 Oktober 2016
Tema : “Kepercayaan yang Benar” (Kisah Para Rasul 8:4-25)
Tujuan :
- Anak-anak tahu bahwa karunia keselamatan adalah anugerah Tuhan
- Anak-anak tahu bahwa anugerah bukan sesuatu yang bisa dibeli atau harus dibayar
- Anak-anak mau mengikut Tuhan karena mereka mengasihi Tuhan

Pokok Renungan
Bacaan hari ini terbagi dalam 2 perikop, yang pertama menceritakan tentang pertobatan yang dialami oleh seorang penyihir bernama Simon dan pada perikop kedua berisi teguran Petrus kepada Simon si Penyihir.
Kisah ini sendiri tidak semata-mata bercerita tentang Simon si Penyihir, lebih luas diceritakan tentang pertobatan dan baptisan yang diterima oleh orang-orang Samaria setelah diinjili oleh Filipus. Orang-orang Samaria sendiri memilih untuk bertobat setelah mendengar pemberitaan tentang Mesias yang disertai dengan tanda-tanda kuasa yang ditunjukkan oleh Filipus (ayat 4-8).
Adapun Simon si Penyihir sendiri kemudian memilih untuk menerima baptisan dan mengikuti Filipus karena ia merasa Filipus lebih hebat dari dirinya yang selama ini dianggap hebat dan puja oleh orang-orang Samaria (ayat 9-11). Nampak bahwa ia merasa kalah dibanding Filipus karenanya ia bermaksud mengikuti Filipus sehingga ia bisa mempelajari kuasa/kehebatan yang ditunjukkan oleh Filipus.
Pertobatan dan baptisan yang diterima Simon si Penyihir ini hanyalah sebuah cara untuk mendapatkan sesuatu yang lebih menarik dari pada apa yang sudah didapatkannya selama ini, sementara kesadaran untuk mengikut Tuhan Yesus sebagai Mesias belum ada dalam dirinya. Bahkan nampaknya orang Samaria yang bertobat saat itu juga belum menerima Tuhan Yesus dalam diri mereka secara utuh, sebab belum ada Roh Kudus yang berdiam dan bekerja dalam diri mereka sebagai orang percaya.
Karena itu Petrus dan Yohanes kemudian memutuskan untuk mendatangi orang-orang Samaria itu dan memohon kepada Tuhan agar atas diri orang-orang yang telah bertobat itu dicurahkan Roh Kudus (ayat 14-15).
Pencurahan Roh Kudus yang dilakukan oleh Petrus dan Yohanes itu mendapat perhatian dari Simon si Penyihir. Baginya mungkin ini kunci dari ilmu yang ingin ia pelajari ketika memutuskan mengikuti Filipus. Dan karena dalam dirinya juga belum ada Roh Kudus yang bekerja untuk menyadarkan atas dosa dan kesalahannya, nampaknya ia bahkan berpikir bahwa pertobatan dan baptisan yang diterimanya hanyalah sebuah cara atau persayaratan yang sama seperti cara-cara duniawi lainnya untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkannya. Mungkin sebelumnya ia pernah mengikuti berbagai ritual untuk mendapatkan atau mempelajari ilmu sihir yang ia miliki dan saat ini ia menganggap baptisan yang diterima sama seperti itu. Dan dengan cara duniawi pula ia mencoba untuk memperoleh kuasa yang sama seperti yang dimiliki oleh para rasul, yaitu dengan cara membeli.
Namun teguran Petrus yang keras (ayat 20-23) memberikan penegasan yang penting bagi Simon si Penyihir, orang-orang Samaria bahkan kita saat ini bahwa kuasa Allah tidak dapat dibeli, baik dengan uang maupun kemampuan yang kita miliki, dan juga kuasa dari Allah bukan untuk kepentingan atau kebangggan pribadi, apa yang Allah berikan semata-mata untuk kemuliaan namaNya, bukan untuk keuntungan pribadi.
Kepada anak-anak dapat kita ajarkan 2 hal tentang sikap yang benar sebagai pengikut Tuhan Yesus.
Yang pertama, kepercayaan kepada Tuhan Yesus bukanlah suatu jimat atau mantra yang bisa menghasilkan segala seuatu yang kita inginkan, jangan bersikap seperti Simon si Penyihir yang berharap dengan percaya dan dibaptis akan mendapat kuasa yang besar untuk melakukan sihirnya demi kebanggan dan keuntungan pribadinya. Anak-anak jangan berharap menjadi pintar dengan menjadi pengikut Tuhan Yesus tanpa mau belajar.
Yang kedua, bahwa apapun yang kita lakukan atau berikan untuk pekerjaan Tuhan, semata-mata untuk memuliakan nama Tuhan dan jangan lakukan untuk kemuliaan atau keuntungan diri kita sendiri. Berkat dan karunia dari Tuhan adalah pemberian Tuhan semata dan bukan hasil dari upaya kita karena itu jangan berpikir untuk membayar atau membeli berkat atau karunia Tuhan. Kita memberikan persembahan baik materi maupun diri kita sebagai respon atas kasih dan kemurahan yang Tuhan sudah anugerahkan kepada kita bukan untuk membayar atau membeli kasih dan karunia Tuhan.


Cerita Kelas Kecil



Cerita Kelas Besar



Alat Peraga

Gambar Peraga

Aktivitas

Maze

Cari Kata

Ayat Hafalan

Efesus 2:8-9
Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.