Blog ini berisi Bahan Ajar / Cerita Sekolah Minggu dalam Bahasa Indonesia, silakan dipakai / dikutip secara bebas dan gratis karena Firman Tuhan bebas untuk diberitakan dan diketahui oleh semua orang

This blog contains materials for Sunday School Sermon. The sermon materials are written in Indonesian, but I hope the activities and images contained can be used by anyone with any language, please feel free to use it

Saturday, August 5, 2017

Setia belajar Firman Tuhan (2 Raja-raja 2:1-18)

Bahan Ajar Sekolah Minggu 06 Agustus 2017
Tema : “Setia belajar Firman Tuhan” (2 Raja-raja 2:1-18)
Tujuan :
- Anak-anak tahu bahwa Tuhan memperhatikan kesetiaan yang Elisa tunjukkan dalam mengikuti dan belajar pada nabi Elia
- Anak-anak mau setia belajar firman Tuhan dan melakukan dalam kehidupannya


Pokok Renungan

Elisa yang dipilih oleh Tuhan untuk melayani nabi Elia, menunjukkan kesetiaannya yang sangat besar kepada sang abdi Allah. Memang kalau kita membaca bagian alkitab yang memuat kisah setelah terpanggilnya Elisa untuk melayani Elia (1 Raj. 19:19-21) tidak disebutkan lagi nama Elisa dalam peristiwa-peristiwa yang dialami oleh Elia, namun dapat dipastikan Elisa ada bersama Elia saat semua kejadian itu berlangsung dan dari semua itu Elisa belajar untuk memahami tentang kuasa Tuhan juga mempersiapkan diri untuk menggantikan Elia sebagai nabi.
Cerita yang memuat nama Elisa kembali muncul pada saat Elia akan kembali kepada Tuhan dengan diangkat naik ke surga. Saat itu, Elia dan Elisa sedang berjalan menuju ke tempat dimana Tuhan akan mengangkat Elia ke surga. Apa yang akan terjadi, yaitu perpisahan antara mereka pasti sudah diketahui dan dapat kita bayangkan pasti hal itu membuat perasaan sedih dan tidak nyaman bagi keduanya, nampaknya Elia sendiri tidak ingin membuat Elisa sedih karena mereka harus berpisah sehingga menyuruh Elisa untuk meninggalkan Elia berjalan sendiri menuju tempat tujuannya. Namun Elisa tidak ingin meninggalkan tuannya walaupun ia tahu bahwa tidak mungkin menghindari perpisahan itu. Ia menunjukkan kesetiaan yang besar kepada tuannya. Bahkan ketika beberapa rombongan nabi yang mereka temui di jalan mencoba bertanya dan mungkin mempengaruhinya untuk berhenti mengikuti tuannya karena ia akan pergi namun Elisa tidak terpengaruh oleh semua itu dan ia tetap saja mengikuti tuannya.
Kesetiaan Elisa itu diperhitungkan oleh Tuhan, melalui Elia, Tuhan menurunkan roh kepadanya sehingga Elisa memiliki kuasa sebagai seorang nabi. Hal itu juga dimungkinkan karena Elisa sendiri menyatakan kesiapan dirinya dengan menyatakan permintaannya kepada Elia. Elisa tahu apa yang harus diminta ketika Elia bertanya kepadanya saat akan meninggalkan dia naik ke surga.Dari pengalaman Elisa mengikuti Elia, ia belajar bahwa roh yang berasal dari Allah itu adalah hal yang penting dan berarti yang pantas ia minta sehingga ia dapat juga melanjutkan pelayanan yang sudah dilakukan oleh Elia.
Dari kisah yang singkat ini, ada hal yang penting yang dapat dipelajari oleh para pengajar dan juga diajarkan kepada anak-anak adalah bagaimana kesetiaan dalam mengikut Tuhan dan belajar untuk memahami kehendak Tuhan adalah hal yang penting, agar apa yang Tuhan inginkan dalam hidup kita dapat terwujud dengan baik. Juga tentunya kesadaran bahwa tuntunan roh adalah sangat penting karena tanpa itu tidak mungkin kita dapat memahami dan melakukan kehendak Tuhan.
Ajarkan kepada anak-anak untuk setia mempelajari firman Tuhan. Jangan biarkan diri tergoda dengan berbagai pikiran bahwa firman itu tidak penting dibandingkan hal lain yang populer. Dunia saat ini cenderung mengarahkan kehidupan anak-anak mengutamakan pemahaman tentang ilmu pengetahuan dan sebaliknya mengesampingkan pemahaman firman Tuhan. Hal itu juga menjadi tantangan tersendiri bagi para pengajar. 
Sebagai dasar dari segala upaya memahami firman TUhan, ajarkan anak-anak bahwa hal terpenting adalah selalu meminta tuntunan Roh Kudus dalam doa dan permohonan kepada Tuhan. Agar mereka dimampukan untuk setia dan mau belajar memahami serta melakukan firman Tuhan dalam kehidupan setiap hari.

Bagian bacaan hari ini diakhiri dengan cerita bagaimana orang-orang melihat dan percaya bahwa kuasa yang berasal dari Tuhan memang telah turun atas diri Elisa sehingga ia mampu melakukan apa yang dilakukan oleh Elia.
Demikian juga anak-anak yang melakukan segala hal yang berkenan kepada Tuhan dalam kehidupannya sehari-hari akan dilihat oleh orang lain dan karena perbuatan-perbiatan baik itu orang yang melihatnya akan tau juga bahwa kuasa Tuhan juga bekerja dalam diri anak-anak yang telah melakukan apa yang berkenan kepada Tuhan.


Alat Peraga

Gambar Peraga

Aktivitas

Maze

Perbedaan Gambar

Teka-teki Silang

Ayat Hafalan

Efesus 3:20
Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita,

Friday, June 16, 2017

Tanggung Jawab Dari Tuhan (1 Raja-raja 6:1-38)


Bahan Ajar PAR 18 Juni 2017
Tema : “Tanggung Jawab Dari Tuhan”  (1 Raja-raja 6:1-38)
Tujuan :
- Anak-anak tahu bahwa berkat dan anugerah dari Tuhan disertai juga tanggung jawab dari manusia yang menerimanya
- Anak-anak belajar bertanggung jawab atas apa yang Tuhan berikan bagi hidupnya
- Anak-anak bertanggungjawab atas setiap pilihan yang dibuat olehnya

Pokok Renungan

Cerita yang kita baca hari ini dimulai dengan menyebutkan waktu yang tepat dimulainya pembangunan Bait Allah di Yerusalem. Dari catatan ini juga kemudian dapat diperkirakan waktu keluarnya bangsa Israel dari Mesir. Salomo mulai membangun Bait Suci sekitar tahun 966 SM -waktu ini ditetapkan dengan menggabungkan data alkitab dengan catatan kronologis Asyur- dari situ didapatkan peristiwa keluaran terjadi 480 tahun sebelum tahun tersebut, sehingga peristiwa keluaran terjadi sekitar tahun 1446 SM (bd. Kis 13:19-20).
Selain waktu yang cukup tepat, secara detail juga digambarkan ukuran-ukuran serta letak ruang dalam bangunan Bait Suci sehingga kita saat ini dapat membayangkan atau menggambarkannya kembali dengan mudah seperti apa bentuk Bait Suci itu.
Bait Suci sendiri merupakan tempat untuk menyimpan tabut perjanjian (Kel 25:16), sehingga memang merupakan tempat yang khusus, tidak ada tempat lain yang sama dan tidak pernah ada tempat seperti itu sebelumnya. Bait itu merupakan tanda dan janji yang diwujudkan dari hubungan perjanjian antara Allah dengan umat-Nya (Kel 29:45-46), dan dibangun atas izin dan petunjuk dari Allah sendiri (bnd. 1Raj 5:5; 8:16; 9:3). 
Satu hal menarik yang bisa direnungkan dari cerita ini adalah tentang diri Salomo. Ia adalah raja yang dizinkan Tuhan untuk mendirikan Bait Suci untuk tempat kediaman Allah. Ia mendapat hak yang sangat istimewa, setidaknya dibandingkan Saul dan juga bapaknya Daud. Melihat hal ini, bisa dianggap ia adalah seorang raja yang sangat penting di mata Tuhan, juga karena ia mempunyai sesuatu yang lebih dari Daud bapaknya. 
Namun demikian, walaupun ia tampak lebih dari Daud, ayat 12-13 mencatat sebuah peringatan dari Tuhan kepadanya agar ia harus tetap menaati perintah-perintah Tuhan Allah sebagaimana janji Tuhan kepada bapaknya Daud juga, supaya ia tetap berada dalam lindungan Tuhan Allah. janji dan pesan dari Tuhan yang sama seperti yang dapat dibaca dalam 1Raj 2:3-4 dan 1Raj 3:14. Tuhan berulang kali menegaskan perjanjian kepada Salomo dengan persyaratan tertentu, Tuhan memberikan keistimewaan yang bersyarat kepada Salom.
Disini dapat kita pelajari betapa hak istimewa dan besar dari Tuhan juga akan disertai dengan tanggung jawab yang besar. Salomo begitu istimewa karena mendapat hak istimewa dari Tuhan, demikian juga ia menjadi istimewa bagi bangsa Israel karena lewat dirinya keadilan dari Tuhan dapat ditegakkan diantara umat Israel, tapi karena itu juga, pilihan hidupnya juga akan sangat berpengaruh terhadap kehidupan bahkan kelangsungan hidup bangsa Israel. 
Kita dapat belajar, juga mengajarkan kepada anak-anak, tentang keistimewaan dan tanggung jawab yang diemban oleh Salomo ini. Karena setiap kita juga, dalam kapasitasnya masing-masing, diberikan hak dan keistimewaan yang disertai tanggung jawab. Ketika anak-anak mendapat hak untuk menentukan atau memilih sendiri sesuatu untuk dirinya, ia juga harus bertanggung jawab terhadap pilihannya itu, sekalipun untuk hal yang kecil saja. Misalnya ketika anak-anak diberi hak untuk menentukan berapa banyak makanan yang mau dimakannya, ia juga bertanggung jawab untuk menghabiskannya. Demikian juga hak-hak yang lain yang diberikan kepada anak-anak harus selalu disertai dengan tanggungjawab.
Hal lain yang juga bisa diperhatikan dalam cerita ini, betapa mendetail ukuran dan bentuk Bait Suci itu, bisa jadi waktu itu, bangunan Bait Suci merupakan karya arsitektur terbaik yang bisa dibuat. Ini mengajarkan kepada kita tentang keseriusan dan ketulusan hati dari Salomo yang menerima tanggung jawab dari Tuhan untuk membangun Bait Allah, selayaknya juga kita dalam menjalankan pelayanan, lakukanlah itu dengan keseriusan dan ketulusan yang penuh dan bukan sebagai pengisi waktu diantara kesibukan kita yang lain, berikan waktu terbaikmu untuk Tuhan.


Alat Peraga


Gambar Peraga

Aktivitas


Mewarnai
Rangkai Kata

Ayat Hafalan

Mat 25:23b
... engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar.....

Saturday, June 3, 2017

Roh Kudus (Kisah Para Rasul 2:1-13)

Bahan Ajar PAR 04 Juni 2017
Tema : “Roh Kudus”  (Kisah Para Rasul 2:1-13)
Tujuan :
- Anak-anak tahu apa yang terjadi pada hari Pentakosta
- Anak-anak tahu bahwa Tuhan menganugerahkan Roh Kudus untuk menyertai orang percaya
- Anak-anak meminta penyertaan Roh Kudus dalam doa dan permohonannya

Pokok Renungan

Pentakosta mungkin bukan hari raya yang cukup populer bagi anak-anak karena berada pada hari Minggu sehingga anak-anak mungkin menganggapnya seperti hari minggu yang biasa saja, apalagi jika di sekolah minggu anak-anak tidak diingatkan tentang hari Pentakosta. Tapi tentunya makna penting Pentakosta bagi kehidupan orang Kristen haruslah mulai dikenal oleh anak-anak karena dalam peristiwa inilah secara jelas diceritakan bagaimana Tuhan menganugerahkan Roh Kudus bagi manusia untuk memampukan mereka menjadi saksi Kristus, selain itu hal ini juga merupakan penggenapan dari janji yang Tuhan Yesus sendiri sampaikan kepada murid-murid saat akan naik ke surga (Kis. 1:8).
Memahami Pentakosta juga harus memahami tentang Roh Kudus, namun bukanlah hal mudah menggambarkan Roh Kudus bagi anak-anak, karena Roh Kudus tidak dapat digambarkan dalam sebuah wujud, walaupun dalam cerita digambarkan sebagai lidah api yang menyala-nyala tetapi tentunya Roh Kudus bukanlah api itu.
Roh Kudus diartikan sebagai Roh Kebenaran yang berasal dari Allah sendiri yang diam didalam diri setiap orang percaya. Karena Roh Kudus, orang percaya dimampukan untuk melakukan kehendak Allah dalam kehidupannya dan menjadi saksi tentang kebenaran Allah dalam setiap tindakan maupun perkataannya (bnd. Yoh. 14:16-17; Kis. 1:8). Roh Kudus juga adalah penghibur yang setia (Yoh. 14:26)
Roh Kudus memang tidak berwujud dan tidak kelihatan tetapi Roh Kudus memberikan kemampuan dalam diri setiap orang percaya untuk melakukan kehendak Bapa. Untuk dapat menjelaskan tentang hal itu kepada anak-anak, berikan contoh kepada anak-anak tentang cahaya sebagai penerang. Cahaya bukanlah sesuatu yang berwujud bahkan tidak kelihatan tetapi cahaya yang memampukan kita untuk melihat sesuatu, tanpa cahaya semuanya gelap dan tidak kelihatan. Demikian halnya peran Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya, tanpa Roh Kudus tidak ada yang mampu melakukan kehendak Bapa dan menjadi saksi tentang Kristus.
Cerita Pentakosta memberikan gambaran tentang apa yang dilakukan oleh murid-murid saat mereka dipenuhi dengan Roh Kudus, yaitu ketika mereka berbicara maka setiap orang yang mendengarkannya mampu memahami apa yang dikatakan mereka sesuai bahasa yang dimengerti oleh masing-masing orang yang mendengarkannya.
Hal itu bukan soal bahasa yang diucapkan tetapi pekerjaan Roh Kudus dalam diri mereka membuat apapun yang mereka katakan dapat dipahami. Jika hanya kekuatan dan kemampuan murid-murid tentunya hanya orang-orang yang berbahasa sama dengan mereka saja yang bisa memahami ucapan mereka.
Kekuatan dari Roh Kudus itu memampukan diri murid dan juga hal penting dari karya Roh Kudus adalah membuka hati dan mata semua orang yang mendengar dan melihat apa yang dilakukan oleh murid-murid.
Karya Roh Kudus inilah yang harus dimengerti oleh kita dan juga anak-anak sebagai kekuatan dari Tuhan yang akan bekerja dalam diri kita untuk memampukan kita dan bekerja dalam diri orang lain untuk membuka hati setiap orang yang melihat dan mendengarkan kita. Mungkin apa yang kita lakukan adalah hal kecil dan tidak berarti dimata orang lain namun hal itu akan menjadi berarti bagi kemuliaan nama Tuhan jika Roh Kudus bekerja didalamnya, dan karena karya Roh Kudus juga apa yang kita lakukan akan menjadi berarti bagi orang lain.
Ajarkan anak-anak untuk selalu memohon penyertaan Tuhan dalam Roh Kudus dalam setiap doa dan pujian untuk memampukan mereka melakukan setiap hal bagi kemuliaan nama Tuhan.


Alat Peraga

Gambar Peraga



Aktivitas

Mewarnai


Cari Kata

Lengkapi Cerita dan temukan kata rahasia

Ayat Hafalan

Kisah Rasul 2:4
Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.

Saturday, May 27, 2017

Tuhan Yesus Naik ke Surga (Kisah Para Rasul 1:1-11)

Bahan Ajar PAR 28 Mei 2017
Tema : “Tuhan Yesus Naik ke Surga”  (Kisah Para Rasul 1:1-11)
Tujuan :
- Anak-anak tahu Roh Kudus menyertai setiap orang percaya
- Anak-anak tahu bahwa Tuhan akan datang kembali
- Anak-anak selalu berpegang teguh pada iman kepada Tuhan Yesus

Pokok Renungan

Babak pelayanan yang dilakukan langsung oleh Tuhan Yesus ditutup dengan kenaikanNya ke surga. Namun itu bukan berarti akhir dari penyertaan Tuhan kepada orang-orang percaya, karena Ia sendiri kemudian memberikan Roh Kudus sebagai penolong dan pembimbing bagi setiap orang yang beriman kepadaNya (ayat 4-5).
Pertanyaan penting yang mungkin diajukan oleh anak-anak -bahkan orang dewasa- adalah mengapa Tuhan Yesus harus naik ke surga? Tidakkah lebih baik kalau Tuhan ada terus bersama manusia di bumi?
Kenaikan Tuhan Yesus ke surga merupakan hal penting bagi kehidupan dan kedewasaan iman orang percaya dan melalui peristiwa itu juga Ia memberikan jaminan tentang janji kehidupan kekal bagi setiap orang percaya.

Beberapa makna penting yang diterima oleh orang percaya dalam peristiwa kenaikan Tuhan Yesus, yaitu:

  • Maksud kedatangan Tuhan Yesus yaitu untuk mendamaikan manusia dengan Allah lewat pengorbananNya di kayu salib sudah terlaksana, dengan demikian kenaikan Tuhan Yesus sendiri merupakan pernyataan Allah bahwa Ia dalam kasih karuniaNya telah berdamai dengan manusia. Sekaligus dengan hal ini memberikan pernyataan tegas bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah.
  • Dengan kenaikanNya ke surga, Tuhan Yesus sendiri menunjukkan bahwa ada tempat yang telah disediakan bagi orang percaya, tempat dimana ada kekekalan dan kesanalah Tuhan Yesus pergi (bnd. Yohanes 14: 2-3)
  • Tuhan memberikan kembali hak dan mandat istimewa kepada manusia sebagai citra Allah di bumi ini setelah sebelumnya dirusak oleh kejatuhan manusia dalam dosa di taman Eden. Dengan kenaikan Tuhan Yesus, setiap orang percaya kemudian dikaruniakan penolong yaitu Roh Kudus yang akan memampukannya untuk menjalankan mandat istimewa dari Allah (ay 8). Dengan mandat istimewa dari Tuhan itu, setiap orang percaya dimampukan untuk menjadi saksi tentang kasih Allah lewat Tuhan Yesus.
  • Tuhan juga menunjukkan / menjanjikan bahwa ada suatu saat dimana Ia akan datang kembali dalam kemuliaan sebagaimana Ia pergi (ay 11) dengan demikian ada jaminan bahwa kapanpun waktunya nanti, kemuliaan Tuhan pasti dinyatakan lewat kedatanganNya kembali ke dalam dunia ini.

Dari beberapa makna kenaikan Tuhan Yesus ini, ada hal-hal yang harusnya menjadi respon orang percaya:

  • Kehidupan orang percaya adalah kehidupan yang sudah menang atas dosa dan sudah dijamin oleh Allah sendiri melalui pengorbanan Tuhan Yesus, dan juga Allah sendiri telah mengembalikan mandat kepada setiap orang percaya untuk menjadi saksiNya, karena itu setiap orang percaya sepatutnya merespon itu dengan selalu bersyukur dan menjadi saksi yang baik tentang kebaikan Tuhan melalui setiap kata dan perbuatannya. Dengan tidak menjadi saksi yang baik berarti menolak kasih karunia yang sudah Tuhan berikan.
  • Ada jaminan yang pasti tentang surga yang dijanjikan Tuhan juga tentang kemuliaan dan keadilan Tuhan yang dinyatakan melalui kedatangan Tuhan Yesus kembali. Karena itu tidak perlu ada ketakutan atau keraguan akan iman kepada Tuhan Yesus walaupun keadaan dunia dan berbagai tekanan kehidupan sering menggoda dan menekan orang untuk meninggalkan iman kepada Tuhan Yesus, tetaplah beriman kepada Tuhan Yesus karena apapun yang akan terjadi nanti, bagi setiap orang percaya ada kepastian untuk mendapat tempat kekal bersama Tuhan Yesus.

Alat Peraga

Gambar Peraga

Aktivitas

Mewarnai

Puzzle

Ayat Hafalan

Kisah Para Rasul 1:11b
...Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga.



Saturday, May 20, 2017

Setia pada Janji (2 Samuel 9:1-13)

Bahan Ajar PAR 21 Mei 2017
Tema : “Setia pada Janji”  (2 Samuel 9:1-13)
Tujuan :
- Anak-anak tahu Tuhan mengasihi orang yang setia
- Anak-anak mau setia pada janjinya kepada Tuhan bahkan sesama
- Anak-anak belajar untuk rendah hati

Pokok Renungan

Dalam cerita sebelumnya, setelah Daud mengambil tombak dan kendi yang terletak disamping kepala Saul yang sedang tertidur, kemudian mengembalikannya kepada Saul, sebagai tanda bahwa ia setia dan menghormati Saul sebagai orang yang diurapi Tuhan, Daud kemudian pergi meninggalkan tanah Israel dan berdiam di daerah orang Filistin. Sejak saat itu, Daud tidak pernah lagi bertemu Saul maupun Yonatan.
Setelah beberapa waktu berdiam di daerah orang Filistin, beberapa raja meminta agar Daud disuruh pergi dari antara orang Filistin, karena mereka takut suatu saat ia akan membunuh mereka, sehingga Daud bersama orang-orangnya pulang kembali ke daerah Israel. Tidak lama kemudian ia mendengar kabar kematian Saul dan Yonatan yang membuatnya sangat berduka dan setelah itu ia dinobatkan menjadi raja atas Yehuda. Namun masih ada Isyboset salah satu anak Saul yang juga dinobatkan menjadi raja atas Israel yang menentang dan berperang dengan Daud. Isyboset bersama Abner, bekas panglima tentara Saul atas nama keluarga Saul berperang dengan Daud untuk memperebutkan wilayah Yehuda sebagai bagian utuh dari Israel, namun semakin lama kekuatan keluarga Saul semakin melemah. Sementara itu kebencian dan dendam antara orang-orang yang berperang kemudian menyebabkan Abner maupun Isyboset mati dibunuh yang juga membuat Daud berduka dan juga kemudian memadamkan peperangan antara keluarga Saul dan keluarga Daud.
Setelah tidak lagi terjadi peperangan, Daud dinobatkan menjadi raja atas Israel secara utuh termasuk Yehuda.
Setelah menjadi raja ia memenangkan banyak perang dnegan bangsa-bangsa asing dan kemudian merebut Yerusalem dan mendirikan istana di situ dan menamainya kota Daud.
Setiap kemenangannya membuat Daud semakin yakin bahwa Tuhan yang menegakkan dia sebagai raja atas Israel (2 Sam 5:12). Kemenangannya itu juga membuat semua bangsa asing menjadi takut kepada bangsa Israel, kejayaan yang sangat besar bagi Daud karena kemenangan-kemenangannya membuat keadaan Israel menjadi aman.

Dalam kenyamanan hidupnya itu, Daud teringat akan janjinya kepada Yonatan (1 Samuel 18:1-4; 20:15-17) juga kepada Saul (1 Sam 24:21-22), karena itu ia meminta untuk mencari orang dari keluarga Saul yang masih hidup (ay. 1) dan dipatinya Mefiboset, anak Yonatan yang masih hidup. Daud mengambil Mesfiboset dan menempatkannya sebagai orang terhormat di istananya.
Mefiboset yang sudah cacat sejak kecil dan merasa diri tidak pantas untuk menerima kebaikan Daud. Apalagi keluarganya, keluarga Saul, adalah keluarga yang sangat memusuhi Daud, mungkin saja terpikir olehnya Daud akan membunuhnya karena ia adalah musuh Daud. Namun Daud meyakinkan Mefiboset tentang niatnya untuk menjaga dan memelihara keluarga Saul sebagai wujud kesetiaannya pada janji dan sumpah yang diucapkannya sendiri kepada Yonatan maupun Saul.
Hal menarik yang dapat dipelajari dan diajarkan adalah sikap Daud yang begitu setia kepada janji yang dinyatakannya, walaupun dalam kenyamanan hidupnya, tidak membuat ia terlena dan melupakan keluarga Saul yang dulu begitu memusuhinya.
Seringkali kita juga anak-anak cepat lupa akan apa yang kita janjikan atau nazarkan ketika kita sudah menikmati sesuatu yang menyenangkan, kita gampang terlena jika berada dalam kenyamanan, sebaliknya kita cepat-cepat berjanji kalau mengharapkan sesuatu, baik kepada orang tua, teman bahkan kepada Tuhan.
Bersikap setia pada janji seperti Daud ini juga memang mebutuhkan kerendahan hati dari seorang yang sudah berada dipuncak kekuasaan, karena kerendahan hatinya Daud mau menepati janjinya sekalipun kepada orang kecil dan tidak berdaya seperti Mefiboset


Alat Peraga

Gambar Peraga

Aktivitas

Mewarnai
Sandi Ayat

Ayat Hafalan

Lukas 16:10


Saturday, May 13, 2017

Jangan berpaling dari Tuhan (1 Samuel 28:1-25)

Bahan Ajar PAR 14 Mei 2017
Tema : “Jangan berpaling dari Tuhan”  (1 Samuel 28:1-25)
Tujuan :
- Anak-anak tahu Tuhan selalu menyertai dalam setiap keadaan hidup kita
- Anak-anak mau setia kepada Tuhan dalam segala keadaan hidupnya


Pokok Renungan

Saul adalah raja yang hebat yang diberikan kemampuan oleh Tuhan untuk mengalahkan musuh-musuh bangsa Israel, dan pada dasarnya Saul sadar akan hal itu, bahwa setiap pertempuran yang dilakukannya dimenangkan karena ada penyertaan Tuhan. Namun seiring berjalan waktu, dalam kemegahannya sebagai raja dan kemenangan-kemenangan yang diperolehnya ia menjadi tidak setia dan sabar mengikuti petunjuk dari Tuhan. Dari kisah perjalanan Saul selama menjadi raja Israel menunjukkan bahwa ia adalah seorang dengan pribadi yang tidak teguh. Walaupun ia adalah orang yang percaya kepada Tuhan dan selalu meminta petunjuk dari Tuhan tetapi seringkali juga ia tidak sabar menunggu jawaban dari Tuhan dan mengambil tindakan sendiri. Hal itu yang membuat ia ditolak oleh Tuhan. Dan ia tahu bahwa Tuhan memang menolaknya seperti yang disampaikan oleh Samuel sebelum nabi itu mati (1 Sam 13:13-14) juga ia tahu bahwa Daud akan menggantikannya sebagai raja.
Keadaan yang sudah diketahuinya itu bukan membuat Saul sadar dan berbalik atau menyerahkan diri kepada keputusan Tuhan melainkan ia berusaha untuk mengambil jalannya sendiri.
Dari cerita yang lalu kita dapat melihat bagaimana ia sebenarnya sudah sadar bahkan takut ketika mendapati Daud yang ingin disingkirkannya selalu berhasil lolos bahkan tidak pernah membalas kejahatan yang dilakukannya walaupun memungkinkan. Harusnya ia bisa mengambil sikap mengalah dan menyerahkan kekuasaannya kepada Daud tetapi ia memilih untuk mempertahankan kekuasaannya.
Dalam bacaan hari ini diceritakan kisah dimana ia harus berhadapan lagi dengan musuh bangsa Israel. Dan sebagaimana yang ia percaya dan yakini, ia meminta petunjuk kepada Tuhan. Tapi tidak ada petunjuk yang didapatkannya, keadaan lebih buruk baginya karena Samuel, sang nabi yang selalu menyampaikan firman dari Tuhan sudah meninggal.
Menghadapi keadaan itu, Saul masih gigih berusaha mendapat petunjuk dari Tuhan. Sebenarnya hal itu nampak baik, tetapi disitulah kesalahan yang sering dilakukan Saul. Ia tidak sabar dan setia menunggu cara atau jalan Tuhan, bahkan ia nampak berusaha memaksa Tuhan untuk menjawab permintaannya. Sama seperti kejadian di Gilgal dimana Saul memaksa untuk mendapat petunjuk Tuhan (1 Sam. 13) disini juga Saul memaksa agar bisa bertemu dengan Samuel, yang sudah mati, agar Samuel memberikan kepadanya petunjuk dari Tuhan.
Kesalahan yang sama dilakukannya, bahkan kali ini dengan melakukan juga hal yang merupakan kekejian dimata Tuhan, yaitu dengan melakukan spiritisme yang dilarang oleh Tuhan (Ul 18:9-12; bd. Im 19:31; 20:6). Bagi Saul sendiri mungkin ini satu-satunya jalan yang dapat dipikirkannya untuk disaat ia sudah benar-benar terdesak. Tetapi bagaimanapun baik maksudnya untuk mendapat petunjuk Tuhan tentunya hal yang dilakukan itu salah. Dan itu bukanlah kesalahan yang pertama melainkan kesalahan yang kesekian kali yang dilakukannya karena ia tidak pernah mau merubah sikapnya sejak Samuel masih hidup dan Tuhan masih bersedia memberikan petunjuk baginya.

Dari kisah ini dapat kita renungkan dan ajarkan kepada anak-anak:

  • Seperti Saul yang selalu meminta petunjuk Tuhan. Dalam berbagai keadaan yang kita alami, adalah benar jika berserah kepada Tuhan dan mempercayakan tangan Tuhan yang bekerja, tapi tetaplah setia meskipun mungkin apa yang Tuhan tentukan tidak sesuai dengan harapan kita.
  • Jangan seperti Saul. Kita tidak punya hak memaksakan keinginan kita / menuntut Tuhan menjawab apa yang kita minta/tanyakan/ doakan tetapi tetaplah menantikan jawabanNya sambil tetap setia berjalan pada apa yang sudah diajarkan dalam firmanNya.
  • Sadar dan kembalilah kepada Tuhan ketika Ia menegur kita dari hal yang kecil dan jangan berpaling dari Tuhan, karena jika kita berpaling dari Tuhan untuk hal yang kecil, semakin lama akan sulit bagi kita untuk kembali kepadaNya, seperti Sail yang semakin lama semakin jauh dari Tuhan bahkan ditolak oleh Tuhan

Alat Peraga

Gambar Peraga

Aktivitas

Mewarnai

Pesan Rahasia (jawaban lihat ayat hafalan)

Ayat Hafalan

Imamat 19:31

Saturday, May 6, 2017

Jangan membalas jahat dengan jahat (1 Samuel 26:1-25)

Bahan Ajar PAR 07 Mei 2017
Tema : “Jangan membalas jahat dengan jahat”  (1 Samuel 26:1-25)
Tujuan :
- Anak-anak tahu bahwa Tuhan berkenan kepada orang-orang yang mengampuni sesamanya
- Anak-anak mau mengampuni orang yang bersalah kepadanya

Pokok Renungan

Daud merupakan salah satu tokoh besar dalam sejarah Israel. Kisah hidupnya tertulis secara mendetail dalam kedua kitab Samuel dan 1 Tawarikh, demikian juga apa yang dirasakannya yang kemudian ditulis dalam bentuk pujian dalam Mazmur. Dari kisah perjalanan kehidupan Daud yang tercatat dalam kitab-kitab ini, ada banyak hal tentang pergumulan hidup yang dapat dijadikan pelajaran bagaimana hubungan manusia dalam segala keterbatasannya yang selalu berusaha dekat dengan Tuhan. 
Salah satu kisah menarik tentang pergumulan yang menjadi bacaan kita hari ini adalah tentang bagaimana sikap Daud menghadapi tekanan dari orang yang dikashi dan dihormatinya, Saul.
Dari cerita minggu lalu (1 Samuel 18), diceritakan tentang bagaimana bibit permusuhan Saul kepada Daud mulai timbul karena perasaan iri hati, semakin hari kebencian Saul itu semakin besar sehingga kemudian tidak aman lagi bagi Daud untuk tetap berada dekat dengan Saul. Dan dapat dibaca dalam 1 Samuel 19, atas bantuan dari anak-anak Saul sendiri, Yonatan sahabatnya dan Mikhal istrinya, Daud melarikan diri agar selamat dari upaya pembunuhan yang dilakukan oleh Saul. Disini dapat dibayangkan bagaimana perasaan Daud, ia merasa tertekan bukan oleh musuh yang harus dilawan olehnya tetapi oleh orang yang harusnya saling mengasihi dan saling melindungi dengannya. Ia juga tidak bisa melawan, terlebih karena ia mengasihi dan menghormati Saul sebagai orang yang diurapi oleh Tuhan. Apa yang Daud alami dan rasakan dalam pelariannya jelas juga diungkapkan dalam nyanyian ratapan dan permohonan Daud dalam Mazmur.
Daud sendiri tidak pernah melawan, melainkan ia hanya terus berlari menghindar dari kejaran Saul dan pasukannya. Namun tanpa melawanpun Daud diberi kesempatan untuk dapat mengalahkan Saul. Kejadian pertama di padang gurun En-Gedi (1 Samuel 24) Daud memiliki kesempatan untuk membunuh Saul dan mengakhiri pelariannya, namun Daud tidak melakukannya karena ia menghormati Saul, orang yang membencinya.
Dan kesempatan baginya untuk membunuh Saul terjadi lagi di bukit Hakhila, disini pun Daud seharusnya sangat mudah untuk membunuh Saul. Tetapi ia tidak melakukannya, melainkan ia berusaha lagi untuk meyakinkan Saul bahwa ia mengasihi dan menghormati Saul dengan harapan Saul mau bertobat.

Dari sikap yang ditunjukkan Daud terhadap Saul ini ada beberapa hal menarik yang dapat dipelajari dan diajarkan kepada anak-anak:

  • Mengasihi setiap orang, bahkan yang memusuhi kita. Daud begitu mengasihi dan menghormati Saul sebagai orang yang diurapi Tuhan. Yang dilain pihak sebenarnya sangat memusuhi Daud dan menginginkan kematiannya. Bagi kita orang percaya sikap ini mungkin berlebihan tetapi Tuhan Yesus sendiri, menegaskan lebih dari itu saat mengajarkan kepada kita untuk mengasihi musuh bahkan kharus berdoa bagi orang yang membenci kita. (Luk 6:27-36)
  • Jangan membalas jahat dengan jahat. Daud punya kesempatan untuk membalas kejahatan yang Saul lakukan kepadanya namun ia menolak untuk melakukannya sebaliknya ia berusaha untuk menyadarkan Saul. Tuhan Yesus juga menegaskan tentang hal itu yaitu kejahatan jangan dibalas dengan kejahatan (Mat 5:38-42 bnd. Rom 12:14-21.; 1Tes 5:15; 1Pet 3:9)
  • Tuhan yang berhak menghukum orang atas kejahatannya kepada kita. Daud secara sadar tahu bahwa pembalasan atas kejahatan itu adalah hak Tuhan, bukan haknya sebagai manusia (ayat 10 bnd. Roma 12:14-21; Ibrani 10:30)

Ayat Hafalan

1 Petrus 3:9

Alat Peraga

Gambar Peraga

Aktivitas

Mewarnai

Menulis Cerita (berkelompok)

Teka-teki SIlang