Blog ini berisi Bahan Ajar / Cerita Sekolah Minggu dalam Bahasa Indonesia, silakan dipakai / dikutip secara bebas dan gratis karena Firman Tuhan bebas untuk diberitakan dan diketahui oleh semua orang

This blog contains materials for Sunday School Sermon. The sermon materials are written in Indonesian, but I hope the activities and images contained can be used by anyone with any language, please feel free to use it

Saturday, February 24, 2018

Berani Menentang Kesalahan (Yohanes 2:13-25)

Bahan Ajar Sekolah Minggu 25 Februari 2018
Tema : “Berani Menentang Kesalahan” (Yohanes 2:13-25)
Tujuan :
- Anak-anak tahu bahwa Tuhan Yesus mengasihi semua manusia tetapi menentang semua perbuatan yang salah
- Anak-anak berani menentang perbuatan yang salah yang dilihat/diketahuinya

Pokok Renungan

Dalam banyak cerita yang kita baca atau dengar, Tuhan Yesus digambarkan sebagai sosok yang lemah lembut dan sopan dan memang benar Tuhan Yesus datang bukan sebagai Tuhan yang menghukum orang-orang berdosa melainkan sebagai Tuhan yang baik, murah hati dan mau berkorban untuk keselamatan semua orang, bahkan orang yang berdosa (Matius 12:18-21 bd. Yesaya 42:1-9). Tetapi dalam beberapa kesempatan sebenarnya kita dapati Tuhan Yesus juga tampil sebagai penentang yang mengkritik dengan tegas kemunafikan, hal yang sama juga terjadi dalam cerita hari ini, kita melihat Tuhan Yesus yang marah bahkan merusak barang-barang jualan para pedagang di Bait Suci (ay. 15).
Dari apa yang kita baca dalam cerita ini, dapat kita membayangkan kedaan Bait Suci yang waktu itu penuh dengan orang-orang yang berjualan, kedaannya pasti sudah seperti di pasar, dimana hiruk-pikuk suara penjual dan pembeli diantara keributan yang timbul dari suara binatang, dan walaupun tidak digambarkan dalam cerita namun bisa dipastikan bahwa ada bau yang timbul dari kotoran binatang yang tentunya juga tercium dalam lingkungan itu.
Walaupun apa yang diperjualbelikan tersebut adalah kebutuhan untuk ibadah, namun seharusnya tidak diperjualbelikan dalam Bait Suci karena bukan tempatnya untuk berjualan, keadaan seperti itu seharusnya tidak dizinkan oleh para pemuka agama / mereka yang mengelola Bait Suci, karena tentu akan sangat menganggu orang-orang yang hendak beribadah maupun yang sedang beribadah. Lalu apa alasan para pemuka agama / pengelola Bait Suci mengizinkannya? Sepertinya para pemuka agama/pengelola Bait Suci memang sengaja memberi ruang untuk berjualan karena mereka turut serta mengambil keuntungan dari kegiatan bisnis tersebut.
Kedaan yang terlihat saat itu mungkin tidak bisa sekedar ditegur dengan kata-kata sehingga Tuhan Yesus langsung bertindak untuk membersihkan Bait Suci dari berbagai kegiatan dan barang-barang yang tidak seharusnnya serta para pedagang yang sedang berjualan itu. Tukar menukar uang dan penjualan binatang kurban yang dilakukan saat itu mungkin bukannya membantu mempermudah sebaliknya mengeruk keuntungan yang sangat besar karena uang dan binatang itu sangat dibutuhkan oleh orang-orang yang pergi untuk merayakan paskah, sehingga terjadi monopoli dan korupsi yang menguntungkan para pemuka agama yang berkuasa atas Bait Suci waktu itu.
Tindakan Tuhan Yesus sebenarnya tidak secara khusus menyerang/menentang para pedagang melainkan menentang sistem yang korup dalam Bait Suci dan dengan tindakan itu, Tuhan Yesus secara tegas memproklamirkan diri sebagai Mesias, Anak Allah yang berhak bertindak membersihkan Bait Suci dari segala hal yang buruk (ay. 16, 18)
Hal penting yang dapat dipelajari dan diajarkan kepada anak-anak dari kisah ini adalah bagaimana seharusnya sikap orang Kristen terhadap hal-hal buruk di sekitar kita.
Belajar dari sikap Tuhan Yesus yang lemah lembut dan baik terhadap orang-orang berdosa. Kita juga seharusnya bersikap baik dan lemah lebut terhadap siapa saja. Tetapi di sisi lain, Tuhan Yesus menentang keras perbuatan/perilaku yang salah, bahkan Tuhan Yesus dengan tanganNya sendiri melawan perbuatan yang salah. Hal ini menjadi teladan yang penting bagi setiap pengikut Tuhan, bahwa untuk setiap kedaan yang tidak berkenan kepada Tuhan, yang tidak sejalan dengan firman Tuhan, haruslah ditentang.
Ajarkan anak-anak untuk bersikap lemah lebut dan baik kepada siapa saja, bahkan kepada mereka yang jahat dan tidak perlu membenci atau memusuhi teman-teman yang berbuat kesalahan tetapi mereka harus tetap berani menetang kesalahan. Perbuatan seperti itu munkgin akan mengakibatkan mereka dijauhi oleh teman-teman yang berbuat salah tersebut tetapi jangan takut. Hal yang penting juga adalah kalau memang tidak mampu tidak perlu harus melawan secara fisik terhadap kesalahan yang dibuat oleh orang lain, tetapi anak-anak harus berani melaporkan perbuatan teman yang salah kepada guru atau orang yang lebih dewasa, itu juga merupakan sebuah tindakan berani seperti apa yang Tuhan Yesus contohkan dalam cerita kita hari ini.


Alat Peraga

Gambar Peraga



Aktivitas

Menuliskan Sikap

Teka-teki SIlang

Ayat Hafalan:

1Petrus 3:12
Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong, tetapi wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat."



Saturday, February 10, 2018

Godaan dari Si Jahat (Matius 4:1-11)

Bahan Ajar Sekolah Minggu 11 Februari 2018
Tema : “Godaan dari Si Jahat” (Matius 4:1-11)
Tujuan :
- Anak-anak tahu bahwa kita akan selalu digoda untuk berbuat jahat dan jauh dari Tuhan
- Anak-anak mau setia belajar Firman Tuhan sebagai kekuatan dalam menghadapi godaan

Pokok Renungan

Kitab Matius menceritakan setelah Tuhan Yesus dibaptis oleh Yohanes, Ia dibawa ke padang gurun. Yesus dengan sengaja dibawa oleh Roh untuk dicobai oleh Iblis. Banyak tafsiran menerangkan bahwa disini kemanusiaan Yesus yang dicobai, hanya sebagai manusia Yesus bisa dicobai, karena Tuhan tidak bisa dicobai oleh Iblis (iblis = penghujat). Dalam kesempatan ini juga Yesus menghadapi pencobaan itu secara manusia, tidak ada kekuatan khusus diluar kemampuan manusia yang dipakai untuk melawan pencobaan Iblis.
Secara ringkas kita membaca, Yesus diperhadapkan dengan tiga cobaan/godaan dari Iblis.

  • Yang pertama Iblis berkata: "Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti." Sebagai Tuhan (Anak Allah), Yesus bisa melakukannya tetapi karena sebagai Anak Allah juga Ia tidak perlu roti untuk hidup, tapi Yesus menunjukkan bahwa memang manusia perlu makan dan tidak mampu merubah batu menjadi roti tetapi tidak juga perlu melakukannya apalagi sampai meminta bantuan dari Iblis untuk melakukannya. Manusia hidup dari Tuhan, dari makanan jasmani berupa makanan dan minuman sehari-hari diberikan Tuhan juga dari makanan rohani berupa Firman dari Tuhan (bd Ulangan 8:3).
  • Godaan yang kedua Iblis berkata: "Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu." (bnd. Mazmur 91:11-12). Disini juga sekali lagi Yesus menunjukkan bahwa sebagai Tuhan Ia bisa melakukannya tetapi sebagai manusia tidak bisa dan tidak perlu melakukan itu, kalaupun Allah menjanjikan perlindungan, tidak berarti kita harus coba-coba apakan janji perlindungan itu benar adanya. Sebagai manusia jangan mencobai Tuhan.
  • Pencobaan yang ketiga Iblis  berkata: "Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku." Semua kekayaan, kekuasaan dan kejayaan di bumi akan diberikan jika menyembah Iblis. Tuhan tidak mungkin menyembah Iblis tetapi manusia mungkin saja melakukannya, apalagi kalau janji imbalannya setimpal, yaitu kekayaan dan kejayaan, sepertinya sangat menarik. Tapi Yesus memberikan jawaban yang tepat sebagai manusia, bahwa apapun alasannya tidak perlu dan tidak harus manusia menyembah Iblis, karena hanya Allah yang boleh disembah oleh segenap alam, Dialah pencipta dan penguasa segala sesuatu termasuk semua yang dijanjikan oleh Iblis itu.

Dari pencobaan yang dilakukan Iblis dan dijawab secara manusiawi oleh Yesus ini dengan jelas mengajarkan kepada bahwa sebenarnya sebagai manusia kita bisa melawan setiap godaan dan cobaan yang dilakukan Iblis. Tiga pencobaan itu sebenarnya gambaran dari berbagai macam pencobaan yang selalu dihadapi oleh manusia sepanjang masa.
Pencobaan pertama menggugah keinginan manusia akan makanan, akan apa yang memang dibutuhkannya. Pencobaan seperti itu selalu ada dalam kehidupan manusia sampai saat ini, kebutuhan dan keinginan akan makanan dan kebutuhan pokok lainnya membuat orang menjauh dari Allah (bd. Ulangan 8:3; Keluaran 16).
Pencobaan kedua menggugah keraguan manusia akan kuasa dan keberadaan Allah. Seringkali manusia yang sudah mengenal Allah masih ragu dengan pemeliharaan dari Allah sehingga suka menuntut bahkan mencobai Allah untuk memuaskan keinginannya sendiri. Bahkan seringkali kita tergoda untuk berpikir bahwa segala sesuatu tentang hidupmu akan dipenuhi oleh Allah jadi tidak perlu melakukan apa-apa tinggal minta saja kepada Allah. (bd. Ulangan 6:16; Keluaran 17:1-7). Padahal Allah memberikan kemampuan fisik maupun pikiran untuk manusia melakukan dan memutuskan suatu hal. Tidak perlu menguji kemampuan Allah apakah Ia mampu atau tidak menolong kita, perbuatlah apa yang menjadi bagian dan usaha kita dan biarkan Allah bekerja dengan caraNya menolong kita.
Pencobaan yang ketiga menggugah keinginan manusia untuk berpaling dari Allah dengan janji akan kekuasaan dan kemakmuran duniawi (bd. Ulangan 6:10-15; Kel 23:23-33).
Hal yang dapat dipelajari dan diajarkan kepada anak-anak adalah sebagai manusia kita harus percaya bahwa kita bisa melawan setiap godaan Iblis yang ingin menjerat dan menjatuhkan kita dan untuk itu hal yang penting yang harus kita miliki adalah firman Tuhan, sebagaimana Tuhan Yesus menunjukkan bahwa setiap godaan Iblis itu dapat dikalahkan dengan pemahaman yang benar akan apa yang tertulis dalam Firman Tuhan. Untuk itu, hal penting supaya jangan terjerat oleh godaan adalah belajarlah firman Tuhan setiap saat sehingga ketika Iblis menggoda kita dengan berbagai cara kita tahu apa jawaban yang tepat sesuai firman Tuhan.


Ayat Hafalan:

Yakobus 1:14
Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.

Alat peraga

Gambar Peraga

Aktivitas

Mewarnai

Menulis deskripsi singkat
Tulislah godaan yang menyebabkan anak-anak yang melakukan perbuatan yang buruk pada gambar  ini:

Mengarang cerita bergambar


Saturday, January 27, 2018

Bertobat (Matius 3:1-12)

Bahan Ajar PAR Sekolah Minggu 28 Januari 2018
Tema : “Bertobat” (Matius 3:1-12)
Tujuan :
- Anak-anak tahu semua orang harus bertobat untuk menerima Tuhan dalam diri mereka
- Anak-anak mau bertobat dari kesalahan yang mereka lakukan dan mau berjanji untuk selalu melakukan yang baik

Pokok Renungan

Cerita yang sama tentang Yohanes Pembaptis ini dapat kita baca dalam Injil Lukas 3:1-20, Markus 1:1-8 dan Yohanes 1:19-28. Yohanes tampil mengawali pelayanan Tuhan Yesus sebagai pembuka jalan bagi orang-orang agar menerima Kristus sang Mesias. Ia menyerukan perlunya ‘bertobat’ (ayat 2) sebagai sikap mempersiapkan jalan bagi Tuhan. Dan ini adalah hal terpenting dari kehidupan Kristen / orang yang menerima Kristus dalam kehidupannya.
Makna dari bertobat adalah "berbalik". Yaitu berbalik dari cara hidup yang jahat kepada cara hidup yang baik sesuai ajaran Kristus, dan pertobatan itu haruslah dalam Kristus (bnd. Yoh 14:1,6; Kis 8:22; 26:18; 1Pet 2:25). Pertobatan itu berarti memberikan diri berada dalam penguasaan Kristus (bnd. Kis 26:18). Pertobatan adalah pintu masuk menuju persekutuan dengan Kristus, tanpa pertobatan akan sia-sia mendengar semua ajaran yang Tuhan Yesus sampaikan.
Jika menyimak pesan yang disampaikan oleh para nabi dalam Alkitab, pertobatan merupakan pesan terpenting dan terutama yang disampaikan. Kita dapat membacanya dalam Perjanjian Lama (misalnya dalam Yer 7:3; Yeh 18:30; Yoel 2:12-14; Mal 3:7), maupun dalam dalam Perjanjian Baru Yohanes Pembaptis (Mat 3:2), Yesus Kristus (Mat 4:17; 18:3; Luk 5:32) dan orang-orang Kristen (Kis 2:38; 8:22; 11:18; 2Pet 3:9).

Sebagai bandingannya dalam ayat 7 diceritakan apa yang disampaikan oleh Yohanes kepada orang Farisi dan Saduki. Kedua kelompok utama dalam agama Yahudi ini mempunyai cara pandang yang berbeda terhadap Taurat namun sama-sama tunduk pada hukum Taurat. Hal yang membuat kedua golongan ini ditentang oleh Yohanes juga Tuhan Yesus adalah sikap mereka yang tidak sungguh-sungguh dari hati untuk taat kepada hukum-hukum Tuhan. Ketaatan mereka hanyalah ketaatan diluar saja, agar dilihat oleh orang, tanpa ada juga keinginan untuk mengakui dan bertobat dari kesalahan yang mereka lakukan, bahkan Hukum Taurat sering mereka pakai untuk menekan orang lain (bnd. Mat 23:25; 9:14; 23:2-4; Luk 18:9-14). Saat berhadapan dengan Tuhan Yesus juga kedua kelompok ini bersikap menentang (bnd. Mat 16:1-4).
Pertobatan seperti yang diserukan oleh Yohanes Pembaptis dan juga oleh semua nabi bahkan oleh Tuhan Yesus yang dapat kita baca dalam Alkitab pada akhirnya harus menghasilkan sebuah perubahan dalam diri maupun bagi orang lain. Dalam ayat 8-12 Yohanes Pembaptis menyerukan bahwa pertobatan haruslah mengahasilkan buah yang sesuai, yaitu sesuatu yang mendatangkan kebaikan sesuai dengan firman Tuhan.
Ada dua hal pokok yang dapat dipelajari dan diajarkan dari apa yang disampaikan oleh Yohanes Pembaptis ini. Hal yang pertama yaitu harus ada pertobatan jika kita benar mau menerima Kristus dalam hidup kita, pertobatan itu mutlak diperlukan karena tidak seorangpun yang tidak berdosa. Apakah boleh berbuat dosa lagi kalau sudah menerima Kristus? Tentu tidak, pilihannya hanya menerima Kristus atau tetap berbuat dosa, jika menerima Kristus berarti tidak lagi berbuat dosa, kalau masih berbuat dosa berarti tidak menerima Kristus, tidak boleh dan tidak mungkin menjadi hamba kepada dua tuan (bnd. Lukas 16:13).
Dan hal yang kedua adalah harus ada buah dari pertobatan itu, harus ada yang dihasilkan dari sebuah pertobatan. Pertobatan bukan hanya sekedar dikatakan tetapi harus dilakukan dalam sikap dan perbuatan yang benar. Orang yang bertobat adalah orang yang menghasilkan buah kebaikan, yang pikiran, perkataan dan perbuatannya adalah yang berkenan kepada Tuhan, bukan memikirkan yang jahat, berkata yang jahat apalagi berbuat yang jahat. Ajak anak-anak untuk menyebutkan contoh kehidupan sehari-hari sebagai buah dari pertobatan itu.


Ayat Hafalan:

Lukas 5:32
Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.".


Alat Peraga

Gambar Peraga

Aktivitas

Mewarnai


Saturday, January 20, 2018

Paskah Pertama di Yerusalem (Lukas 2:21-40)

Aktivitas untuk cerita: Yesus pada umur dua belas tahun dalam Bait Allah (Lukas 2:41-52)
Teka-teki silang

Maze

Saturday, December 9, 2017

Persiapkan Hatimu Menyambut Tuhan (Markus 1:1-8)

Bahan Ajar Sekolah Minggu 10 Desember 2017
Tema : “Persiapkan Hatimu Menyambut Tuhan” (Markus 1:1-8)
Tujuan :
- Anak-anak tahu bahwa hanya hati yang bersih yang bisa menerima kedatangan Tuhan
- Anak-anak mau mengasihi dan saling memaafkan sehingga hatinya bersih dari hal-hal yang buruk

Pokok Renungan

Injil Markus melewatkan kelahiran dan tahun-tahun awal kehidupan Kristus, dalam Injil ini langsung membahas rangkaian peristiwa yang mengawali pelayanan Tuhan Yesus. Pelayanan ini sendiri merupakan apa yang sudah dinubuatkan oleh Nabi Yesaya dalam Perjanjian Lama, pelayanan Tuhan Yesus didahului oleh seorang yang diutus untuk mempersiapkan umat Tuhan menyongsong kedatangan-Nya.
Apa yang dilakukan dan diucapkan oleh Yohanes Pembaptis merupakan apa yang sebelumnya sudah disampaikan oleh nabi-nabi dalam Perjanjian Lama baptisan dan khotbah yang dilakukan olehnya sejalan dengan ayat-ayat Alkitab. (bnd. Maleakhi 3:1, Keluaran 23:30). Pada ayat 3 merupakan kutipan yang nyaris lengkap dari Yesaya 40:3.
Yohanes Pembaptis sendiri tampil layaknya para nabi zaman Perjanjian Lama yang menyampaikan pesan dari Tuhan sendiri kepada umatNya. Namun apa yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis bukan hanya penggenapan akan apa yang dinubuatkan, lebih dari itu merupakan sebuah kabar gembira tentang anugerah dari Tuhan yang sangat besar melebihi semua janji yang pernah Tuhan sampaikan kepada umatNya, karena Tuhan sendiri yang datang untuk menebus umatNya melalui Yesus Kristus.
Karena itu, Yohanes Pembaptis menekankan pentingnya persiapan untuk menyambut kedatangan Tuhan itu. Dalam seruannya kepada para pendengarnya, Yohanes meminta agar setiap orang mempersiapkan jalan untuk kedatangan Tuhan. Yang dimaksudkannya tentu bukan jalan secara fisik, yang biasa dilewati oleh orang-orang melainkan jalan yang dimaksud adalah hati setiap orang. Hati yang lurus dan bersih yang terbukan menerima Tuhan.
Apa yang ditekankan oleh Yohanes Pembaptis ini merupakan apa yang harus dilakukan oleh setiap orang yang mau menyambut dan menerima Tuhan dalam hidupnya, termasuk kita dan anak-anak.
Tuhan akan ada dan tinggal didalam hati yang bersih yang lurus dan mau menyambutnya, sebaliknya, ketika hati dipenuhi oleh hal-hal yang buruk, dengan sendirinya hati itu menolak Tuhan. Karena hati itu akan menolak setiap hal dan pikiran baik.
Menjadi perenungan dan pelajaran penting bagi para pengajar dan anak-anak dari apa yang disampaikan oleh Yohanes Pembaptis ini.
Masing-masing kita, juga anak-anak dapat melihat dirinya sendiri dan mengetahui, apakah saya siap menerima kedatangan Tuhan atau sebaliknya saya menolak kedatangan Tuhan. Hati yang menerima kedatangan Tuhan adalah hati yang bersih dari kemarahan, kebencian, iri dan dengki dan hal-hal buruk lainnya. Sebaliknya hati yang siap menerima Tuhan adalah hati yang mengasihi dan mau memaafkan kesalahan orang lain.


Alat Peraga

Gambar Yohanes Pembaptis



Aktivitas

Mewarnai



Ayat Hafalan:

Markus 1:3
ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya,"

Saturday, October 21, 2017

Kemuliaan Bagi Tuhan (Daniel 2:1-49)

Bahan Ajar Sekolah Minggu 22 Oktober 2017
Tema : “Kemuliaan Bagi Tuhan” (Daniel 2:1-49)
Tujuan :
- Anak-anak tahu Tuhan memakai orang-orang percaya untuk menunjukkan kebesaranNya
- Anak-anak belajar untuk menyaksikan kebesaran Tuhan dalam kehidupannya sehingga nama Tuhan dipermuliakan

Pokok Renungan

Daniel dan ketiga temannya telah menjadi bagian dari orang-orang yang bekerja di istana raja Babel. Sebagai orang-orang yang cakap/pandai mereka diminta pendapat dan masukan tentang hal-hal yang memerlukan kebijaksanaan dan pengertia (bd. Dan 1:20). Namun tentunya bukan hanya mereka, masih banyak orang lain yang diangkat menjadi pegawai di istana yang diminta pendapat dan masukan jika diperlukan, sehingga mereka mungkin saja jarang diminta pendapat, apalagi mereka masih muda dan baru di istana dan bukan tidak mungkin ada banyak orang yang lebih tua dan sudah lama disitu.
Keadaan ini menyebabkan mereka tidak terhitung dalam daftar orang yang dipanggil untuk menafsirkan mimpi raja Nebukadnezar (ayat 2) dan bisa jadi yang dipanggil saat itu adalah orang-orang yang dianggap paling berpengalaman atau paling berilmu di antara sekian banyak yang ada di istana.
Disini kita dapat melihat bagaimana kuasa Tuhan mengatur segala rencananya bahkan dengan melibatkan orang kafir. Dengan kejadian ini Tuhan merancangkan untuk memunculkan orang percaya menjadi terang bagi orang-orang tidak percaya disekitarnya. Daniel diangkat Tuhan untuk menunjukkan kepada orang-orang kafir siapa Tuhan Allah Israel yang hidup itu.
Yang menjadi penting dan menarik dalam kisah ini adalah bagaimana respon daniel terhadap kedaan ini. Yang pertama ialah, Daniel cepat tersadar ketika Tuhan menegur lewat titah raja untuk membunuh orang-orang pandai. Dalam posisi sebagai orang bijak yang dipakai dalam istana, kehidupannya juga terancam karena perintah raja untuk membunuh semua orang pandai di seluruh negeri (ayat 12), termasuk dirinya. Keadaan ini membuat Daniel tersentak dan sadr bahwa Tuhan sedang bekerja karena itu Daniel segera meminta petunjuk dan pertolongan dari Tuhan.
Yang kedua adalah sikapnya menyadari dan mengakui pertolongan dan petunjuk dari Tuhan sebagai satu-satunya jawaban atas setiap persoalan. Dan dengan penuh ketegasan ia berani menunjukkan kebesaran Tuhan di antara orang-orang kafir yang mungkin saja membencinya karena ia mengagungkan Tuhan Allah Israel lebih dari segala dewa yang lain.
Hal yang dapat dipelajari dan diajarkan kepada anak-anak adalah bagaimana bersikap seperti Daniel.
Yang pertama: Seringkali teguran kecil dalam kehidupan kita harusnya bisa membuat kita segera sadar dan cepat-cepat berseru kepada Tuhan memohon petunjukNya dan pertolongan dariNya. Jika kita mengabaikannya semakin lama kita semakin tidak peka terhadap teguran dari Tuhan. Belajar dari Daniel, kita dapat melihat bahwa setiap teguran dari Tuhan haruslah menjadi panggilan untuk kita memahami lebih jauh rencana Tuhan dalam hidup kita. Tuhan dapat memakai kita untuk menjadi saksi kebesaran namaNya, yang perlu kita lakukan adalah kita harus peka terhadap panggilanNya.
Hal yang kedua: Keinginan kita untuk bersaksi tentang kebesaran Tuhan seringkali terbentur oleh rasa sungkan, enggan bahkan takut ketika kita berada diantara orang lain yang bukan seiman, bahkan seringkali kita juga merasa enggan untuk bersaksi walaupun diantara orang-orang seiman. Belajar dari Daniel, dalam berbagai kedaan, diantara orang-orang yang tidak percaya, ia berani menyaksikan kebesaran Tuhan. Ajarkan anak-akan untuk berani menyaksikan kebesaran Tuhan dalam kehidupannya. berbagai kebaikan dalam kehidupan anak-anak, walaupun kecil sebenarnya merupakan bukti kebesaran Tuhan dalam hidupnya yang patut disaksikan kepada orang lain.


Alat Peraga

Gambar Peraga

Ayat Hafalan:

Matius 5:16
Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.

Saturday, October 14, 2017

Berbeda Dari yang Lain (Daniel 1:1-21)

Bahan Ajar Sekolah Minggu 15 Oktober 2017
Tema : “Berbeda Dari yang Lain” (Daniel 1:1-21)
Tujuan :
- Anak-anak tahu bahwa apa yang Tuhan kehendaki bisa saja berbeda dari apa yang dunia kehendaki
- Anak-anak berani bersikap sesuai kehendak Tuhan walaupun berbeda dari dunia ini 

Pokok Renungan

Kitab Daniel memuat tentang penyertaan Tuhan kepada umatNya/orang percaya yang berada diantara orang-orang yang tidak percaya. Kisah ini dimulai dengan sikap berani dan konsisten yang ditunjukkan oleh Daniel dan kawan-kawannya tampil berbeda dari apa yang ada disekitar mereka, karena mereka tahu bahwa tidak semua hal di sekitar mereka sesuai dengan firman Tuhan dan mendatangkan kebaikan.
Sikap Daniel dan kawan-kawan yang berani menentang apa yang diperintahakan ini tentunya sangat beresiko, termasuk dibunuh, namun bagi mereka resiko yang harus diterima tidak sebanding dengan resiko jika melanggar firman Tuhan. Mungkin saja daging yang diberikan kepada mereka berasal dari binatang yang najis yang dilarang oleh Tuhan (bdk. Im. 11:45-47) atau makanan dan minuman yang diberikan itu adalah makanan dan minuman yang sebelumnya dipersembahkan kepada para dewa bangsa Babel (bdk. Mz. 106:28; Yeh. 4:13) sehingga makanan itu adalah najis.
Dalam cerita ini tidak disebutkan bahwa ada orang Israel yang menyantap makanan yang diberikan, tapi dapat dipastikan dari orang-orang yang diambil (ayat 3) hanya ada 4 orang yang berani menolak makanan yang diberikan (ayat 6). Disini Daniel dan kawan-kawannya menunjukkan sikap yang tidak mau kompromi dengan hal yang salah, walaupun orang-orang sebangsanya -yang juga tahu tentang perintah Tuhan yang sama dengan mereka- memilih untuk berkompromi dengan keadaan sekitar mereka.
Mereka berani bersikap berbeda bukan saja dari orang asing tetapi juga dari teman-teman sebangsa mereka sendiri.
Kesetiaan mereka untuk patuh pada perintah Tuhan itu berani mereka pertanggungjawabkan bahkan siap diuji. Kalau secara logis saja dipikirkan, pada saat itu tentunya makanan bagi raja adalah makanan terbaik yang bukan saja enak tetapi memberikan kebaikan untuk tubuh yang memakannya, namun Daniel dan kawan-kawan berani untuk memakan makanan lain yang mungkin bukan makanan yang dianggap layak dimakan oleh raja. Hal itu berani dilakukan Daniel dan kawan-kawan karena mereka yakin bahwa peraturan yang Tuhan tetapkan bagi mereka adalah hal yang baik, walaupun pengetahuan manusia belum cukup untuk memahaminya, dan keyakinan itu membuat mereka percaya bahwa Tuhan sendiri akan menolong mereka sehingga mereka berhasil dan teruji.

Hal penting yang dapat dipelajari dari kisah Daniel dan kawan-kawan ini adalah keberanian mereka untuk berbeda dari dunia sekitar mereka, yang didasarkan pada ajaran firman Tuhan. Pengetahuan/pemahaman mereka akan firman Tuhan bukan saja membuat mereka berani menentukan sikap yang benar diantara pilihan hidup yang disediakan disekitar mereka namun juga memberikan mereka harapan bahwa Tuhan pasti menolong mereka untuk tetap setia pada perintah firmanNya.

Tuhan memberikan kebaikan pada Daniel, sehingga ia dikasihi oleh pemimpin pegawai istana (ayat 9), dengan demikian ia bisa bernegosiasi denganya untuk mendapat makanan yang tidak najis dan menawarkan untuk mengadakan percobaan terhadap diri Daniel dan teman-temannya.
Kepatuhan pada perintah firman Tuhan adalah kuncinya, itu adalah sesuatu yang mutlak, walaupun kadang hal itu tidak terselami atau tergapai oleh akal manusia, tetapi percaya saja bahwa Tuhan menolong sehingga orang-orang yang percaya mampu untuk tetap setia. Walaupun seringkali kita mendapati diri kita sendiri berbeda dari orang-orang di sekitar kita.
Ajarkan kepada anak-anak untuk setia/patuh pada perintah / aturan yang benar sebagaimana yang diajarkan firman Tuhan juga melalui orang tua, Tuhan sendiri yang akan memampukan setiap anak yang mau setia untuk dapat tetap berjalan dalam firmanNya.


Alat Peraga

Gambar Peraga

Aktivitas

Teka-teki silang

Perbuatan Baik dan Buruk

Ayat Hafalan:

Roma 12:2
Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.