Blog ini berisi Bahan Ajar / Cerita Sekolah Minggu dalam Bahasa Indonesia, silakan dipakai / dikutip secara bebas dan gratis karena Firman Tuhan bebas untuk diberitakan dan diketahui oleh semua orang

This blog contains materials for Sunday School Sermon. The sermon materials are written in Indonesian, but I hope the activities and images contained can be used by anyone with any language, please feel free to use it

Sunday, March 18, 2018

Anugerah yang tak terhingga (Lukas 5:27-32)

Bahan Ajar Sekolah Minggu 18 Maret 2018
Tema : “Anugerah yang tak terhingga” (Lukas 5:27-32)
Tujuan :
- Anak-anak mengerti bahwa panggilan Tuhan merupakan anugerah bagi kita
- Anak-anak mau mendengar panggilan Tuhan untuk beribadah maupun melayani


Pokok Renungan

Dalam karya pelayanan Tuhan Yesus sangat banyak mujizat yang dilakukanNya, baik itu kesembuhan, kelepasan dari roh jahat bahkan kebangkitan dari kematian. Itu semua dapat dipandang sebagai anugerah yang sangat besar bagi orang-orang yang menerimanya, karena mereka yang menerimanya tidak perlu membayar apapun kepada Tuhan Yesus untuk semua itu. Demikianlah apa yang disebut anugerah yaitu sesuatu yang diterima dengan gratis sebagai pemberian dari Tuhan.
Namun pemahaman tentang anugerah tidak terbatas pada apa yang diterima secara fisik saja, tetapi harus dipahami lebih dari itu, ketika Tuhan Yesus, dari kekudusanNya, mau turun melawat manusia berdosa itu adalah anugerah yang tak terhingga dan terhitung harganya yang pernah diberikan Allah kepada manusia berdosa. Demikian juga ketika Tuhan mau memanggil orang berdosa untuk datang kepadaNya untuk beribadah maupun melayani pekerjaan Tuhan. Seperti bacaan kita hari ini tentang bagaimana Lewi (Matius) dipanggil untuk mengikuti Tuhan Yesus.
Dalam pandangan orang-orang zaman Tuhan Yesus, bagi orang-orang Yahudi pekerjaan pemungut cukai adalah pekerjaan yang kotor dan disamakan dengan orang berdosa, karena mereka bekerja untuk menguntungkan bangsa penjajah, bangsa Romawi, dan biasanya para pemungut cukai juga melakukan pemerasan, penipuan dan berbagai cara yang kotor untuk memperoleh keuntungan lebih untuk memperkaya diri sendiri. Walaupun di lain pihak, di mata pemerintah Romawi saat itu, pekerjaan itu membawa status yang lebih terhormat dari sekedar orang-orang jajahan yang lain. Pekerjaan sebagai pemungut cukai membuat Lewi punya kedudukan juga keadaan ekonomi yang lebih baik, mungkin ia merupakan salah satu dari sedikit orang Yahudi yang kaya saat itu.
Ketika TUhan Yesus lewat di depannya dan memanggilnya, tentu membuat Lewi terkejut dan heran, dan mendengar ajakan Tuhan Yesus bisa jadi merupakan sebuah hal yang mengganggu Lewi saat itu. Siapa Tuhan Yesus? Mungkin Lewi pernah mendengar desas-desus tentang Tuhan Yesus yang bisa melakukan mujizat, tetapi apa yang Lewi lihat saat itu bukankah teman-temanNya juga murid-murid yang mengikutinya adalah orang-orang kelas bawah, para nelayan, Tuhan Yesus juga bukan orang kaya, Ia hanya anak seorang tukang kayu. Dan yang lebih menganggu perasaan lewi saat itu mungkin jika ia bersedia mengikuti Tuhan Yesus, ada begitu banyak konsekuensi yang harus dihadapi. Ia harus kehilangan pekerjaan yang membuat ia kaya dan menopang kehidupan dan gaya hidupnya, mungkin juga ia akan dimusuhi oleh orang Romawi karena meninggalkan tugas/tanggung jawabnya yang akan mendatangkan kerugian bagi bangsa Romawi.
Namun seperti yang tertulis dalam Alkitab, tanpa bertanya, Lewi meninggalkan apa yang sedang dikerjakannya dan pergi mengikuti Tuhan Yesus (ay. 28). Kemudian Lewi  juga mengadakan perjamuan / pesta di rumahnya untuk Tuhan Yesus yang dihadiri juga oleh para pemungut cukai seperti dia dan banyak orang berdosa (ay. 29 bd. Mat. 9:10)
Apa yang dapat kita pelajari dari sikap Lewi ini adalah bagaimana ia bersedia menyambut anugerah Tuhan tanpa walaupun itu berati mengorbankan kenyamanannya. Bagi Lewi kehilangan kekayaan, kedudukan dan kenikmatan hidup tidak sebanding dengan kehilangan anugerah dari Tuhan, karena itu pilihan yang tepat adalah menyambut panggilan Tuhan yang adalah anugerah.
Menjadi renungan bagi kita sebagai pengajar juga anak-anak, panggilan dari Tuhan seringkali menghampiri kita tanpa kita cari, mungkin lewat ajakan untuk beribadah atau ajakan untuk melayani, tetapi seberapa besar kita sadar bahwa itu adalah anugerah dari Tuhan? Kalau kesibukan kita masih lebih penting, mungkin kita akan dengan mudah mengabaikannya tanpa kita sadari kita telah menolak anugerah Tuhan.
Ajarkan kepada anak-anak bahwa setiap panggilan / ajakan untuk datang dan dekat dengan Tuhan adalah sebuah anugerah, sambutlah setiap panggilan yang disampaikan kepada kita karena sungguh sebuah kehormatan bagi kita jika Tuhan berkenan memanggil kita yang berdosa dan tidak layak untuk datang mendekat padaNya.


Ayat Hafalan

Lukas 5:32
Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.

Alat Peraga

Gambar Peraga


Aktivitas

Mewarnai

Sunday, March 4, 2018

Beriman kepada Tuhan Yesus (Yohanes 4:46-54)

Bahan Ajar Sekolah Minggu 04 Maret 2018
Tema : “Beriman kepada Tuhan Yesus” (Yohanes 4:46-54)
Tujuan :
- Anak-anak tahu bahwa Tuhan Yesus adalah teladan hidup orang percaya
- Anak-anak mau percaya dan beriman hanya kepada Tuhan Yesus 

Pokok Renungan

Hari ini kita membaca sebuah cerita tentang Tuhan Yesus yang melakukan mujizat menyembuhkan anak seorang pegawai istana. Seperti kebanyakan cerita mujizat yang Tuhan lakukan, kita disuguhkan kisah tentang besarnya kuasa yang dimiliki Tuhan Yesus mengatasi masalah yang tidak mampu dihadapi manusia. Tetapi dari kisah ini ada satu hal menarik juga yang kita lihat, yaitu bagaimana sikap Tuhan Yesus yang mungkin sedikit kasar ketika menegur pegawai istana yang datang minta tolong itu. Bukannya menghibur pegawai istana yang sedih karena anaknya sekarat, sebaliknya Tuhan Yesus mengatakan "Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya." (ayat 48). Teguran itu disampaikan kepada pegawai istana itu dan mungkin juga kepada orang-orang yang ada disitu bahkan murid-murid yang mengikutiNya, karena sejauh itu kepercayaan mereka kepada Tuhan Yesus didasarkan kepada mujizat yang telah dilakukannya (ayat 45).
Nampaknya cukup beralasan bagi Tuhan Yesus menegur mereka, karena jika kita membaca rangkaian pasal-pasal sebelumnya, kita akan menemukan sikap-sikap yang berbeda yang ditunjukkan oleh orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus. Ketika Tuhan Yesus melakukan mujizat pertama di Kana, karena melihat mujizat itu "murid-muridnya percaya kepada-Nya” (Yoh. 2:11). Ketika di Yerusalem untuk merayakan Paskah, "banyak orang melihat tanda-tanda dan percaya kepada-Nya” (Yoh. 2:23). Saat dalam perjalanan kembali ke Galilea, sebuah kota Samaria menaruh iman mereka kepadanya, bukan karena tanda-tanda, tapi "karena firman-Nya." (Yoh. 4:41-42). Namun ketika Tuhan Yesus kembali ke Galilea orang banyak datang menyambutNya dan mereka menyambutNya karena telah melihat mujizat air menjadi anggur yang telah dilakukanNya (ayat 45).
Apa yang dituliskan oleh penginjil ini juga menjadi pertanyaan bagi kita tentang bagaimana dasar iman percaya kita. Apakah iman kita berdasarkan pada mujizat yang ajaib dan menarik perhatian? Atau kepada pribadi Tuhan Yesus sendiri. 
Kepercayaan yang berdasarkan mujizat dan keajaiban yang Tuhan Yesus buat akan mendorong kita untuk bersikap menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan yang ajaib dan akan melakukan segala sesuatu yang dahsyat seperti super hero dalam film sebaliknya iman yang berdasarkan pada pribadi Tuhan Yesus adalah iman yang menerima Tuhan Yesus sebagai teladan hidup dan menyadari bahwa sekalipun dalam kelemahan kita sebagai manusia kita punya kekuatan untuk memilih dan tetap menjadi baik.
Tuhan Yesus dalam karya penyelamatanNya bukan hanya melakukan mujizat/keajaiban tetapi lebih dari itu menunjukkan sikap taat, rela menderita dan dihina bahkan disalibkan. Bertolak belakang dari keajaiban mujizat yang dibuatNya. Mujizat yang ajaib merupakan pekerjaan Allah namun demikian, iman orang percaya tidak boleh terpusat pada mujizat itu tetapi kepada Yesus Kristus yang mengajarkan sifat-sifat ilahi.
Kita harus percaya pada Tuhan Yesus karena Dia itu Anak Allah, yaitu Tuhan dan Juruselamat kita. Ia harus disembah dan diimani karena kasih, kemurahan, dan sifat-Nya yang benar dan bukan karena mujizat-mujizat ajaib yang pernah dibuatNya. Bukankah sejak zaman dahulu bahkan lebih lagi di saat ini ada begitu banyak hal-hal ajaib yang dilakukan oleh manusia? Misalnya para pesulap, pemain akrobat atau ilusionis yang bisa berjalan di atas air, merubah air menjadi anggur dan aksi-aski lainnya yang seringkali membuat kita terpukau.
Kita percaya dan beriman kepada Tuhan Yesus bukan karena keajaiban dan mujizat yang dilakukannya, yang juga bisa dipalsukan oleh Iblis, tetapi karena kasih yang ditunjukkannya untuk menolong, menyembuhkan dan mengampuni orang berdosa. Tuhan Yesus tidak mengajarkan bagaimana caranya menggunakan kuasa untuk melakukan mujizat atau keajaiban, yang Tuhan Yesus ajarkan adalah bagaimana menjadi orang yang mengasihi Tuhan dan sesama manusia, dan untuk itu Tuhan Yesus sendiri telah memberikan teladan untuk dapat kita ikuti.
Membaca sampai akhir cerita ini kita dapat simpulkan bahwa iman percaya pegawai istana itu tumbuh karena ia mendengar langsung dari mulut Tuhan Yesus dan mengalami sendiri apa yang terjadi, tetapi keluarganya hanya mendengar darinya tentang Tuhan Yesus dan mereka percaya bahwa kesembuhan itu karena Tuhan Yesus.
Apakah kita mau percaya bahwa kehidupan yang kita jalani sehari-hari juga atas kemurahan Tuhan? Bukankah kita sudah mengalaminya juga tanpa mendengar langsung dari mulut Tuhan sendiri.

Alat Peraga

Gambar Peraga

Aktivitas

Mewarnai

Maze

Menyusun Cerita Bergambar

Ayat Hafalan:

Ibrani 11:1
Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.

Saturday, February 24, 2018

Berani Menentang Kesalahan (Yohanes 2:13-25)

Bahan Ajar Sekolah Minggu 25 Februari 2018
Tema : “Berani Menentang Kesalahan” (Yohanes 2:13-25)
Tujuan :
- Anak-anak tahu bahwa Tuhan Yesus mengasihi semua manusia tetapi menentang semua perbuatan yang salah
- Anak-anak berani menentang perbuatan yang salah yang dilihat/diketahuinya

Pokok Renungan

Dalam banyak cerita yang kita baca atau dengar, Tuhan Yesus digambarkan sebagai sosok yang lemah lembut dan sopan dan memang benar Tuhan Yesus datang bukan sebagai Tuhan yang menghukum orang-orang berdosa melainkan sebagai Tuhan yang baik, murah hati dan mau berkorban untuk keselamatan semua orang, bahkan orang yang berdosa (Matius 12:18-21 bd. Yesaya 42:1-9). Tetapi dalam beberapa kesempatan sebenarnya kita dapati Tuhan Yesus juga tampil sebagai penentang yang mengkritik dengan tegas kemunafikan, hal yang sama juga terjadi dalam cerita hari ini, kita melihat Tuhan Yesus yang marah bahkan merusak barang-barang jualan para pedagang di Bait Suci (ay. 15).
Dari apa yang kita baca dalam cerita ini, dapat kita membayangkan kedaan Bait Suci yang waktu itu penuh dengan orang-orang yang berjualan, kedaannya pasti sudah seperti di pasar, dimana hiruk-pikuk suara penjual dan pembeli diantara keributan yang timbul dari suara binatang, dan walaupun tidak digambarkan dalam cerita namun bisa dipastikan bahwa ada bau yang timbul dari kotoran binatang yang tentunya juga tercium dalam lingkungan itu.
Walaupun apa yang diperjualbelikan tersebut adalah kebutuhan untuk ibadah, namun seharusnya tidak diperjualbelikan dalam Bait Suci karena bukan tempatnya untuk berjualan, keadaan seperti itu seharusnya tidak dizinkan oleh para pemuka agama / mereka yang mengelola Bait Suci, karena tentu akan sangat menganggu orang-orang yang hendak beribadah maupun yang sedang beribadah. Lalu apa alasan para pemuka agama / pengelola Bait Suci mengizinkannya? Sepertinya para pemuka agama/pengelola Bait Suci memang sengaja memberi ruang untuk berjualan karena mereka turut serta mengambil keuntungan dari kegiatan bisnis tersebut.
Kedaan yang terlihat saat itu mungkin tidak bisa sekedar ditegur dengan kata-kata sehingga Tuhan Yesus langsung bertindak untuk membersihkan Bait Suci dari berbagai kegiatan dan barang-barang yang tidak seharusnnya serta para pedagang yang sedang berjualan itu. Tukar menukar uang dan penjualan binatang kurban yang dilakukan saat itu mungkin bukannya membantu mempermudah sebaliknya mengeruk keuntungan yang sangat besar karena uang dan binatang itu sangat dibutuhkan oleh orang-orang yang pergi untuk merayakan paskah, sehingga terjadi monopoli dan korupsi yang menguntungkan para pemuka agama yang berkuasa atas Bait Suci waktu itu.
Tindakan Tuhan Yesus sebenarnya tidak secara khusus menyerang/menentang para pedagang melainkan menentang sistem yang korup dalam Bait Suci dan dengan tindakan itu, Tuhan Yesus secara tegas memproklamirkan diri sebagai Mesias, Anak Allah yang berhak bertindak membersihkan Bait Suci dari segala hal yang buruk (ay. 16, 18)
Hal penting yang dapat dipelajari dan diajarkan kepada anak-anak dari kisah ini adalah bagaimana seharusnya sikap orang Kristen terhadap hal-hal buruk di sekitar kita.
Belajar dari sikap Tuhan Yesus yang lemah lembut dan baik terhadap orang-orang berdosa. Kita juga seharusnya bersikap baik dan lemah lebut terhadap siapa saja. Tetapi di sisi lain, Tuhan Yesus menentang keras perbuatan/perilaku yang salah, bahkan Tuhan Yesus dengan tanganNya sendiri melawan perbuatan yang salah. Hal ini menjadi teladan yang penting bagi setiap pengikut Tuhan, bahwa untuk setiap kedaan yang tidak berkenan kepada Tuhan, yang tidak sejalan dengan firman Tuhan, haruslah ditentang.
Ajarkan anak-anak untuk bersikap lemah lebut dan baik kepada siapa saja, bahkan kepada mereka yang jahat dan tidak perlu membenci atau memusuhi teman-teman yang berbuat kesalahan tetapi mereka harus tetap berani menetang kesalahan. Perbuatan seperti itu munkgin akan mengakibatkan mereka dijauhi oleh teman-teman yang berbuat salah tersebut tetapi jangan takut. Hal yang penting juga adalah kalau memang tidak mampu tidak perlu harus melawan secara fisik terhadap kesalahan yang dibuat oleh orang lain, tetapi anak-anak harus berani melaporkan perbuatan teman yang salah kepada guru atau orang yang lebih dewasa, itu juga merupakan sebuah tindakan berani seperti apa yang Tuhan Yesus contohkan dalam cerita kita hari ini.


Alat Peraga

Gambar Peraga



Aktivitas

Menuliskan Sikap

Teka-teki SIlang

Ayat Hafalan:

1Petrus 3:12
Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong, tetapi wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat."



Saturday, February 10, 2018

Godaan dari Si Jahat (Matius 4:1-11)

Bahan Ajar Sekolah Minggu 11 Februari 2018
Tema : “Godaan dari Si Jahat” (Matius 4:1-11)
Tujuan :
- Anak-anak tahu bahwa kita akan selalu digoda untuk berbuat jahat dan jauh dari Tuhan
- Anak-anak mau setia belajar Firman Tuhan sebagai kekuatan dalam menghadapi godaan

Pokok Renungan

Kitab Matius menceritakan setelah Tuhan Yesus dibaptis oleh Yohanes, Ia dibawa ke padang gurun. Yesus dengan sengaja dibawa oleh Roh untuk dicobai oleh Iblis. Banyak tafsiran menerangkan bahwa disini kemanusiaan Yesus yang dicobai, hanya sebagai manusia Yesus bisa dicobai, karena Tuhan tidak bisa dicobai oleh Iblis (iblis = penghujat). Dalam kesempatan ini juga Yesus menghadapi pencobaan itu secara manusia, tidak ada kekuatan khusus diluar kemampuan manusia yang dipakai untuk melawan pencobaan Iblis.
Secara ringkas kita membaca, Yesus diperhadapkan dengan tiga cobaan/godaan dari Iblis.

  • Yang pertama Iblis berkata: "Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti." Sebagai Tuhan (Anak Allah), Yesus bisa melakukannya tetapi karena sebagai Anak Allah juga Ia tidak perlu roti untuk hidup, tapi Yesus menunjukkan bahwa memang manusia perlu makan dan tidak mampu merubah batu menjadi roti tetapi tidak juga perlu melakukannya apalagi sampai meminta bantuan dari Iblis untuk melakukannya. Manusia hidup dari Tuhan, dari makanan jasmani berupa makanan dan minuman sehari-hari diberikan Tuhan juga dari makanan rohani berupa Firman dari Tuhan (bd Ulangan 8:3).
  • Godaan yang kedua Iblis berkata: "Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu." (bnd. Mazmur 91:11-12). Disini juga sekali lagi Yesus menunjukkan bahwa sebagai Tuhan Ia bisa melakukannya tetapi sebagai manusia tidak bisa dan tidak perlu melakukan itu, kalaupun Allah menjanjikan perlindungan, tidak berarti kita harus coba-coba apakan janji perlindungan itu benar adanya. Sebagai manusia jangan mencobai Tuhan.
  • Pencobaan yang ketiga Iblis  berkata: "Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku." Semua kekayaan, kekuasaan dan kejayaan di bumi akan diberikan jika menyembah Iblis. Tuhan tidak mungkin menyembah Iblis tetapi manusia mungkin saja melakukannya, apalagi kalau janji imbalannya setimpal, yaitu kekayaan dan kejayaan, sepertinya sangat menarik. Tapi Yesus memberikan jawaban yang tepat sebagai manusia, bahwa apapun alasannya tidak perlu dan tidak harus manusia menyembah Iblis, karena hanya Allah yang boleh disembah oleh segenap alam, Dialah pencipta dan penguasa segala sesuatu termasuk semua yang dijanjikan oleh Iblis itu.

Dari pencobaan yang dilakukan Iblis dan dijawab secara manusiawi oleh Yesus ini dengan jelas mengajarkan kepada bahwa sebenarnya sebagai manusia kita bisa melawan setiap godaan dan cobaan yang dilakukan Iblis. Tiga pencobaan itu sebenarnya gambaran dari berbagai macam pencobaan yang selalu dihadapi oleh manusia sepanjang masa.
Pencobaan pertama menggugah keinginan manusia akan makanan, akan apa yang memang dibutuhkannya. Pencobaan seperti itu selalu ada dalam kehidupan manusia sampai saat ini, kebutuhan dan keinginan akan makanan dan kebutuhan pokok lainnya membuat orang menjauh dari Allah (bd. Ulangan 8:3; Keluaran 16).
Pencobaan kedua menggugah keraguan manusia akan kuasa dan keberadaan Allah. Seringkali manusia yang sudah mengenal Allah masih ragu dengan pemeliharaan dari Allah sehingga suka menuntut bahkan mencobai Allah untuk memuaskan keinginannya sendiri. Bahkan seringkali kita tergoda untuk berpikir bahwa segala sesuatu tentang hidupmu akan dipenuhi oleh Allah jadi tidak perlu melakukan apa-apa tinggal minta saja kepada Allah. (bd. Ulangan 6:16; Keluaran 17:1-7). Padahal Allah memberikan kemampuan fisik maupun pikiran untuk manusia melakukan dan memutuskan suatu hal. Tidak perlu menguji kemampuan Allah apakah Ia mampu atau tidak menolong kita, perbuatlah apa yang menjadi bagian dan usaha kita dan biarkan Allah bekerja dengan caraNya menolong kita.
Pencobaan yang ketiga menggugah keinginan manusia untuk berpaling dari Allah dengan janji akan kekuasaan dan kemakmuran duniawi (bd. Ulangan 6:10-15; Kel 23:23-33).
Hal yang dapat dipelajari dan diajarkan kepada anak-anak adalah sebagai manusia kita harus percaya bahwa kita bisa melawan setiap godaan Iblis yang ingin menjerat dan menjatuhkan kita dan untuk itu hal yang penting yang harus kita miliki adalah firman Tuhan, sebagaimana Tuhan Yesus menunjukkan bahwa setiap godaan Iblis itu dapat dikalahkan dengan pemahaman yang benar akan apa yang tertulis dalam Firman Tuhan. Untuk itu, hal penting supaya jangan terjerat oleh godaan adalah belajarlah firman Tuhan setiap saat sehingga ketika Iblis menggoda kita dengan berbagai cara kita tahu apa jawaban yang tepat sesuai firman Tuhan.


Ayat Hafalan:

Yakobus 1:14
Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.

Alat peraga

Gambar Peraga

Aktivitas

Mewarnai

Menulis deskripsi singkat
Tulislah godaan yang menyebabkan anak-anak yang melakukan perbuatan yang buruk pada gambar  ini:

Mengarang cerita bergambar


Saturday, January 27, 2018

Bertobat (Matius 3:1-12)

Bahan Ajar PAR Sekolah Minggu 28 Januari 2018
Tema : “Bertobat” (Matius 3:1-12)
Tujuan :
- Anak-anak tahu semua orang harus bertobat untuk menerima Tuhan dalam diri mereka
- Anak-anak mau bertobat dari kesalahan yang mereka lakukan dan mau berjanji untuk selalu melakukan yang baik

Pokok Renungan

Cerita yang sama tentang Yohanes Pembaptis ini dapat kita baca dalam Injil Lukas 3:1-20, Markus 1:1-8 dan Yohanes 1:19-28. Yohanes tampil mengawali pelayanan Tuhan Yesus sebagai pembuka jalan bagi orang-orang agar menerima Kristus sang Mesias. Ia menyerukan perlunya ‘bertobat’ (ayat 2) sebagai sikap mempersiapkan jalan bagi Tuhan. Dan ini adalah hal terpenting dari kehidupan Kristen / orang yang menerima Kristus dalam kehidupannya.
Makna dari bertobat adalah "berbalik". Yaitu berbalik dari cara hidup yang jahat kepada cara hidup yang baik sesuai ajaran Kristus, dan pertobatan itu haruslah dalam Kristus (bnd. Yoh 14:1,6; Kis 8:22; 26:18; 1Pet 2:25). Pertobatan itu berarti memberikan diri berada dalam penguasaan Kristus (bnd. Kis 26:18). Pertobatan adalah pintu masuk menuju persekutuan dengan Kristus, tanpa pertobatan akan sia-sia mendengar semua ajaran yang Tuhan Yesus sampaikan.
Jika menyimak pesan yang disampaikan oleh para nabi dalam Alkitab, pertobatan merupakan pesan terpenting dan terutama yang disampaikan. Kita dapat membacanya dalam Perjanjian Lama (misalnya dalam Yer 7:3; Yeh 18:30; Yoel 2:12-14; Mal 3:7), maupun dalam dalam Perjanjian Baru Yohanes Pembaptis (Mat 3:2), Yesus Kristus (Mat 4:17; 18:3; Luk 5:32) dan orang-orang Kristen (Kis 2:38; 8:22; 11:18; 2Pet 3:9).

Sebagai bandingannya dalam ayat 7 diceritakan apa yang disampaikan oleh Yohanes kepada orang Farisi dan Saduki. Kedua kelompok utama dalam agama Yahudi ini mempunyai cara pandang yang berbeda terhadap Taurat namun sama-sama tunduk pada hukum Taurat. Hal yang membuat kedua golongan ini ditentang oleh Yohanes juga Tuhan Yesus adalah sikap mereka yang tidak sungguh-sungguh dari hati untuk taat kepada hukum-hukum Tuhan. Ketaatan mereka hanyalah ketaatan diluar saja, agar dilihat oleh orang, tanpa ada juga keinginan untuk mengakui dan bertobat dari kesalahan yang mereka lakukan, bahkan Hukum Taurat sering mereka pakai untuk menekan orang lain (bnd. Mat 23:25; 9:14; 23:2-4; Luk 18:9-14). Saat berhadapan dengan Tuhan Yesus juga kedua kelompok ini bersikap menentang (bnd. Mat 16:1-4).
Pertobatan seperti yang diserukan oleh Yohanes Pembaptis dan juga oleh semua nabi bahkan oleh Tuhan Yesus yang dapat kita baca dalam Alkitab pada akhirnya harus menghasilkan sebuah perubahan dalam diri maupun bagi orang lain. Dalam ayat 8-12 Yohanes Pembaptis menyerukan bahwa pertobatan haruslah mengahasilkan buah yang sesuai, yaitu sesuatu yang mendatangkan kebaikan sesuai dengan firman Tuhan.
Ada dua hal pokok yang dapat dipelajari dan diajarkan dari apa yang disampaikan oleh Yohanes Pembaptis ini. Hal yang pertama yaitu harus ada pertobatan jika kita benar mau menerima Kristus dalam hidup kita, pertobatan itu mutlak diperlukan karena tidak seorangpun yang tidak berdosa. Apakah boleh berbuat dosa lagi kalau sudah menerima Kristus? Tentu tidak, pilihannya hanya menerima Kristus atau tetap berbuat dosa, jika menerima Kristus berarti tidak lagi berbuat dosa, kalau masih berbuat dosa berarti tidak menerima Kristus, tidak boleh dan tidak mungkin menjadi hamba kepada dua tuan (bnd. Lukas 16:13).
Dan hal yang kedua adalah harus ada buah dari pertobatan itu, harus ada yang dihasilkan dari sebuah pertobatan. Pertobatan bukan hanya sekedar dikatakan tetapi harus dilakukan dalam sikap dan perbuatan yang benar. Orang yang bertobat adalah orang yang menghasilkan buah kebaikan, yang pikiran, perkataan dan perbuatannya adalah yang berkenan kepada Tuhan, bukan memikirkan yang jahat, berkata yang jahat apalagi berbuat yang jahat. Ajak anak-anak untuk menyebutkan contoh kehidupan sehari-hari sebagai buah dari pertobatan itu.


Ayat Hafalan:

Lukas 5:32
Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.".


Alat Peraga

Gambar Peraga

Aktivitas

Mewarnai


Saturday, January 20, 2018

Paskah Pertama di Yerusalem (Lukas 2:21-40)

Aktivitas untuk cerita: Yesus pada umur dua belas tahun dalam Bait Allah (Lukas 2:41-52)
Teka-teki silang

Maze

Saturday, December 9, 2017

Persiapkan Hatimu Menyambut Tuhan (Markus 1:1-8)

Bahan Ajar Sekolah Minggu 10 Desember 2017
Tema : “Persiapkan Hatimu Menyambut Tuhan” (Markus 1:1-8)
Tujuan :
- Anak-anak tahu bahwa hanya hati yang bersih yang bisa menerima kedatangan Tuhan
- Anak-anak mau mengasihi dan saling memaafkan sehingga hatinya bersih dari hal-hal yang buruk

Pokok Renungan

Injil Markus melewatkan kelahiran dan tahun-tahun awal kehidupan Kristus, dalam Injil ini langsung membahas rangkaian peristiwa yang mengawali pelayanan Tuhan Yesus. Pelayanan ini sendiri merupakan apa yang sudah dinubuatkan oleh Nabi Yesaya dalam Perjanjian Lama, pelayanan Tuhan Yesus didahului oleh seorang yang diutus untuk mempersiapkan umat Tuhan menyongsong kedatangan-Nya.
Apa yang dilakukan dan diucapkan oleh Yohanes Pembaptis merupakan apa yang sebelumnya sudah disampaikan oleh nabi-nabi dalam Perjanjian Lama baptisan dan khotbah yang dilakukan olehnya sejalan dengan ayat-ayat Alkitab. (bnd. Maleakhi 3:1, Keluaran 23:30). Pada ayat 3 merupakan kutipan yang nyaris lengkap dari Yesaya 40:3.
Yohanes Pembaptis sendiri tampil layaknya para nabi zaman Perjanjian Lama yang menyampaikan pesan dari Tuhan sendiri kepada umatNya. Namun apa yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis bukan hanya penggenapan akan apa yang dinubuatkan, lebih dari itu merupakan sebuah kabar gembira tentang anugerah dari Tuhan yang sangat besar melebihi semua janji yang pernah Tuhan sampaikan kepada umatNya, karena Tuhan sendiri yang datang untuk menebus umatNya melalui Yesus Kristus.
Karena itu, Yohanes Pembaptis menekankan pentingnya persiapan untuk menyambut kedatangan Tuhan itu. Dalam seruannya kepada para pendengarnya, Yohanes meminta agar setiap orang mempersiapkan jalan untuk kedatangan Tuhan. Yang dimaksudkannya tentu bukan jalan secara fisik, yang biasa dilewati oleh orang-orang melainkan jalan yang dimaksud adalah hati setiap orang. Hati yang lurus dan bersih yang terbukan menerima Tuhan.
Apa yang ditekankan oleh Yohanes Pembaptis ini merupakan apa yang harus dilakukan oleh setiap orang yang mau menyambut dan menerima Tuhan dalam hidupnya, termasuk kita dan anak-anak.
Tuhan akan ada dan tinggal didalam hati yang bersih yang lurus dan mau menyambutnya, sebaliknya, ketika hati dipenuhi oleh hal-hal yang buruk, dengan sendirinya hati itu menolak Tuhan. Karena hati itu akan menolak setiap hal dan pikiran baik.
Menjadi perenungan dan pelajaran penting bagi para pengajar dan anak-anak dari apa yang disampaikan oleh Yohanes Pembaptis ini.
Masing-masing kita, juga anak-anak dapat melihat dirinya sendiri dan mengetahui, apakah saya siap menerima kedatangan Tuhan atau sebaliknya saya menolak kedatangan Tuhan. Hati yang menerima kedatangan Tuhan adalah hati yang bersih dari kemarahan, kebencian, iri dan dengki dan hal-hal buruk lainnya. Sebaliknya hati yang siap menerima Tuhan adalah hati yang mengasihi dan mau memaafkan kesalahan orang lain.


Alat Peraga

Gambar Yohanes Pembaptis



Aktivitas

Mewarnai



Ayat Hafalan:

Markus 1:3
ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya,"