Blog ini berisi Bahan Ajar / Cerita Sekolah Minggu dalam Bahasa Indonesia, silakan dipakai / dikutip secara bebas dan gratis karena Firman Tuhan bebas untuk diberitakan dan diketahui oleh semua orang

This blog contains materials for Sunday School Sermon. The sermon materials are written in Indonesian, but I hope the activities and images contained can be used by anyone with any language, please feel free to use it

Saturday, August 20, 2016

Beribadah Kepada Tuhan (Lukas 13:10-17)

Bahan Ajar PAR 21 Agustus 2016
Tema : “Beribadah Kepada Tuhan” (Lukas 13:10-17)
Tujuan :
- Anak-anak tahu bahwa ibadah itu penting bagi orang percaya
- Anak-anak mau beribadah dan juga melakukan hal yang baik

Pokok Renungan

Ada beberapa hal penting dan menarik dari bacaan Alkitab hari ini berkaitan dengan ibadah.
Tuhan Yesus sebagaimana orang Yahudi pada umumnya mengisi hari Sabat-Nya di rumah ibadat. Dalam kesempatan itu juga Tuhan Yesus mengajarkan firman Tuhan  kepada orang-orang yang hadir disitu. Ketika Ia berada di rumah ibadat itu juga Ia mengadakan suatu mujizat, yang timbul dari belas kasihan-Nya kepada orang yang sudah lama terikat oleh iblis. Tuhan Yesus sendiri berinisiatif untuk memanggil dan menyembuhkan perempuan yang sakit itu.
Karena apa yang dilakukan-Nya, Tuhan Yesus ditegur/dikecam oleh kepala rumah ibadat. Dan tentunya teguran yang disampaikan oleh kepala rumah ibadat itu justru membuka kedok kemunafikannya sendiri.
Kita dapat belajar bahwa dalam keberadaan-Nya, Tuhan Yesus tetap bersekutu pada hari Sabat sebagaimana orang-orang Yahudi lainnya. Demikian juga perempuan yang sakit itu, dalam ketidakmampuannya, ia masih menyediakan waktu untuk datang bersekutu / beribadah kepada Tuhan. Ini menunjukkan betapa hal beribadah kepada Tuhan itu merupakan hal yang sepantasnya menjadi kewajiban bagi setiap orang percaya. 
Dalam keadaannya yang sakit tentunya perempuan itu berharap bisa disembuhkan, namun kedatangannya ke rumah ibadat tentunya bukan untuk mencari kesembuhan semata, bahkan mungkin tidak terpikirkan olehnya untuk sembuh. Ini bisa dilihat bahwa perempuan itu tidak berusaha untuk mencari Tuhan Yesus untuk menyembuhkannya tetapi Tuhan Yesus yang berinisiatif untuk menyembuhkannya.  Dari pandangan Tuhan Yesus, perempuan ini membutuhkan kesembuhan walaupun ia sendiri tidak memintanya, Tuhan tahu kebutuhan setiap orang percaya walaupun tidak terucapkan. Dengan menawarkan kesembuhan kepada orang yang tidak memintanya, ini menunjukkan belas kasihan dan anugerah Kristus yang mau bertindak bahkan sebelum kita sendiri meminta dari Dia.
Hal menarik lainnya, ketika kesembuhan itu terjadi melalui jamahan Tuhan Yesus, ada pihak yang merasa terganggu, kepala rumah ibadat merasa gusar. Mungkin saja dipengaruhi perasaan tidak suka yang sudah ada dalam dirinya atau karena pemahamannya yang salah tentang hukum Taurat.
Dalam jawaban-Nya kepada kepala rumah ibadat itu, Tuhan Yesus memberikan kepadanya pemahaman yang benar tentang maksud hukum Taurat. Bahwa hukum Taurat justru menempatkan manusia sebagai ciptaan yang lebih mulia daripada binatang. Karena itu kasih kepada manusia haruslah ditempatkan pada tempat yang lebih daripada semua aturan yang berlaku di antara mereka. (bnd. Matius 22:37-40)
Dari bacaan ini dapat ditekankan kepada anak-anak tentang pentingnya beribadah sebagaimana Tuhan Yesus sendiri telah menunjukkannya dan juga sebagaimana dicontohkan oleh perempuan yang dalam sakitnya pun masih memberikan waktunya untuk beribadah kepada Tuhan tidak dengan motivasi untuk keuntungan dirinya (disembuhkan) .
Namun perlu juga diingatkan bahwa ibadah yang dijalankan itu haruslah disertai dengan sikap yang baik / kasih terhadap sesama, tidak seperti kepala rumah ibadat, yang tentunya rajin beribadah, tetapi mengabaikan kasih kepada sesama.


Cerita Kelas Kecil

Sebelum bercerita, kakak ingin adik-adik berdiri dan coba mengikuti gerakan kakak. (bungkukkan badan ke depan kemudian berjalan)
Apakah adik-adik merasa sulit melakukannya? Bagaimana kalau setiap hari adik-adik harus berjalan seperti itu, apakah adik-adik bisa? Kalaupun adik-adik bisa pasti akan sakit sekali punggung adik-adik.
Nah semua boleh duduk kembali untuk mendengarkan cerita.
Ada seorang ibu yang menderita sakit yang sudah lama sekali. Karena sakitnya itu, belakangnya menjadi bungkuk, seperti yang adik-adik lakukan tadi, sehingga setiap hari saat ia berjalan, duduk bahkan tidurpun ia tidak bisa meluruskan badannya.
Namun ibu ini ternyata tetap rajin untuk pergi beribadah, walaupun tentunya ia kesulitan berjalan dari rumahnya ke tempat ibadah. Apalagi seringkali ada anak-anak nakal yang menggangu dan mengolok-oloknya karena ia bungkuk.
Pada suatu hari, ketika ibu ini pergi ke rumah ibadat, ternyata Tuhan Yesus juga datang ke rumah ibadat itu.
Ketika Tuhan Yesus melihat ibu yang bungkuk itu, Ia menjadi kasihan sehingga, Tuhan Yesus memanggil ibu itu dan berkata kepadanya, "Hai ibu, penyakitmu telah sembuh." Kemudian Tuhan Yesus meletakkan tangannya diatas ibu itu dan punggung ibu itu menjadi lurus dan dapat berdiri tegak kembali dan berjalan dengan normal.
Begitu ia merasakan bahwa tubuhnya sudah sehat kembali, ibu itu langsung memuji dan memuliakan Tuhan. Wah, pasti senang sekali ibu itu, demikian juga orang-orang yang melihatnya.
Tetapi, ternyata ada juga orang yang tidak suka ibu itu disembuhkan, ia adalah kepala rumah ibadat itu. Ia berkata bahwa Tuhan Yesus seharusnya tidak menyembuhkan orang pada hari Sabat.
Namun Tuhan Yesus tahu, bahwa kepala rumah ibadat itu tidak senang dengan apa yang Tuhan Yesus lakukan karena ia iri dan benci kepada Tuhan Yesus. Karena itu Tuhan Yesus mengajarkan kepadanya bahwa selain beribadah kepada Tuhan orang juga harus tetap melakukan hal baik seperti yang Tuhan ajarkan.
Demikian juga Tuhan Yesus ajarkan kepada adik-adik agar selalu rajin beribadah kepada Tuhan. Ibu yang sakit dan susah berjalan itu saja masih mau pergi ke rumah ibadat, apalagi yang masih kuat dan sehat seperti adik-adik semua. Dan Tuhan Yesus juga mengajarkan bahwa selain beribadah kepada Tuhan, adik-adik juga harus selalu melakukan hal yang kepada seasama. Percuma kalau adik-adik rajin ke sekolah minggu tapi suka berbuat jahat kepada teman, seperti kepala rumah ibadat yang setiap minggu pasti rajin beribadah kepada Tuhan tetapi ia tidak mengasihi sesama, malah iri dan benci kepada sesama.
Tuhan Yesus menyayangi anak-anak yang rajin beribadah dan juga selalu berbuat baik.

Cerita Kelas Besar



Alat Peraga

Gambar Peraga

Aktivitas

Mewarnai

menyambung titik, cari perbedaan, cari kata, susun cerita bergambar


Ayat Hafalan

Ibrani 10:25
Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.

Saturday, August 13, 2016

Siapa Aku (Markus 8 : 27-30)

Bahan Ajar PAR 14 Agustus 2016
Tema : “Siapa Aku” (Markus 8 : 27-30)
Tujuan :
- Anak-anak tahu bahwa Yesus adalah Tuhan
- Anak-anak mengenal Tuhan Yesus secara pribadi


Pokok Renungan

Dalam pengajaran atau perenungan tentang Tuhan Yesus dalam setiap ibadah maupun kepada anak-anak sekolah minggu, seringkali diceritakan tentang mujizat-mujizat yang dilakukan-Nya, disamping pengajaran-Nya yang selalu menekankan kasih kepada sesama. Memang hal ini secara tidak langsung memberikan gambaran tentang siapa Tuhan Yesus itu, namun juga perlu sebuah kejelasan sikap/pandangan tentang siapa Yesus yang itu bagi setiap orang. Apa makna dari semua hal yang dilakukan-Nya.
Semua hal tentang apa yang dilakukan dan diajarkan oleh Tuhan Yesus sudah tercatan dalam berbagai kitab, terutama keempat injil. Yang menjadi pertanyaan buat setiap orang percaya yang membaca dan merenungkannya adalah apakah berbagai catatan ini hanya sekedar bahan bacaan? Pasti tidak, karena semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah (Yoh. 20:31).
Bacaan kitab hari ini tentang percakapan Tuhan Yesus dengan murid-murid-Nya akan membantu kita merenungkan mujizat yang Tuhan Yesus lakukan serta maksudnya bagi kita.
Mujizat yang dilakukan-Nya membuktikan bahwa Ia adalah Mesias yang benar, Anak Allah, dan Juruselamat dunia. Pekerjaan yang dilakukan-Nya memberikan kesaksian tentang Dia; dan murid-murid-Nya, yang menjadi saksi mata dari pekerjaan-pekerjaan itu, mengakui keyakinan mereka akan hal itu. Pengakuan harusnya menjadi perenungan hati setiap orang percaya.
Tuhan Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya, apa pikiran orang tentang Dia (ayat 27). Walaupun mungkin pendapat orang itu tidak terlalu penting tapi kadang ada baiknya kita mengetahui pendapat orang lain tentang kita, bukan ingin mencari pujian bagi diri kita sendiri, tetapi supaya bisa tahu kesalahan/kekurangan diri sendiri. Kristus bertanya kepada mereka, bukan untuk memperoleh infomasi, tetapi supaya murid-murid memperhatikan pendapat orang mengenai Dia dan menceritakan hal ini satu sama lain.
Yang murid-murid katakan, yaitu yang mereka dengar dari orang-orang nampaknya memberikan penilaian yang tinggi kepada Tuhan Yesus, walaupun pendapat mereka itu belum mendekati kebenaran yang sesungguhnya, mereka telah menjadi yakin oleh karena mujizat-mujizat-Nya bahwa Ia adalah orang yang luar biasa, diutus dari dunia yang tidak kelihatan dengan tugas ilahi.
Bisa saja orang-orang akan mengakui Dia sebagai Mesias jika mereka tidak terpengaruh oleh pendapat ahli Taurat bahwa Mesias haruslah seorang raja duniawi, tampil dalam kebesaran dan kuasa, yang sama sekali berbeda dari diri Kristus. 
Walaupun tidak menganggap Tuhan Yesus sebagai Mesias, namun banyak orang melihat Tuhan Yesus secara baik dan menyetarakannya dengan orang-orang baik yang mereka kenal. Ada yang mengatakan bahwa Dia adalah Yohanes Pembaptis, yang lain pikir Elia, yang lain lagi seorang dari para nabi (ayat 28). Semuanya setuju bahwa Ia seperti inkarnasi dari orang-orang hebat yang telah mati. Semua pendapat itu baik dan jujur, terbukti dari orang-orang yang bersedia mengikuti dan mendengar Dia.
Tetapi bagi para murid, pertanyaan ini haruslah menjadi sangat serius, karena mereka bahkan meninggalkan segalanya, perkerjaan yang menjadi penghidupannya untuk mengikuti Tuhan Yesus. Tetapi apa katamu siapakah Aku ini? Untuk pertanyaan ini mereka telah siap dengan jawabannya, "Engkau adalah Kristus, Mesias yang dijanjikan, dan telah lama dinantikan (ayat 29)."
Jawaban itu merupakan sebuah jawaban pengikut Kristus / orang Kristen sejati, yaitu orang yang sungguh-sungguh percaya dengan tulus hati bahwa Yesus adalah Kristus, dan bertindak sesuai dengan keyakinannya itu. Bahwa Dia memang Kristus dengan jelas tampak dalam pekerjaan-pekerjaan-Nya yang ajaib. Inilah yang mereka ketahui, dan harus diberitakan segera dan dipelihara terus; walaupun sampai saat itu mereka harus merahasiakannya dulu (ayat 30), karena semuanya akan tergenapi oleh pencurahan Roh Kudus.
Penerimaan terhadap Yesus sebagai Mesias, termasuk oleh anak-anak haruslah dimulai dengan dasar yang kuat, yaitu bukti bahwa Ia punya kuasa Allah, yaitu kuasa yang besar yang mampu mengatasi segala hal, penyakit, kekuatan alam, kematian bahkan kuasa untuk mengampuni dosa. Hanya dengan semua hal yang telah dilakukannya itu akan menunjukkan bahwa Ia adalah Allah sendiri, hanya Allah yang mengampuni dosa manusia.


Cerita Kelas Kecil

Selamat pagi adik-adik. Hari ini sebelum kakak bercerita, kakak minta adik-adik yang bercerita dahulu. Adik-adik tolong menceritakan kembali cerita tentang Tuhan Yesus yang pernah adik-adik dengar, apa saja yang Tuhan Yesus pernah buat atau katakan kepada orang lain. Yang mau bercerita silakan berdiri.
(berikan kesempatan kepada masing-masing anak yang mau untuk bercerita, pengajar membantu jika anak-anak masih ragu atau tidak bisa bercerita dengan lancar)
Nah tadi semua sudah dengar teman-teman bercerita tentang apa yang Tuhan Yesus telah lakukan. Ada yang menceritakan tentang kesembuhan bagi orang yang sakit,  juga kebangkitan bagi yang mati, Tuhan Yesus juga mengusir roh jahat, memberi makan banyak orang bahkan Tuhan Yesus juga bisa menyuruh angin dan gelombang supaya tenang.
Adik-adik tahu mengapa semua itu bisa dilakukan? (biarkan anak-anak menjawab) Karena Tuhan Yesus punya kuasa yang sangat besar, lebih dari apapun yang ada di dunia ini.
Tadi adik-adik sudah bercerita jadi sekarang giliran kakak yang bercerita tentang Tuhan Yesus.
Pada suatu hari Tuhan Yesus sedang berjalan bersama murid-murid-Nya ke kampung-kampung di sebuah daerah yang bernama Kaisarea-Filipi. Sambil berjalan, mereka berbincang-bincang dan bercerita satu sama lain. Kemudian Tuhan Yesus bertanya kepada murid-murid, “Kamu pernah dengar, apa yang orang-orang katakan tentang aku?”. Diantara murid-murid ada yang menjawab, “Ada orang yang bilang Yohanis Pembaptis”. Apakah betul? Ya, memang Tuhan Yesus bisa juga seperti Yohanis Pembaptis yang memberitakan firman tentang Kerajaan Surga, tapi tentu bukan hanya itu.
Murid yang lain juga menjawab, “Ada yang bilang Elia”. Apakah seperti Elia? Ya Tuhan Yesus bisa melakukan seperti yang Elia lakukan, bisa membangkitkan orang mati, juga memerintah benda-benda di alam untuk melakukan yang dikehendaki-Nya, tetapi bukan hanya itu saja.
Ada lagi murid yang menjawab, “Ada orang yang bilang Tuhan Yesus pasti salah seorang nabi”. Tentu saja Tuhan Yesus dapat melakukan hal yang dilakukan oleh seorang nabi, Ia bisa menyampaikan firman Tuhan, juga mengetahui apa yang akan terjadi. Tapi tentu lebih dari itu.
Lalu Tuhan Yesus bertanya lagi kepada murid-murid, “Menurut kalian sendiri siapa Aku?”
Murid-murid kaget juga, tadi Tuhan Yesus tanyakan pendapat orang-orang, sekarang pendapat murid-murid.
Kalau Tuhan Yesus bertanya kepada adik-adik, apa yang adik-adik jawab? Menurut adik-adik siapa Yesus itu? (biarkan anak-anak menjawab)
Saat itu seorang murid menjawab, “Engkau adalah Mesias!”. Yaitu Tuhan sendiri yang datang ke dunia. Karena itu, Ia punya kuasa yang besar lebih daripada Yohanis Pembaptis, lebih juga daripada Elia dan nabi-nabi. Dan karena itu kita menyebutnya Tuhan Yesus.


Cerita Kelas Besar

Hari ini kita akan bermain tebak-tebakan tokoh Alkitab. Kakak akan menunjukkan gambar atau membacakan petunjuk/clue dan jika adik-adik tahu silakan menebak walapun belum semua petunjuknya kakak bacakan. Untuk itu silakan adik-adik bagi dalam beberapa kelompok.
(Atur anak-anak dalam beberapa kelompok, masing-masing 2 atau 3 orang)
Clue dan gambar lihat di aktivitas.
Berikan pertanyaan dan gambar secara acak dan bergantian sampai selesai, untuk setiap pertanyaan berikan nilai 2 untuk yang langsung menjawab benar dan nilai 1 untuk jawaban benar bagi pertanyaan yang dijawab salah oleh kelompok lain. Setelah semua selesai, berikan pertanyaan terakhir dengan nilai 5, kemudian baca Alkitab bersama anak-anak.
Kita sudah bermain dan membaca Alkitab bersama, menurut adik-adik mengapa orang-orang menyebut bahwa Tuhan Yesus adalah Yohanis Pembaptis (biarkan anak-anak menjawab), dan mengapa juga Tuhan Yesus disebut Elia atau salah satu dari nabi-nabi? (biarkan anak-anak menjawab)
Karena memang Tuhan Yesus menunjukkan hal baik yang sudah dilakukan oleh orang-orang itu,. Tuhan Yesus mengajarkan tentang firman seperti Yohanis Pembaptis, Tuhan Yesus juga melakukan mujizat seperti Elia, Tuhan Yesus juga tahu tentang nubuat-nubuat seperti para nabi. Tuhan Yesus punya kuasa seperti yang dilakukan oleh orang-orang itu, tetapi sebenarnya lebih dari semua orang itu Tuhan Yesus bahkan berkuasa untuk mengampuni dosa.
Itulah dikatakan oleh Simon Petrus ketika Tuhan Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya, "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?"
"Engkau adalah Mesias!" yaitu Anak Allah yang hidup yang dijanjikan oleh Tuhan Allah sendiri untuk menebus dosa manusia.
Kalau ditanyakan kepada adik-adik, apa yang adik-adik tahu tentang Tuhan Yesus? Apakan adik-adik pernah rasakan apa yang Tuhan Yesus buat untuk kehidupan adik-adik?


Alat peraga:

Gambar peraga



Aktivitas:

Mewarnai, Tebak Tokoh (Cerita), Dekorasi kertas


Ayat Hafalan:


Sunday, August 7, 2016

Jangan Takut, Tuhan Pasti Menolong (Matius 14:22-33)

Bahan Ajar PAR 07 Agustus 2016
Tema : “Jangan Takut, Tuhan Pasti Menolong” (Matius 14:22-33)
Tujuan :
- Anak-anak belajar untuk menyerahkan kekuatirannya kepada Tuhan
- Anak-anak mau berjalan dalam kehendak Tuhan tanpa keraguan

Pokok Renungan

Dalam bacaan ini menceritakan kisah lain tentang mujizat yang diadakan Tuhan Yesus bagi para murid dengan datang kepada mereka berjalan di atas air. Sebelumnya diceritakan Tuhan Yesus memberi makan sangat begitu banyak orang yang lapar dengan 5 roti dan 2 ikan, kedua mujizat ini dapat menggambarkan bagaimana Tuhan Yesus bertindak bertindak sebagai Tuhan alam semesta dengan memperbaiki dan mengendalikan kekuatan alam itu untuk menolong orang-orang yang berada dalam bahaya atau kesukaran.
Setelah membuat mujizat bagi banyak orang, Tuhan Yesus menyuruh murid-murid-Nya untuk mendahului Dia, pergi ke seberang danau, juga membubarkan banyak orang yang sudah menerima berkat-Nya itu. Walaupun mungkin murid-murid enggan namun karena mereka taat pada perintah-Nya sehingga pergi juga tanpa Tuhan Yesus.
Setelah semuanya pergi, saat sendirian, Tuhan Yesus kemudian mengambil waktu untuk berdoa kepada Bapa di surga. Dalam rupa seorang hamba, Tuhan Yesus menunjukkan betapa penting waktu sendiri bersama Bapa, adalah penting bagi kuta untuk selalu punya waktu sendiri juga, dalam berbagai kesibukan, untuk berdoa dan bersekutu dengan Tuhan.
Pada saat yang sama, murid-murid sudah berlayar agak jauh dari pantai dan mulai terombang ambing oleh gelombang. Mungkin mereka bisa berpikir, jika saja tidak mengikuti perintah Tuhan Yesus dan tidak berlayar melainkan duduk saja menunggui Tuhan Yesus tentunya mereka tidak harus berhadapan dengan gelombang, namun karena mengikuti perintah Tuhan Yesus mereka justru terhadang oleh bahaya, ditambah lagi, mereka tidak bersama dengan Tuhan Yesus. Suatu keadaan yang sangat tidak menyenangkan, mengikuti perintah Tuhan tetapi berhadapan dengan cobaan. 
Seringkali kita juga mengeluhkan ketika kita berhadapan dengan cobaan dalam pelayanan juga pekerjaan kita yang lain, ketika kita ingin berjalan sesuai kehendak Tuhan malah kita dihadapkan kepada berbagai tantangan.
Pada saat itu, Tuhan Yesus datang, tetapi para murid malah semakin bingung/takut, mereka berpikir bahwa mereka bertemu dengan hantu. Dalam keadaan dihadang bahaya, seringkali begitu banyak tenaga dan pikiran dicurahkan pada tantangan/bahaya itu sendiri bahkan lupa bahwa ada Tuhan yang penuh kuasa yang sanggup menolong.
Tuhan Yesus berseru kepada murid-murid agar jangan takut. Tuhan Yesus tidak segera meredakan gelombangnya melainkan menyatakan diri kepada murid-murid dan menghibur mereka agar jangan takut, karena memang walaupun gelombang / tantangan berbahaya tetapi sebenarnya ketakutan dalam diri manusia lebih berbahaya. Tuhan Yesus menenagkan hati murid-murid sehingga mereka bisa dengan jelas melihat Tuhan yang datang menghampiri mereka.
Pada ayat 28-31 diceritakan tentang bagaimana Petrus menanggapi dan bersikap ketika tahu yang dilihat adalah Tuhan Yesus.
Keberanian dan semangat besar yang ditunjukkan Petrus, seringkali justru membuat Petrus sendiri menerima konsekuensi yang tidak menyenangkan. Dalam bagian cerita Alkitab lainnya digambarkan bagaimana Petrus yang menggebu-gebu pada awalnya namun ternyata tidak mampu memenuhi janji/niatnya sendiri, yang diakibatkan oleh ketakutannya sendiri.
Namun disisi lain, semangat Petrus ini menunjukkan niat dan kepercayaan yang besar kepada Tuhan Yesus sehingga mengalahkan ketakutannya bahkan Petrus berani meninggalkan tempat yang aman didalam perahu dan meloncat keluar menuju gelombang.
Walaupun cukup berani, akhirnya Petrus menampakkan juga kelemahan dirinya, ketika ia mulai ragu karena merasakan tiupan angin. Walaupun Tuhan Yesus berada didepannya, namun Petrus masih merasa terganggu dengan tiupan angin, fokusnya terbagi, bukan hanya kepada Tuhan Yesus yang memberi harapan tetapi juga kepada tiupan angin yang mengancam. Dalam keraguan yang membuat ia tenggelam, Petrus berseru kepada Tuhan Yesus, "Tuhan, tolonglah aku!", sebuah seruan singkat yang didengar oleh Tuhan, menunjukkan penyerahan sepenuhnya kepada Tuhan dalam ketakutan akan kebinasaan, dan Tuhan mengulurkan tanan-Nya untuk menolong.
Tantangan utama kepercayaan kita adalah ketakutan/keraguan akan kuasa Tuhan. Hal itu juga dirasakan oleh anak-anak. Untuk itu perlu untuk diajarkan selalu kepada anak-anak, kepercayaan bahwa Tuhan pasti menolong. Bahwa apapun yang sejalan dengan kehendak Tuhan pasti akan berada dalam perlindungan Tuhan walaupun ada tantangan menghadang.

Cerita untuk Anak

Hari ini kita mendengarkan cerita lagi tentang perahu yang sedang berlayar di danau. Apakah adik-adik masih ingat cerita yang lalu tentang perahu yang sedang berlayar? (biarkan anak-anak menjawab)
Nah, kalau beberapa waktu yang lalu adik-adik pernah mendengar cerita Tuhan Yesus yang tertidur dalam perahu saat angin ribut di tengah danau, hari ini kita akan mendengar cerita tentang murid-murid yang sedang berlayar sendirian di danau, Tuhan Yesus tidak ikut bersama dengan mereka.
Suatu waktu, setelah mengajar dan memberi makan banyak orang, dan hari sudah mulai malam, Tuhan Yesus menyuruh murid-murid pergi ke seberang danau dengan perahu, Tuhan Yesus tidak ikut, karena mau berdoa dulu.
Ketika perahu yang dipakai murid-murid mulai menjauh dari pantai, ada angin bertiup dan gelombang muali terasa membuat perahu mereka terombang-ambing. Murid-murid mulai takut, jangan sampai perahu yang mereka tumpangi tenggelam karena dihantam gelombang.
Saat mereka masih takut karena gelombang itu, tiba-tiba dari kegelapan malam itu, sepertinya ada sesuatu yang melayang-layang di atas air. Dan semakin lama semakin dekat.
Ada yang berteriak sambil menunjuk, “Itu hantu” dan ketika yang lain juga melihat, mereka juga berteriak ketakutan.
Tapi, tiba-tiba ada suara terdengar, rupanya suara itu dari orang yang mereka kira hantu itu berkata, "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!"
Oh, rupanya itu Tuhan Yesus, bukan hantu, mereka mengenal suara-Nya. Dan mereka melihat ternyata Tuhan Yesus sedang berjalan di atas air.
Mendengar itu Petrus langsung berdiri dan meminta supaya boleh berjalan di atas air menuju Tuhan Yesus. Tuhan Yesus berkata, "Datanglah!", sehingga Petrus cepat-cepat loncat dari perahu dan berjalan menuju Tuhan Yesus.
Namun saat sedang berjalan menuju Tuhan Yesus, Petrus merasakan ada angin bertiup dan ia mulai takut, jangan sampai saya akan tenggelam. Karena takut, ternyata ia perlahan-lahan mulai tenggelam sehingga Petrus berteriak kepada Tuhan Yesus, "Tuhan, tolonglah saya!". Melihat itu, Tuhan Yesus segera mengulurkan tangan-Nya untuk mengangkat Petrus, kemudian bersama dengan Petrus Tuhan Yesus naik ke atas perahu untuk melanjutkan perjalanan. Saat mereka sudah di atas perahu itu, angin dan gelombang juga menjadi reda dan tenang sehingga mereka dapat melanjutkan perjalanan dengan aman.
Adik-adik tahu mengapa Petrus  yang sudah bisa berjalan di atas air, tiba-tiba tenggelam (biarkan anak-anak menjawab).
Sebenarnya tidak apa-apa kalau angin bertiup, karena sebelum Tuhan Yesus datang juga angin sudah bertiup, tetapi karena Petrus takut dan kurang percaya. Padahal Tuhan Yesus ada di depannya seharusnya Petrus percaya bahwa jika Tuhan yang menyuruhnya pasti dia bisa, namun karena kurang percaya itu, ia mulai tenggelam.
Demikian juga adik-adik harusnya percaya bahwa apa yang Tuhan Yesus perintahkan itu pasti bisa adik-adik lakukan. Tuhan Yesus tahu adik-adik bisa melakukannya dan Tuhan Yesus juga akan menolong jika adik-adik merasa sulit untuk melakukannya.
Jika Tuhan Yesus menyuruh adik-adik untuk rajin berdoa, pasti adik-adik bisa melakukannya, juga kalau Tuhan Yesus menyuruh adik-adik berbuat baik kepada saudara dan teman pasti adik-adik bisa melakukannya.

Alat peraga:

Gambar peraga

Aktivitas:

Mewarnai

Ayat Hafalan:

Matius 14:27b
"Tenanglah! Aku ini, jangan takut!"

Saturday, July 30, 2016

Bersyukur Kepada Tuhan (Lukas 17 : 11-19)


Bahan Ajar PAR 31 Juli 2016
Tema : “Bersyukur Kepada Tuhan” (Lukas 17 : 11-19)
Tujuan :
- Anak-anak belajar untuk mengucap syukur kepada Tuhan
- Anak-anak mau berterima kasih kepada semua orang yang melakukan kebaikan baginya

untuk bahan ajar lengkap aktivitas dan kunci jawaban dalam format pdf klik disini atau download di Scribd

Pokok Renungan

Cerita tentang 10 orang kusta ini hanya diceritakan dalam Injil Lukas.
Penyakit kusta merupakan penyakit yang oleh orang Yahudi dipandang sebagai hukuman atas dosa tertentu, dan diartikan sebagai tanda ketidaksenangan Allah. Karena itu Tuhan Yesus nampaknya sangat peduli untuk menyembuhkan orang kusta yang Ia temui dalam perjalanan-Nya, sebagaimana ia datang untuk menyelamatkan orang berdosa.
Dalam bacaan ini, saat perjalanan menuju Yerusalem, di perbatasan antara Samaria dan Galilea, Tuhan Yesus menemukan orang-orang kusta yang mungkin berasal dari desa yang dilaluinya.
Beberapa hal menarik yang bisa direnungkan berkaitan dengan tema tentang bersyukur:

  • Kesepuluh penderita kusta itu sadar akan diri mereka yang tidak bersih, sehingga mereka tidak berani mendekat kepada Tuhan Yesus. Hal ini sesuai aturan hukum Taurat yang mengharuskan penderita kusta menjaga jarak dari orang lain (bnd. Im. 13:46)
  • Mereka bersama berseru, memohon dengan sangat, kepada Tuhan Yesus untuk mengasihani mereka, tidak secara spesifik meminta kesembuhan.
  • Tuhan Yesus menyuruh mereka pergi kepada imam dan tanpa membantah, dengan percaya mereka pergi walaupun saat itu mereka belum sembuh. Kepercayaan mereka terjawab ketika kesembuhan itu terjadi dalam perjalanan menuju imam.
Bagian yang sangat menarik dari cerita ini adalah ketika hanya 1 orang, yang adalah orang Samaria, yang kembali untuk berterima kasih kepada Tuhan Yesus, setelah tahu dirinya sembuh.
Tuhan Yesus kemudian mempertanyakan kesembilan orang lain yang sudah disembuhkan itu. Tentu Tuhan Yesus tidak butuh balasan atas apa yang telah diberikanNya. Namun pertanyaan Tuhan Yesus itu menggambarkan betapa sangat sedikit orang yang benar-benar bisa megingat Tuhan disaat senang/bahagia.
Mengingat Tuhan disaat susah atau menghadapi masalah kemudian melupakanNya disaat senang atau terlepas dari masalah itu nampaknya sesuatu yang biasa terjadi dalam kehidupan kita. Karena itu ada beberapa pokok yang penting yang harusnya menjadi pelajaran bagi para pengajar dan anak-anak tentang bagaimana kita bisa mengucap syukur dengan sungguh kepada Tuhan.
  • Seperti kesepuluh penderita kusta yang tahu dirinya tidak bersih, seharusnya kita juga sadar bahwa diri kita tidak layak mendapat pertolongan dari Tuhan. Hal ini harus menjadi kesadaran diri dan bukan topeng untuk mendapat belas kasihan Tuhan.
  • Memohon belas kasih dari Tuhan haruslah dengan penyerahan sepenuhnya kepada kehendak-Nya, tanpa menuntut Tuhan melakukan seperti yang kita inginkan sebagaimana yang dilakukan oleh kesepuluh orang kusta itu, mereka hanya meminta belas kasih dari Tuhan.
  • Percaya sepenuhnya pada Tuhan dan melakukan perintahnya sebagai wujud percaya itu tanpa mempertanyakan maksud Tuhan, sebagaimana kesepuluh orang kusta itu pergi tanpa bertanya ketika Tuhan Yesus menyuruh mereka menghadap imam.
Didasari dengan kerendahan hati, penyerahan sepenuhnya kepada Tuhan dan ketertundukan kepada kehendak Tuhan akan membuat kita sadar bahwa sepantasnya kita mengucap syukur atas semua yang sudah kita terima dalam hidup ini. Hal ini nampaknya yang dirasakan oleh orang Samaria yang kembali dan mengucap syukur kepada Tuhan Yesus
Sejak kecil anak-anak sudah harus dibiasakan untuk melihat setiap kebaikan yang mereka terima itu sebagai sesuatu yang patut disyukuri. Teristimewa untuk kebaikan Tuhan yang mereka rasakan dalam kehidupan setiap hari.

Cerita Kelas Kecil

Adik-adik ingat apa yang biasa kita lakukan saat memulai sekolah minggu? Hal yang sama juga kita lakukan saat selesai sekolah minggu? Berdoa.
Apa saja yang kita doakan? Kita berdoa meminta Tuhan memimpin dan menjaga, baik saat di sekolah minggu maupun saat kita pulang, kita juga berdoa minta pertolongan dan berkat dari Tuhan, dan yang penting juga adalah kita berdoa untuk bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan.
Mengapa kita harus bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan?
Hari ini kita mendengar cerita tentang orang yang bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan.
Pada suatu hari, Tuhan Yesus pergi ke Yerusalem. Dalam perjalanan itu, Tuhan Yesus melewati sebuah desa. Di desa itu ada sepuluh orang yang sedang menderita sakit yang sangat parah. Karena sakit itu, badan mereka penuh luka yang tidak dapat disembuhkan bahkan jari kaki dan tangan mereka ada yang putus, penyakit itu disebut penyakit kusta. Karena penyakit itu tidak dapat disembuhkan, orang-orang mengusir kesepuluh orang itu dan melarang mereka untuk mendekati orang lain, bahkan mereka juga dilarang untuk pulang kerumah mereka. Tentunya mereka sangat sedih.
Ketika sepuluh orang yang sakit kusta itu melihat Tuhan Yesus, mereka tidak berani mendekat tapi mereka berdiri dari jauh sambil berteriak: "Tuhan Yesus, Guru, kasihanilah kami!"
Tuhan Yesus melihat mereka dan kasihan kepada mereka, lalu Tuhan Yesus mau menyembuhkan mereka, karena itu Ia menyuruh mereka pergi kepada imam-imam, untuk diperiksa apakah mereka sudah sembuh atau belum. Mereka percaya pasti Tuhan Yesus menyembuhkan mereka sehingga saat itu juga mereka langsung pergi.
Saat dalam perjalanan ke tempat imam-imam itu, mereka melihat bahwa penyakit mereka telah sembuh, sehingga mereka sangat senang dan ingin cepat-cepat sampai ke tempat imam-imam itu. Tetapi satu orang diantara sepuluh orang itu, tiba-tiba ingat bahwa dia telah disembuhkan oleh Tuhan Yesus tetapi dia belum berterima kasih kepada Tuhan Yesus, sehingga ia tidak mengikuti sembilan orang itu melainkan segera kembali kepada Tuhan Yesus dan mengucapkan syukur dan terima kasih pada Tuhan Yesus. Ia sangat berterima karena tanpa pertolongan Tuhan Yesus tentu penyakitnya tidak akan sembuh dan ia tidak bisa bertemu lagi dengan keluarganya, orang-orang yang disayanginya. Ia sangat bersyukur karena Tuhan Yesus masih mengasihi dan mau menolong mereka walaupun karena penyakit kusta itu mereka tidak disukai banyak orang.
Lalu kemana sembilan orang yang lain? Sepertinya mereka terlalu senang sampai lupa berterima kasih kepada Tuhan. Walaupun Tuhan Yesus tidak marah kepada mereka namun, Tuhan Yesus lebih senang kepada satu orang yang kembali dan mengucapkan syukur dan terima kasih itu.
Demikian juga Tuhan Yesus akan senang kepada anak-anak yang tahu berterima kasih, baik itu kepada Tuhan maupun kepada orang lain yang telah berbuat baik kepada kita.
Apakah adik-adik pernah mengucapkan terima kasih kepada mama atau papa yang sudah menjaga dan merawat adik-adik, memberi makan, pakaian, tempat tinggal dan sebagainya? Kepada kakak atau adik, teman dan siapa saja yang sudah menyayangi adik-adik?
Apakah adik-adik pernah mengucapkan terima kasih kepada Tuhan Yesus yang sudah menjaga dan melindungi adik-adik saat tidur, bermain, belajar, bahkan dimana saja adik-adik berada Tuhan Yesus selalu ada dan melindungi adik-adik.

Cerita Kelas Besar

Sebelum membaca Alkitab, kakak minta kesediaan 5 orang untuk menjawab pertanyaan kakak. Pertanyaannya sangat mudah: Kapan terakhir adik-adik mengucapkan kata terima kasih dan kepada siapa kata itu diucapkan.
(Setelah mendengar jawaban dari 5 anak yang bersedia menjawab, minta masing-masing anak menjelaskan alasan mengucapkan terima kasih itu.)
Baiklah, kita sudah dengar dari kelima teman kita kapan terakhir mereka mengucapkan terima kasih dan apa alasan mereka mengucapkannya.
Hari ini kakak akan mengajak adik-adik membaca dan mendengarkan cerita tentang 10 orang kusta yang disembuhkan oleh Tuhan Yesus.
Apakah ada diantara adik-adik yang tahu, apa itu penyakit kusta? (kalau ada biarkan anak menjawab) Ya, pada masa Tuhan Yesus, penyakit kusta adalah sebuah penyakit yang cukup berbahaya dan sangat sulit disembuhkan, orang yang terkena penyakit ini biasanya akan mengalami luka-luka bahkan sampai jari-jarinya putus dengan sendiri. Karena sulit disembuhkan dan gampang menular, orang-orang pada masa itu sangat takut bertemu dengan orang yang mengidap penyakit kusta, bahkan mereka mengusir para penderita kusta dan melarang mereka mendekati orang yang sehat, kalau mereka berani mendekat mereka pasti dilempari.
Pada suatu waktu ketika Tuhan Yesus sedang dalam perjalanan menuju Yerusalem, memasuki suatu desa di perbatasan Samaria dan Galilea, Tuhan Yesus bertemu dengan 10 orang kusta. Ketika mereka melihat Tuhan Yesus, mereka tahu bahwa mereka tidak boleh mendekati-Nya, namun mereka juga pernah mendengar bahwa Tuhan Yesus bisa melakukan mujizat, dan tentunya bisa menyembuhkan mereka. Karena itu dari jauh mereka berteriak memohon kepada Tuhan Yesus, mereka berkata, “Guru, kasihanilah kami!”.
Melihat itu Tuhan Yesus juga kasihan karena Ia tahu mereka pasti menderita karena sakit tubuh mereka juga karena mereka dikucilkan, sehingga Tuhan Yesus menyuruh mereka pergi kepada imam-imam untuk diperiksa apakah penyakit mereka sudah sembuh.
Walaupun kesepuluh orang kusta itu belum merasa sembuh saat itu, namun mereka percaya pasti mereka akan disembuhkan, sehingga mereka segera pergi menemui imam-imam.
Saat mereka masih di perjalanan, mereka melihat bahwa tubuh mereka sudah bersih kembali dan penyakit itu telah hilang, sehingga mereka sangat senang dan ingin cepat-cepat menunjukkan diri mereka kepada imam-imam. Tetapi ada satu orang yang berasal dari Samaria, langsung teringat bahwa kesembuhan yang dia peroleh itu pasti karena kuasa Tuhan Yesus, karena itu ia segera berbalik kembali menemui Tuhan Yesus, dari jauh ia langsung bersorak memuji Tuhan kemudian ia sujud menyembah kepada Tuhan Yesus. Ia sangat berterima kasih kepada Tuhan Yesus.
Tuhan Yesus tahu bahwa sepuluh orang itu telah sembuh semuanya, tetapi karena hanya satu orang yang kembali, sehingga Tuhan Yesus bertanya kemana sembilan orang yang lain. Tuhan Yesus bertanya mengapa mereka tidak kembali untuk bersyukur dan berterima kasih. Walaupun Tuhan Yesus tidak marah dan membuat sembilan orang itu menjadi sakit kembali namun Tuhan Yesus bertanya demikian untuk menunjukkan bahwa Ia menyukai orang-orang yang tahu bersyukur dan berterima kasih, baik kepada Tuhan maupun kepada sesama yang telah melakukan kebaikan.
Apakah adik-adik seperti satu orang yang kembali atau seperti sembilan orang yang tidak kembali?
Jika demikian, apakah adik-adik sudah berterima kasih kepada Tuhan Yesus karena hari ini adik-adik masih bisa bangun pagi, mengikuti sekolah minggu dan melakukan semua yang menyenangkan adik-adik?
Apakah hari ini adik-adik sudah mengucapkan terima kasih kepada mama dan papa yang sudah memberikan adik-adik makan dan minum, pakaian yang bersih untuk dipakai dan semua yang baik yang disediakan oleh orang tua?
Jika belum, ingatlah mulai saat ini untuk selalu bersyukurt dan mengucapkan terima kasih kepada Tuhan Yesus juga setiap orang yang telah melakukan hal yang baik bagi adik-adik.

Alat peraga:

Gambar peraga

Aktivitas: 

Mewarnai

Cari Kata

Teka Teki SIlang


bahan ajar lengkap dan kunci jawaban di Google Drive

Ayat Hafalan: 

1 Tawarikh 16:34
Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.


Saturday, July 23, 2016

Mendengar dan Melakukan Firman Tuhan (Matius 13:1-23)

Bahan Ajar PAR 24 Juli 2016
Tema : “Mendengar dan Melakukan Firman Tuhan” (Matius 13:1-23)
Tujuan :
- Anak-anak tahu sikap yang benar dalam mendengar firman Tuhan
- Anak-anak mau melakukan firman Tuhan dalam kehidupannya setiap hari

Bahan ajar lengkap aktivitas dapat didownload disini

Penjelasan Bahan Alkitab

Perumpamaan tentang penabur merupakan salah satu cerita favorit dan populer juga dalam Perjanjian Baru. Perumpamaan ini diartikan / ditafsirkan  langsung oleh Tuhan Yesus, sehingga langsung dapat dimengerti oleh pendengarNya pada waktu itu.
Perumpamaan ini sendiri merupakan rangkaian perumpamaan mengenai Kerajaan Sorga yang terdapat dalam Matius 13:1-58, yang berisi tetang pengaruh pemberitaan Injil terhadap kondisi rohani orang-orang yang mendengarkannya.
Beberapa hal yang diperlihatkan dalam rangkai perumpamaan ini adalah:

  1. Dalam sebagian besar perumpamaan, Kristus mengajarkan bahwa di dunia ini akan selalu ada baik dan jahat. Karena itu para pengikut-Nya akan selalu diperhadapkan dengan berbagai tawaran dan kompromi dengan dunia yang membawa kepada penghianatan, tapi sebaliknya juga tetap ada yang taat dan setia. Pada akhir zaman ini orang fasik akan binasa (Mat 13:41,49); "pada waktu itulah orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka" (Mat 13:43).
  2. Perumpamaan-perumpamaan ini dimaksudkan untuk mengingatkan para pengikut-Nya yang sejati agar jangan terkejut bila melihat kejahatan di dalam dunia ini dan juga mengajarkan bagaimana sikap yang tepat yang harus dilakukan sebagai murid yaitu dengan penyerahan diri sepenuhnya kepada Kristus (Mat 13:44,46) dan mengabdikan hidup kepada kebenaran.
  3. Perumpamaan ini diambil dari kisah kehidupan sehari-hari. Yang membuat hal ini menjadi bermakna atau tidak adalah para pendengar / penerima firman itu sendiri, firman itu menyatakan kebenaran kepada orang yang percaya sedangkan pada saat yang bersamaan menyembunyikan kebenaran itu dari orang yang tidak percaya (Mat 13:11). Perumpamaan kadang-kadang dapat menuntut orang mengambil keputusan (mis. Perumpamaan Orang Samaria yang murah hati).

Dari perumpamaan tentang penabur ini, juga perumpamaan lain dalam Matius pasal 13 ini, sebagai pengajar kita kembali diingatkan bahwa sebenarnya hampir setiap hari kita selalu membaca dan belajar tentang firman Tuhan namun seringkali juga kita mengabaikannya atau melakukan firman Tuhan namun tetap berkompromi dengan tawaran dunia.
Satu hal yang bisa langsung diterapkan dalam pengajaran anak adalah bagaimana anak-anak diajak untuk belajar bersikap yang benar dalam mendengar dan menanggapi firman Tuhan.


Cerita Kelas Kecil

Siapkan sebuah tomat (atau buah apa saja yang berbiji) dengan ukuran yang cukup besar dan benihnya (biji).
Adik-adik bisa lihat ini (tunjukkan benih/biji tomat), kalau kurang jelas biar kakak menunjukkannya lebih dekat (usahakan setiap anak bisa melihatnya).
Apakah ada yang tahu benda apa ini? (biarkan anak-anak menebak) Ini adalah biji tomat. Ini adalah benih yang diambil dari buah tomat.
Siapa yang pernah melihat buah tomat? Seperti apa buahnya? Sebesar apa buahnya?
Baiklah, kakak punya sebuah tomat yang besar dan sudah matang. Pasti enak rasanya. Didalam buah tomat inilah terdapat biji atau benih yang sangat banyak. Coba kita lihat (potong tomat dan ambil bijinya). Untuk apa bijinya ini? (biarkan anak-anak menjawab)
Hari ini kita akan mendengar cerita tentang seorang petani yang sedang menabur benih tanamannya. Cerita ini diceritakan oleh Tuhan Yesus kepada orang banyak yang sedang berkumpul untuk mendengar-Nya.
Ada seorang petani pergi ke ladang membawa benih untuk ditaburkannya. Sampai di ladang, ia mulai menaburkan benih tanamannya. (peragakan cara menabur/tunjukkan gambar)
Saat ia menabur benih itu ternyata ada yang jatuhnya di jalanan. Apa yang terjadi dengan benih di jalanan itu? Karena berada di jalan, benih itu diinjak orang dan ada yang dimakan oleh burung sehingga tidak ada satupun yang tumbuh.
Ada juga benih yang lain jatuhnya di tanah yang berbatu. Apa yang terjadi dengan benih itu? Ternyata benihnya bisa tumbuh. Tetapi, tanahnya terlalu sedikit, akarnya tidak bisa kemana-mana, sudah terhalang batu. Tidak lama kemudian benihnya layu dan mati.
Ada lagi benih yang jatunya di tanah yang subur, tetapi tanahnya penuh dengan semak berduri. Bagaimana nasib benihnya? Ternyata benihnya bisa tumbuh juga, dan mulai besar. Tetapi, semak duri disekitarnya mulai tumbuh dan besar juga sehingga menjepitnya. Benih itu tidak bisa tumbuh lebih besar lagi, tidak mendapat sinar matahari, akhirnya layu dan mati.
Dan ada juga benih yang tumbuh di tanah yang subur dan bersih. Apa yang terjadi dengan benih ini. Benihnya tumbuh, mulai besar, akarnya semakin kuat, batangnya semakin tinggi dan kemudian berbuah yang banyak.
Nah adik-adik demikian juga biji tomat yang sangat kecil ini, suatu saat jika adik-adik tanam di tanah yang subur, ia akan menjadi besar kemudian akan berbuah yang sangat banyak. Apakah adik-adik senang kalau dari satu biji tomat ini menghasilkan buah yang banyak? Demikian juga Tuhan Yesus senang jika benih yang ditaburkan itu berbuah yang sangat banyak.
Setelah bercerita, Tuhan Yesus mengatakan kepada murid-murid bahwa benih yang ditaburkan itu seperti firman Tuhan. Tuhan Yesus akan senang jika anak-anak mendengar friman Tuhan dan melakukannya karena itu seperti benih yang ditaburkan di tanah yang subur.
Tuhan Yesus menjadi sedih jika melihat adik-adik tidak mendengar saat firman Tuhan disampaikan karena itu seperti benih yang jatuh di jalan.
Tuhan Yesus juga sedih jika saat firman Tuhan disampaikan adik-adik bermain atau melakukan hal lain sehingga hanya sedikit yang adik-adik dengar, karena itu seperti benih yang jatuh di tanah berbatu. Demikian juga Tuhan Yesus sedih melihat adik-adik yang sudah mendengar firman Tuhan dengan baik tetapi ketika pulang rumah, adik-adik masih suka melakukan hal-hal yang tidak baik (berikan contoh/minta anak-anak sebutkan contoh), karena itu seperti benih yang jatuh di semak berduri.


Cerita Kelas Besar

Selamat pagi adik-adik. Hari ini kakak akan mengajak adik-adik belajar menanam, seperti yang biasa dilakukan bapak dan ibu petani.
Untuk memulainya, kakak punya sesuatu, ada yang tahu apa yang kakak bawa ini? (tunjukkan biji/benih tomat).
Ini adalah biji tomat yang siap disemaikan.
Supaya benih ini dapat tumbuh, apa yang harus disediakan?
Untuk mengetahuinya dengan jelas, mari kita membaca Alkitab. Apakah Alkitab juga menceritakan tentang cara bertani? Ternyata ada juga, yaitu cerita Tuhan Yesus tentang apa yang harus disediakan supaya benihnya bisa tumbuh dan menghasilkan buah yang banyak. 
Suatu hari, Tuhan Yesus menyampaikan perumpamaan kepada orang banyak, Tuhan Yesus bercerita: ada seorang yang pergi menabur benih di ladangnya. Saat ia menabur, ada benih yang jatuh di jalanan. Benih itu tidak sempat tumbuh karena langsung dinjak-injak oleh orang dan sebagian lagi dimakan oleh burung.
Ada benih yang lain yang jatuh di tanah yang berbatu. Benih itu tumbuh, namun karena tanahnya sedikit sehingga tidak lama kemudian benih itu layu dan mati.
Ada lagi benih yang jatuh di tanah yang baik tetapi disekelilingnya ada semak berduri. Saat benih itu mulai tumbuh, semak yang ada disekitarnya mulai menjepitnya dan benih itu tidak bisa menjadi besar, malah menjadi layu dan akhirnya mati juga.
Dan ada benih yang lain yang jatuh di tanah yang subur dan bersih dari batu-batu maupun semak berduri. Benih itu kemudian tumbuh, semakin besar dan berbuah yang banyak.
Nah dari cerita Tuhan Yesus ini adik-adik bisa belajar cara menanam yang benar kan. Yaitu di tanah yang bersih dan subur.
Sebelum kita lanjutkan menanam, mari kita dengar juga apa yang Tuhan Yesus maksudkan dengan cerita ini.
Tuhan Yesus berkata, benih itu seperti firman Tuhan  yang disampaikan kepada setiap orang termasuk anak-anak.
Ada anak-anak yang ketika firman Tuhan disampaikan, ia tidak mau mendengarkan, ia lebih sibuk bermain, dan melakukan hal yang lain sehingga sama sekali tidak mendengarkannya, firman itu hilang begitu saja, seperti benih yang jatuh di jalanan.
Ada juga anak yang mendengarkannya namun ia segera melupakannya, ia tidak mendengarkan dengan baik karena dalam pikirannya penuh dengan hal lain, ia lebih sibuk memikirkan permainan-permainannya, film-film kesukaannya dan sebagainya. Seperti halnya benih yang jatuh di tanah yang berbatu.
Ada juga anak yang mendengarkannya dengan baik, ia mulai mengerti tetapi ketika pulang ia tidak melakukan seperti yang diajarkan dalam firman Tuhan. Misalnya ketika ada teman mengajaknya mencuri, ia memilih untuk mengikuti teman walaupun ia tahu itu berdosa. Hal itu seperti benih yang jatuh di semak berduri.
Yang sesuai kehendak Tuhan adalah anak-anak yang menyiapkan hati dan juga perhatiannya untuk mendengar firman Tuhan, kemudian melakukannya dalam kehidupan sehari-hari, hal itu seperti benih yang jatuh di tanah yang subur yang telah dibersihkan dari segala hal yang buruk dan menganggu.
Supaya adik-adik tetap ingat dan menjadi seperti benih yang jatuh ditempat yang subur itu, mari kita sama-sama mempersiapkan tempat yang baik juga untuk menanam benih yang sudah kakak bawakan hari ini.


Alat peraga:

Gambar peraga

buah berbiji (mis. tomat) dan biji/benihnya, pot/polybag untuk menanam.


Aktivitas: 

Mewarnai

TTS, Menanam


Ayat Hafalan: 

Matius 13:16
“...berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar."

Saturday, July 16, 2016

Mengasihi Semua Orang (Lukas 10:25-37)

Bahan Ajar PAR 17 Juli 2016
Tema: “Mengasihi Semua Orang” (Lukas 10:25-37)
Tujuan :
- Anak-anak tahu bahwa Tuhan meminta anak-anak untuk mengasihi semua orang
- Anak-anak mau mengasihi semua orang tanpa memandang perbedaaan apapun

untuk bahan ajar lengkap aktivitas dan kunci jawaban klik disini atau download di Scribd

Penjelasan Bahan Alkitab

Kalau kepada kita ditanyakan maksud siapa ‘sesamaku manusia’ yang harus dikasihi, dapat dengan mudah kita menjawab: setiap orang/manusia adalah sesamaku yang harus dikasihi. Sementara disisi lain, dengan begitu banyak tindak kejahatan yang terjadi, semakin hari kita harus semakin waspada dan menaruh curiga tentang orang lain ‘sesamaku manusia’ apalagi orang yang asing bagi kita.
Perikop bacaan hari ini menceritakan tentang perbuatan baik yang dilakukan oleh seorang Samaria terhadap seorang asing yang ditemukannya tergeletak di pinggir jalan. Jika dikaitkan dengan keadaan sekarang, dapat saja kita menerima tindakan Imam dan orang Lewi itu sebagai tindakan preventif yang benar, karena mungkin saja mereka dijebak atau seperti dalam beberapa tafsiran, tindakan imam tersebut secara logis adalah tepat karena ia menghindarkan dirinya dari kenajisan kalau menyentuh seorang yang mungkin saja sudah mati (bnd. Bil. 19:11-22), dan mungkin saja orang Lewi itu memang terburu-buru dengan pelayanan yang harus dilakukannya.
Namun kita tahu bahwa maksud dari perumpamaan ini untuk menggambarkan seberapa pentingnya nilai seorang manusia dibandingkan dengan semua hal yang lain, bahkan itu aturan agama, kepentingan ibadah dan sebagainya seharusnya tidak ada yang lebih penting daripada kasih kepada sesama.
Tuhan Yesus menyampaikan perumpamaan ini untuk menjawab pertanyaan yang dimaksudkan untuk menjebak-Nya. Namun justru perumpamaan ini memberikan jawaban untuk banyak pertanyaan tentang kasih kepada sesama. Perumpamaan ini menekankan beberapa hal:

  • Iman dan ketaatan haruslah diwujudkan dengan kasih kepada sesama, terutama yang membutuhkan. Melayani dan taat pada firman Tuhan itu harus, tapi semua itu juga harus terwujud dalam tindakan nyata kepada sesama.
  • Menyadari kasih karunia yang Tuhan berikan bagi hidup kita akan membuka hati dan pikiran kita juga untuk dapat melakukan kasih kepada sesama. Tanpa kesadaran itu, kita mungkin menjadi orang-orang yang sangat paham tentang firman Tuhan namun tidak pernah mampu melakukannya dalam kehidupan kita.
  • Orang Kristen tanpa kepekaan dan kepedulian terhadap orang lain, menyatakan dengan jelas bahwa di dalam diri mereka tidak terdapat hidup kekal (Luk 10:25-28,31-37; bd. Mat 25:41-46; 1Yoh 3:16-20). Dal kasih haruslah ada kesediaan untuk memberi/berkorban. 

Mengajarkan kepada anak-anak tentang mengasihi sesama memang perlu dalam kerangka yang tepat, karena pada kenyataannya, kita juga harus tetap menjaga anak-anak dari tindakan jahat yang semakin hari semakin banyak terjadi, dalam hal ini bagaimana anak-anak tetap belajar untuk mengasihi namun juga harus menghindari orang-orang yang mungkin saja berniat jahat.
Namun dapat ditekankan kepada anak-anak, bagaimana mereka mau mengasihi sesama yang ada disekitar mereka tanpa memandang perbedaaan apapun diantara mereka dan mereka juga harus rela memberi kepada orang lain sebagai wujud kasih mereka. Tentunya anak-anak boleh saja menolong orang asing/yang tidak dikenal tetapi ajar anak-anak untuk melibatkan orang lain dalam menolong orang yang asing bagi mereka, anak-anak bisa mengajak orang tua, saudara yang sudah besar, atau guru.


Cerita Kelas Kecil

Buat sebuah tulisan ‘kasih’ yang cukup besar di sebuah karton/papan bisa dengan gambar jantung dengan tulisan didalamnya.
Selamat pagi adik-adik, hari ini kakak membawa sebuah tulisan besar (perlihatkan papan/karton). Kalau ada adik-adik yang sudah bisa membaca, coba dibaca bersama-sama. K-a-s-i-h, kasih.
Kasih itu berarti, sayang. Adik-adik sayang kepada siapa saja? (berikan kesempatan anak-anak menjawab, jika memungkinkan masing-masing anak menjawab).
Tentunya baik kalau kita mengasihi, mama, papa, saudara, teman....siapa lagi ya?
Hari ini kita mendengar cerita Tuhan Yesus tentang seorang yang melakukan kasih kepada orang lain.
Pada suatu hari, Tuhan Yesus bercerita, ada seorang yang sedang berjalan sendirian dari suatu kota ke kota yang lain, di tengah perjalan ia dihadang oleh beberapa orang perampok, mereka mengambil barang-barang yang dibawanya, ia melawan tetapi mereka memukulnya sampai tidak berdaya. Kemudian para perampok itu lari dan meninggalkannya tergeletak di pinggir jalan.
Beberapa saat kemudian, lewat seorang bapak yang biasanya mengajar di tempat ibadah, seorang imam. Ketika melihat orang itu di pinggir jalan, ia menjauh dan cepat-cepat pergi dari situ. Tak lama kemudian muncul lagi seorang yang biasa bekerja di tempat ibadah, seorang Lewi. Ketika ia melihat ada orang tergeletak di pinggir jalan, ia juga menghindar darinya dan segera pergi dari situ.
Beberapa saat kemudian, datang seorang dari sebuah tempat yang di sebut Samaria. Biasanya orang-orang yang berasal dari Samaria ini tidak disukai oleh banyak orang.
Ketika orang Samaria ini melihat ada orang yang tergeletak di pinggir jalan, cepat-cepat ia turun dari keledainya, mendekati dan memriksa orang ini. Kemudian ia membersihkan luka-luka di tubuh orang itu dan mengobatinya. Setelah itu ia menaikkan orang itu ke keledainya dan membawanya ke tempat penginapan, ia juga membayar biaya penginapan untuk orang itu.
Dari ketiga orang itu, menurut adik-adik siapa yang baik kepada orang yang dirampok itu?
Apakah imam, orang Lewi atau orang Samaria?
Mengapa orang Samaria itu baik kepada orang yang dirampok itu? Karena ia tahu bahwa Tuhan mengajarkan untuk sayang kepada semua orang, dan berbuat yang baik kepada siapa saja, apalagi kepada orang yang sedang susah.
Kalau Tuhan mengajarkan untuk mengasihi siapa saja, apakah adik-adik juga harus mengasihi teman yang suka nakal? Tentu saja, harus tetap mengasihinya, walaupun temannya nakal tetapi saat mereka susah adik-adik harus membantunya.
Adik-adik juga boleh membantu siapa saja yang membutuhkan, tetapi jika ada orang yang adik-adik tidak kenal meminta bantuan, adik-adik perlu memberitahukan kepada bapak, mama, kakak, guru atau orang lain yang lebih dewasa.


Cerita Kelas Besar

Siapkan sebuah gambar atau potongan kertas berbentuk hati, gambar hadiah, bunga dan sebuah gambar tangan yang kotor atau sebuah sarung tangan yang kotor.
Apakah adik-adik tahu, (hati) orang biasa mengartikan bentuk ini sebagai simbol apa? Kalau ini (bunga), juga ini (hadiah). Ya semua melambangkan cinta, kasih, dan perhatian.
Sekarang adik-adik perhatikan ini (gambar tangan kotor/sarung tangan kotor), ini melambangkan apa? Orang pasti tidak akan menganggapnya melambangkan kasih atau perhatian, tapi mungkin lebih cocok melambangkan ‘kerja’.
Hari ini kita mendengar cerita perumpamaan Tuhan Yesus tentang orang Samaria yang murah hati. Perumpamaan ini diceritakan Tuhan Yesus untuk menjawab pertanyaan seorang ahli Taurat tentang siapa ‘sesama manusia’ itu.
Tuhan Yesus menjawabnya dengan bercerita.
Ada seorang yang bepergian ke suatu kota. Ditengah perjalanan ia dirampok dan dipukuli habis-habisan sampai ia sekarat dan ditinggalkan tergeletak di pinggir jalan.
Beberapa saat kemudian datang seorang imam, seorang yang tentunya sangat taat beribadah. Ketika melihat orang itu, ia cepat-cepat menyingkir dan berlalu meninggalkannya. Tidak lama kemudian datang lagi seorang Lewi. Orang Lewi itu adalah orang-orang yang ditugaskan untuk melayani di Bait Allah, jadi mereka orang-orang yang selalu ada dalam ibadah-ibadah di Bait Allah. ketika ia melihat orang yang tergeletak itu, ia segera menghindar dan cepat-cepat meninggalkan tempat itu juga, membiarkan orang yang tergeletak itu.
Setelah itu, datang lagi orang Samaria. Pada waktu itu orang Samaria adalah orang yang tidak disukai oleh orang-orang Yahudi, karena mereka adalah orang-orang yang dianggap tidak suci oleh orang-orang Yahudi.
Ketika orang Samaria melihat orang yang tergeletak di pinggir jalan itu, ia merasa kasihan, sehingga ia buru-buru turun dari keledainya dan menghampiri orang itu. ia juga segera mengambil air, membasuh luka-luka di tubuh orang itu kemudian mengobati luka-lukanya dan membalutnya. Setelah itu menaikkan orang itu ke atas keledainya dan membanya ke penginapan. Bahkan ia membayar biaya penginapan dan perawatan untuk orang itu.
Perumpamaan Tuhan Yesus sampai disitu, kemudian Tuhan Yesus bertanya kembali kepada ahli Taurat itu.
Menurut adik-adik, siapakah yang melakukan yang benar terhadap orang yang dirampok, dari ketiga orang tadi? Apakah imam, orang Lewi atau orang Samaria?
Tuhan Yesus mengajarkan kepada ahli Taurat itu dan juga kepada semua orang bahwa mengasihi yang benar adalah seperti yang dilakukan orang Samaria itu, yaitu dengan menolong orang yang membutuhkan pertolongan.
Imam dan orang Lewi itu adalah orang yang selalu beribadah kepada Tuhan, rajin mendengar Firman Tuhan bahkan mereka juga mengajarkan Firman Tuhan, tetapi ada yang kurang, yaitu..... mereka tidak melakukan Firman Tuhan.
Mengasihi itu berarti harus melakukan Firman Tuhan, yaitu melakukan kebaikan kepada orang lain, siapapun orang itu, apalagi jika orang itu membutuhkan pertolongan kita, bahkan kepada orang yang dianggap hina dan kotor sekalipun.
Kasih itu bukan hanya mengatakan yang baik-baik saja, mendengarkan yang baik-baik saja tetapi juga harus melakukan sesuatu untuk kebaikan. Dan saat melakukan sesuatu bisa saja tangan kita menjadi kotor, tetapi jika itu untuk sesuatu yang baik bagi sesama kita, mengapa tidak.
Jadi, apakah tangan/sarung tangan yang kotor juga bisa melambangkan kasih? Bisa, yaitu kasih yang mau melakukan sesuatu, yang mau berkorban.


Alat peraga:

Wayang
gambar peraga


Aktivitas: 

Mewarnai

Cari perbedaan

Maze kata

TTS.


Ayat Hafalan: 

Lukas 10:27b
“...kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."